Lok Pahar yang Indah Terancam Sirna

565 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Edisi Redaksi|Penulis: Erik Jumpar|

Senja di Lok Pahar perlahan-lahan menunjukkan batang hidungnya pada (17/10/19). Pancarannya sangat menawan. Jarum jam bertengger di pukul 17.16 WITA, kami memilih untuk beristirahat sejenak, lalu menepi kuda besi yang kami tumpangi tepat di tepi jalan. Tiga pengguna jalan raya yang datang dari arah berlawanan lebih dulu berleha-leha sembari sesekali berswafoto. Ada juga sepasang anak muda yang sedang memadu kasih saat kami sambangi Lok Pahar. Sesekali mereka cengengesan, mungkin sedang mabuk asmara. Siapa yang peduli.  

Eloknya Lok Pahar yang secara adminstratif masuk di dalam wilayah kecamatan Poco Ranaka Timur dan Sambi Rampas, kabupaten Manggarai Timur menjadi alasan di balik banyaknya pengguna jalan raya yang memilih untuk menepi sejenak. Di sebelah barat jalan raya Ruteng-Elar masuk dalam wilayah kecamatan Poco Ranaka Timur, sedangkan di sebelah timur jalan raya Ruteng-Elar masuk dalam wilayah kecamatan Sambi Rampas. Jangan heran saat kita melewati Lok Pahar, kita akan menyaksikan pengguna jalan raya, entah yang sedang menuju ke Ruteng atau ke Elar yang beristirahat sejenak. Lok Pahar dengan bebukitan yang khas, juga ditumbuhi rerumputan yang akan menguning di musim kemarau, lekas menghijau di musim dureng bakalan mengundang decak kagum para pengguna jalan raya, dan memaksakan pengguna jalan untuk beristirahat sejenak.

Tiba di Lok Pahar, teman perjalanan saya yang sama-sama datang dari kota Borong terdiam membisu. Ia terbuai menyaksikan panorama Lok Pahar yang ada di depan mata. Ia kemudian mengeluarkan hape dari kantong celananya. Kami kemudian berswafoto. Tiga pengguna jalan raya tadi tengah berbincang-bincang dengan logat Kupang yang kental. Mereka rupanya pengguna jalan raya yang berasal dari Pulau Timor. Sesekali mereka kembali berswafoto sembari terus memuji keindahan Lok Pahar. Sementara anak muda yang sedang memadu kasih tadi masih terbuai dalam obrolan demi obrolan tentang cinta. Dua sejoli itu saling bertatap sembari memegang tangan. Romantis sekali. Kehadiran mereka mempertegas desas-desus tentang Lok Pahar yang  katanya jadi tempat favorit untuk memadu kasih.

Suguhan perjalanan dengan topografi yang berkelok-kelok mulai dari Bea Laing, kecamatan Poco Ranaka, lalu susuri Puar Lewe sembari mendengar kicauan nan merdu dari burung-burung di hutan itu, juga terpana dengan tanaman kopi di Colol yang telah merambah pasar dunia, dan Lok Pahar yang elok akan membuat pengguna jalan tidak melupakan begitu saja perjalanan yang dilalui. Jalan raya dengan kondisi aspal yang sebagian besar telah terkelupas membuat perjalanan kami harus ekstra hati-hati. Namun, jangan risau dulu, rasa lelah akibat perjalanan yang menguras energi bakal terbayar tuntas dengan pemandangan sepanjang jalan yang tidak mengecewakan, apalagi saat tiba di Lok Pahar yang membuatmu terpikat.

Lok Pahar dengan pemandangan bebukitan yang indah berada tepat di jalan Ruteng menuju Elar. Perpaduan bukit dengan jalanan yang berkelok-kelok jadi spot foto idaman para pengguna jalan. Lok Pahar menjadi salah satu tempat melepas lelah, berburu senja dan tentu saja sebagai ruang untuk memadu kasih bagi muda-mudi dari desa-desa di sekitar kawasan Lok Pahar. Jangan heran dua sejoli tadi merasa betah berada di Lok Pahar.

Pemotor sedang menikmati keindahan alam Lok Pahar

Di Lok Pahar, kami disuguhkan dengan senja yang sedang memamerkan keangkuhan. Ia terpaksa masuk di antara bebukitan yang menjulang indah, merambat tak beraturan ke sana kemari di antara pepohonan yang bisa dihitung dengan jari. Indah nian. Jepretan demi jepretan kami pilih demi mendapatkan gambar yang diinginkan. Perjalanan kami kali ini tidak sia-sia, sang senja unjuk gigi dengan sempurna. Teman perjalanan saya terus memotret senja yang baru saja tiba.

Lok Pahar tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang indah. Ia juga sebagai sumber penghidupan bagi warga di kampung-kampung sekitar. Dari rahimnya muncul mata air yang menghidupkan warga Watunggong hingga Lengko Ajang. Lok Pahar juga menjadi rumah yang nyaman bagi burung-burung dengan kicauannya yang tentu saja terdengar merdu. Mereka jadikan kawasan yang telah akrab di media sosial itu sebagai tempat untuk berlindung.

Namun, cerita Lok Pahar yang memberikan kehidupan mungkin sebentar lagi akan sirna. Di salah satu sisi di Lok Pahar, ada aktivitas penebangan pohon secara serampangan. Pohon-pohon tinggi telah tumbang  karena ditebang. Padahal dari pohon-pohon itulah sumber air kehidupan mengalir untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk warga di desa-desa sekitar. Dahan-dahan pohon yang sudah ditebang itu jua dijadikan tempat untuk membuat sarang oleh burung-burung yang jadikan Lok Pahar sebagai rumah untuk berlindung dan berkembang biak. Sementara di salah satu tebing ada bekas si jago merah yang mengamuk. Tangan-tangan jahil yang tak bertanggung jawab dalam melestarikan alam barangkali sebagai pemicunya. Padahal Lok Pahar dengan segala pesonanya telah mempersembahkan yang istimewa bagi kita semua. Sayang ia termakan oleh ego manusia.

Pesona Lok Pahar tengah tercabik-cabik. Indahnya Lok Pahar barangkali di suatu masa akan sirna. Cerita tentangnya akan purna termakan keangkuhan manusia yang tak tahu berterima kasih dengan alam. Sebelum terlambat, tidak ada salahnya untuk peduli. Pemerintah daerah harus mengambil sikap secepat mungkin. Biar cerita tentang memburu senja dan memadu kasih selalu ada sampai kapan pun jua. Dan melepas lelah atas perjalanan yang telah menguras banyak energi, yang disebabkan jalan provinsi yang buruknya pakai matipunya dilupakan sejenak, berkat Lok Pahar yang menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata. Mari peduli sebelum terlambat.  

Senja di Lok Pahar yang tertangkap kamera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *