Marsel Rabung: Pengusaha Yang Pernah Sukses

372 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


To Understand The Actual World As It Is, Not As We Should Wish It To Be, Is The Beginning Of Wisdom (Bertrand Russell).

Russell mengajak kita untuk memahami dunia sebagaimana adanya bukan bagaimana seharusnya. Memahami dunia sebagaimana adanya lebih pada keterbukaan diri kita terhadap realitas tanpa harus menjustifikasinya terlebih dahulu. Sedangkan memahami dunia sebagaimana seharusnya adalah dunia yang penuh kayalan yang merupakan hasil proyeksi imajinasi belaka. Dunia dalam hal ini penulis mengartikannya sebagai realitas, menampakkan diri untuk diselami, dipahami, ditafsir dan dimengerti seturut pengetahuan kita. Realitas menampilkan diri apa adanya. Hemat saya, Bapak Marsel Rabung memahami realitas pada zamannya sama seperti yang dikatakan Betrand Russell. Yang walaupun, Bapak Marsel tidak mengenal siapa itu Betrand Peto Betrand Russell apa lagi mempelajari pemikiran-pemikirannya.

Sebagai seorang pemuda yang kegantengannya masuk dalam nominasi standar pada zamannya yang lahir dan dibesarkan di kampung, Marsel memiliki demikan biasa di sapa, memiliki keterbatasan dalam online yang memang ohline. Contohnya handphone. Zaman yang online ohline ini tidak berarti menguburkan cita-cita Marsel untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Yang pada dasarnya, teori menjadi pengusaha sukses sangat gelap kosong di kepalanya. Karena toh, Marsel  lahir  bukan di zaman internet yang canggih seperti saat ini. Tanpa sekolah pun kita bisa mendapatkan susu gratis pengetahuan gratis. Marsel anak zamannya yang serba serbi keterbatasannya.

Bermodalkan pengetahuan matematika tentang kali, bagi, kurang dan tambah, saat mengenyam di pendidikkan di esde dan esempe, Marsel terjun dalam dunia sepak bola usaha. Usaha yang pertama yang dilakoninya yaitu menjual tembakau yang satu karung harganya belum cukup untuk membeli sendal topsi yang top pada zamannya. Menjual tembakau dilakukannya setiap pulang sekolah. Jadi waktu bermain diganti dengan menjual tembakau. Sungguh malang nasibnya. Dia tidak pernah patah hati semangat kendati teman-temannya di sekampung mengolok dan mencemoohnya. Anak ke dua dari tiga bersaudara ini menyadari betul bahwa untuk menjadi orang sukses butuh  pengorbanan. Dari hasil jual tembakau, Marsel sedikitnya meringankan beban orang tua saat mengenyam pendidikan waktu di esempe. Karena dia sadar bahwa ekonomi keluarganya sangat lemah lembut. 

Pria kelahiran 25 Mei 1966 ini, mengalihkan usahanya  dengan membuka kios. Selang 3 tahun, usaha kiosnya membuahkan hasil. Dia membeli  tiga lahan sawah sabagai salah satu bukti dari hasil usahanya. Selain itu, dia melebarkan usahanya dengan membeli hasil bumi, seperti cengkeh, kopi, fanili dan kemiri. Usaha Marsel semakin berkembang dan  tentu labah yang diperolehnya semakin banyak pula. Namun, tidak berarti dengan kesuksesan itu membuat dia lari dari kenyataan sombong. Tetapi sebaliknya dia tetap bermurah hati terhadap orang yang meminta bantuan kepadanya. Tidak mengherankan jika usaha kios yang dirintisnya berkembang menjadi dua, yang satunya di kampung halaman istrinya dan dijaga oleh mama mantunya. Sebagai pengusaha muda, Marsel bisa dikatakan sukses. Sebab, bukti dari usahanya itu sudah mulai dinikmati. Contohnya saja, salah satu lahan persawahan yang dibelihnya dulu dengan harga terhitung murah menghasilkan padi satu ton lebih belum hasil bumi lainnya.

Ayah dari tiga anak ini, mengatakan bahwa jika suatu saat nanti usaha yang dirintisnya itu bangkrut, maka itu tidak membawa dampak yang buruk terhadap kisah cinta perekonian keluarganya. Pada intinya, kita sudah berusaha mengembangkan potensi yang Tuhan berikan kepada kita dan jangan pernah berhenti untuk berbuat baik terhadap sesama. Karena pada dasarnya, apa yang kita diperoleh harus bisa dirasakan oleh orang-orang sekitar.

Baginya, tiga lahan persawahan yang dimilikinya dan belum terhitung warisan orang tuanya sudah lebih dari cukup. Sekarang usaha Bapak Marsel tinggal kenangan di SMANSA Lale.

Memang benar “Jepang hancur karena bom, sedangkan kios hancur karena bon”. Kios dari Bapak Marsel boleh bangkrut, namun buku bon dengan deretan nama pelaku yang panjang di dalamnya masih utuh di dalam laci meja termasuk nama saya sebagai anak sulungnya yang pernah bon rokok Djitoe waktu itu.

Penulis: Waldus Budiman|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *