Lok Pahar; Antara Harapan dan Kenyataan

Sumber Foto : Instagram

673 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca sebuah postingan yang menarik di dinding Facebook saudara Gerald Nabar. Isi postingannya amat jelas yakni ajakan ditujukkan kepada masyarakat Watunggong dan sekitarnya untuk bersama-sama membangun usaha dalam rangka menyelamatkan kawasan hutan Lok Pahar yang terletak di Manggarai Timur. Secara administratif Lok Pahar masuk dalam wilayah perbatasan Poco Ranaka Timur dan Sambi Rampas. Tentu kita patut memberi acungan jempol dan dukungan yang murni terhadap gerakan-gerakan konstruktif seperti ini. Sembari berharap kehendak baik ini kelak membawa hasil yang signifikan bagi keselamatan kawasan hutan Lok Pahar yang kian terancam.  

Berbicara tentang Lok Pahar berarti bicara tentang keutuhannya pada masa lalu dan kerusakannya masa sekarang. Lok pahar yang dulu tentu tidak sama dengan yang sekarang. Apa lacur? Lok Pahar kini sudah berubah rupa. Ia tidak secantik yang dulu lagi. Tidak lagi seanggun yang diceritakan orang tua-orang tua di kampung. Keindahannya semakin terancam. Udara yang sejuk dan segar tidak lagi tercium. Kicaun burung semakin hari semakin sunyi. Singkatnya, Loh Pahar sudah berubah dan fenomena ini bukanlah suatu hal yang menyenangkan.

Memang, selama dua tahun terakhir ini (tercatat sejak September 2017-hingga saat ini) saya tidak lagi melihat kondisi dan situasi di Lok Pahar secara langsung. Kendati demikian, dengan membaca berita-berita online dan postingan dari keluarga dan handai tolan, terbaca dan terpampang secara jelas kondisi kawasan hutan Lok Pahar yang kian kronis. Dalam hal ini, benarlah apa yang menjadi keprihatinan dari Papa Fransiskus dalam ensikliknya Laudato Si: “Saudari ini (baca: Lok Pahar) sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya” (LS 2).

Dengan melihat kondisi Lok Pahar yang nian kritis, masih mungkihkah ia dijadikan sebagai pilihan yang tepat untuk lepas lelah, refreshing bersama keluarga, foto bareng bersama pacar atau kita sebut sebagai suatu tempat dengan panorama alamnya yang indah? Entahlah. Akan tetapi, saya yakin kita semua sepakat bahwa ketika menyaksikan Lok Pahar yang sekarang ini, yang ada hanyalah rasa keprihatinan serentak ada penyesalan. Di sinilah letak kesenjangan antara harapan dan kenyataan tentang Lok Pohor.

Atas nama egoisme dan nafsu serakah yang tinggi dari pihak-pihak tertentu, wajah Lok Pahar yang ayu nan manis kini sudah menjadi keriput dan kering. Deforestasi yang semakin lancar telah melahirkan banyak luka dan penderitaan, sebut saja fenomena krisis air minum untuk masyarakat Watunggong dan sekitarnya. Lebih dari itu, beberapa tahun lagi bisa saja terjadi kawasan Hutan Lok Pahar akan menjadi sebuah padang yang luas sama seperti Gurun Gobi  yang terletak di Tiongkok dan bagian selatan Mongolia.

Eksploitasi terhadap hutan Lok Pahar, makin dahsyat dan hebat tatkala pemahaman kita sangat minim akan pentingnya hutan bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Alih-alih untuk mempertahankan hidup, namun pada saat yang sama kita telah membunuh nasih ribuan anak-cucu kita di masa yang akan datang.

Sekarang ini fenomena Lok Pahar statusnya sudah gawat darurat. Kita tidak boleh diam apalagi menjadi lemah di hadapan segelintir orang yang dengan sewenang-weneng terus memperlakukan Lok Pahar secara tidak adil. Dengan itu, kontrol masyarakat umum harus menjadi sebuah obbligazione (kewajiban) dan kebutuhan demi menyelamatkan kawasan Lok Pahar dan kehidupan banyak orang serta seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya. Selain kontrol masyarakat umum, alternatif lain yang ditempuh adalah menyampaikan “fakta kelam” ini kepada pihak pemerintah atau dinas terkait. Sehingga, mereka pun segera mengambil tidakan tegas dalam menangani masalah ini. Sekadar sharing pengalaman, di Italia (mungkin juga Eropa pada umum), setiap orang tidak punya hak untuk menebang sebatang pohon (jika tidak ada izinan dari pemerintah) sekalipun itu berada di halaman rumahnya.  

Menyelamatkan Lok Pahar adalah tugas kita semua. Pembentukan forum-forum #savelokpahar# adalah suatu langkah baik. Lebih dari itu, kita hendaknya membangun sebuah inisiatif  bersama yakni membangun kerjasama dengan lembaga pemerintah dan dinas tertentu untuk mengadakan reboisasi. Mungkin benar bahwa tidak semudah yang dibicarakan. Akan tetapi, kita coba untuk memulainya. Sebuah perubahan yang besar tentu dimulai dari hal-hal yang kecil dan selalu berjalan tahap demi tahap.

Save Lok Pahar adalah sebuah proyek yang harus direalisasikan. Kita berjuang agar Lok Pahar kembali menyapa kita dan generasi selanjutnya dengan senyumannya yang manis rupawan, dengan hatinya yang segar dan sejuk dan menghibur kita dengan kicuan burung yang merdu. Sehingga jika kawasan Lok Pahar berhasil kita selamatkan, maka  kita pun dengan hati yang bangga mewartakan panorama alamnya yang menakjubkan.

Penulis : Valentinus Robi Lesak|Meka Tabeite|  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *