Manggarai: Benci Jadi Cinta!

Manggarai selalu di hati karena yang di hati ada di Manggarai (sumber foto: Google)

 328 total views,  5 views today


Petrus Pit Duka Karwayu|Kontributor

Sebetulnya beberapa hari lalu, saya ingin menulis tema ulang tahun seorang sahabat. Tapi sewaktu membuka dan membaca kembali diari pribadi, saya tertawa sendiri. Betapa konyolnya, bahkan saya tidak pernah sadar, pernah menulis sebuah tema ini dalam diari pribadi, “Orang Manggarai sulit terbuka” (20 September 2013). Saya lupa dalam konteks apa waktu itu, tapi saya pernah menulis demikian. Mungkin karena kalau berjumpa, orang Manggarai lupa menggunakan bahasa Indonesia dan mengabaikan orang-orang di luar klan mereka. Bagi mereka: Natas bate labar, beo bate kaeng, uma bate duat, wae bate teku, “Satu kampung halaman tempat bermain, satu kebun tempat kerja, satu rumah tempat tinggal, satu tempat timba untuk mandi”— atau lebih dari itu, Neka hemong kuni atu kalo, neka oke kuni atu kalo: “Jangan lupa kampung halaman sendiri, jangan buang kebiasaan tanah air”.

Bagi yang belum mengenal orang Manggarai pasti merasa tidak diacuhkan? Saya ingin kasih pemahaman: “Jadi orang Manggarai itu kalau bertemu dengan sesama mereka, kendati mereka bisa berbahasa Indonesia, mereka malu menggunakannya”. Alasannya sederhana, Muku ca pu’u néka woléng curup, téu ca ambo néka woléng lako: “Pisang serumpun jangan berbeda tutur, tebu serumpun jangan berbeda jalan”— nanti tercerai berai. Boleh jadi, itulah mengapa bahasa Ibu mereka, orang Manggarai, tetap lestari (ini catatan buat saya pemuda Alor).

Kembali pada kekonyolan saya tadi. Rasanya, setelah tujuh tahun berselang, saya ingin mengambil sebuah penghapus tinta, agar jangan ada gagasan sentimen itu dalam diari pribadi saya. Tapi sudahlah, hidup itu proses: dari ketertutupan menjadi keterbukaan, dari kesalahpahaman menjadi pengertian, dan dari benci jadi cinta. Dan saya ingin mengutip pernyataan dari seorang kolega, Tara Mangan Momang ali Mangan Cumang, “Sayang ada kalau ada pertemuan”. Dan pertemuan mengandaikan adanya bahasa sebagai mediasi. Jadi syarat tunggal diterima sebagai kerabat orang Manggarai (bukan hanya sekadar teman sepergaulan, namun diterima sebagai “ase-kae”) adalah belajar bahasa mereka. Jangan takut sebagai orang asing, karena walaupun secara antropologis hubungan persahabatan didasarkan pada geneologi, teritori, kesenasipan yang ditentukan oleh darah dan wilayah, namun pada saat yang sama, ada rahasia dalam diri manusia, yakni kemampuan bertransendensi yang mampu menyayangi orang di luar lingkarannya.

Tentang bahasa dan budaya. Saya lupa persis kapan pertama kalinya saya tertarik mempelajari bahasa atau budaya Manggarai. Paling kurang ada empat pengalaman.

Saya memiliki seorang adik namanya Abi yang kalau berbuat salah selalu mengatakan “Jangan marah”. Jangan marah ini adalah bentuk negatif dari “Minta maaf”. Setiap kali kalau dia mengucapkan demikian, saya katakan, “Saya tidak pernah marah. Jadi kalau buat salah, ‘minta maaf’ bukan ‘jangan marah’.”

Suatu saat, ketika saya mengulangi lagi litani tersebut, dia spontan menjawab, “Kakak, dalam bahasa Manggarai tidak ada kata minta maaf, tapi Neka Rabo, jangan marah.” Mendengar jawabannya, saya kaget. Dari mana dia tahu, atau lebih tepatnya, mengapa selama bertahun-tahun saya hidup dengan orang Manggarai, tak seorang pun mengajari saya falsafah ini. Perlu diketahui, saya dan Abi berdarah Maumere, namun adik saya ini sepertinya tahu tentang falsafah Manggarai dari sahabatnya Mira, gadis asal Manggarai.

Pengalaman bersama Abi adalah pengalaman pertama ketertarikan saya pada budaya Manggarai. Apalagi Mira, sahabat Abi, juga kini sudah kuanggap seperti adik sendiri. Mira sering kali mengajari saya bahasa Manggarai, kendati hanya dua frasa yang saya ingat, lempe da’at dan lempe nau. Saya tidak ingin menerjemahkannya. Suatu kali ketika saya berbincang dengan teman-teman di komunitas yang juga seasal dengan Mira, mereka malah mencurigai, saya sedang dekat dengan gadis Manggarai. Alasannya, di komunitas, mereka juga jarang berbahasa Manggarai. Saya maklumi itu, karena mereka pasti bertanya dari mana saya mengetahui kosa kata Manggarai yang kendati belum seberapa. Namun semakin diganggu, saya semakin penasaran. Bukan pada gadis Manggarai, tapi tentang bahasa mereka.

Bagaimanapun, saat itu, tentang Neka Rabo masih menjadi kegundahan. Mengapa sulit merumuskan suatu kalimat imperatif moral dalam nada positif. Misalnya, Neka conga bail jaga poka bokak, neka tengguk bail jaga kepu tengu: “Jangan congkak atau sombong”—mengapa tidak “Rendah hatilah!”; atau Neka mas agu hae ata, neka nggaut agu hae mbaru: “Jangan bermusuhan dengan orang”— mengapa tidak “Bersahabatlah?” Ini tidak berarti bahwa seluruh ajaran moral Manggarai dirumuskan dalam nada negatif. Ada juga yang dirumuskan secara positif. Misalnya, curup hae ubu, neho luju mu’u cepa hae reba cama neho emas lema: “Bersahabatlah baik dan berbicaralah sopan”; atau amanah yang biasa disampaikan orang tua untuk anaknya yang merantau, Lalong bakok du ngon, lalong rombeng du kolen: “Pergi itu satu, pulang bawa banyak”. Atau, Deun lako do bae: “Banyak berjalan banyak pula ilmunya”, Don ita don kole bae*: “Banyak yang ia lihat banyak pula pengalamannya”. Tetapi sepertinya yang mendominasi adalah perintah berupa larangan atau Neka.

Pertanyaan tentang Neka ini terjawab dalam pengalaman saya yang kedua, yakni saat menjadi notulen dalam “International Joint Conference: Doing Theology in the Contemporary Indonesia: Interdisciplinary Perspectives” di Fakultas Filsafat Keilahian, USD- Yogyakarta (02/02/19). Konferensi tersebut melibatkan dua pembicara Dr. Fransiskus Borgias (Universitas Parahyangan) dan Dr. Paul Richard Renwarin (STFT Seminari Pineleng, Manado). Dan tentang Manggarai dipresentasikan oleh Pak Frans dalam makalahnya, Engagement with Traditional “text” Manggarai idea of Moral-self, yang berangkat dari pembacaannya terhadap ide-ide Charles Taylor dalam Sources of the Self. Yang menarik bagi saya kala itu adalah Pak Frans lalu menjelaskan banyak tentang Neka: ekspresi Moral Manggarai dalam bentuk larangan-larangan:

Neka Na’as tombo data nia tutus nai rum: Jangan dengar orang lain, tapi percayalah pada hatimu sendiri. Neka imbis tombo nipi, nia tutus nai rum: Jangan percaya pada mimpi. Neka senget tombo wewet, nia tutus nai rum: Jangan dengar omongan yang melayang tapi dengar kata hati sendiri.”

Dari diskusi yang berlangsung, kami sampai pada kesimpulan bahwa ajaran moral ketimuran, khususnya Manggarai, berfokus pada perubahan perilaku dan tidak semata-mata kesadaran, “Di balik neka tersirat apa yang harus dijaga”. Semua ajaran ini, menariknya biasa diungkapkan dalam go’et semacam peribahasa atau nasihat baik (Toing Di’a), misalnya, Ema agu anak neka woleng bantang (Bapak dan anak jangan beda pendapat).

Singkatnya, pencarian saya akan Neka sudah sedikit terpenuhi. Kekosongan pemahaman saya kini bagai aliran sungai yang dibasuh sinar cahaya pagi hari. Namun saya tidak akan pernah berhenti bertanya, atau mengoreksi konsep awal saya dalam diari pribadi tadi, “Apakah komunitarianisme Manggarai bersifat eksklusif?”

Ini masuk pada pengalaman saya yang ketiga, yakni soal keramahtamahan (roté-ratés) orang Manggarai. Itu terjadi di tahun 2018, ketika Risa, Mahasiswi Yogyakarta tamatan SMAN 4 Borong, bersama kedua kakaknya datang mengunjungi Veri di komunitas. Seperti biasa, Veri meminta saya membuatkan kopi untuk mereka. Sewaktu saya membawa minuman, Risa langsung berdiri dengan rasa bersalah namun penuh terima kasih. Dia katakan waktu itu, “Aduuuh ite, di’a tu’ung!”, sambil menghampiri dan mengambil kopi itu dari tangan saya. Baru saya ketahui setelah itu, ‘ité’ atau dité adalah sapaan hormat dari hau (Kau). Dan seingat saya, hampir semua orang Manggarai di komunitas, kadang tanpa mereka sadari, menyapa saya dengan ité— ada lagi Kraeng Tua. Ada go’et Manggarai berbunyi, Paka di’a gauk, di’a tombo. Di’a ba weki, agu hae ata: “Tunjukkan sikap yang baik, tata cara berbicara serta bawa diri yang baik”.

Sapaan-sapaan hormat inilah yang saat ini saya alami dalam pengalaman saya yang keempat, berjumpa dengan wajah-wajah Manggarai yang masih sangat asli dan primordial di Kota Kupang. Bagi mereka, saya bukan hanya seorang saudara dalam artian institusi, tapi sungguh-sungguh ase-kae. Saya selalu katakan kepada mereka, ase agu ka’e neka woleng tae: “Kakak dan adik tidak boleh berbeda pendapat”, kita harus Nai ca anggi: “seia sekata”. Saya akhirnya sadar, seia sekata, sebetulnya adalah saripati dari Bhineka Tunggal Ika: gotong royong, “satu karya”, satu “gawe”.

Saya ingin menutup dengan sebuah cerita. Beberapa hari yang lalu, saya didatangi seorang Aspiran Ancis Alang, Alumnus SMAK Pancasila Borong untuk berdiskusi tentang perkembangan kekatolikan di Manggarai, lebih tepatnya Ruteng, sehubungan dengan Teologi Inkulturasi.

Dia bercerita bahwa secara historis, jauh sebelum Konsili Vatikan II, para misionaris perintis telah melihat unsur budaya penting dalam proses penyebaran iman di Manggarai. Katakanlah Katekismus dalam bahasa Manggarai, telah ada sejak 1929. Bahkan jauh sebelumnya, P. Franz Dorn, SVD yang menginjakkan kakinya di Ruteng pada 14 April 1922, telah berusaha berkhotbah dalam bahasa Manggarai. Ada juga informasi lain seturut buku yang dia baca, bahwa kehadiran Gereja di Manggarai dibawa P. Petrus Noyen yang datang ke wilayah Manggarai pada Desember 1914, yakni dari Reo menuju Ruteng dan membaptis umat Katolik pertama di Pitak (Wilayah Katedral sekarang).

Usai berdiskusi dengan Ancis, saya langsung bergegas ke kamar mengerjakan hal-hal lain. Namun di tengah kesibukan itu, muncul satu kesadaran, bukankah Allah yang saya imani juga masuk ke dalam ras manusia, berbicara dan berlaku dalam bahasa dan budaya manusia? Unbelieveable!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.