Apa Mau, Kau Saya Ajak ke Me Bhada?

 669 total views,  2 views today


Fian N|Redaksi

Me Bhada itu di mana le? Me Bhada itu di mana? Me Bhada itu bagus? Me Bhada itu nama tempat atau manusia?

Membaca judul sederhana ini, kepalamu mungkin akan dipenuhi beragam pertanyaan. Yang di dalamnya ada 5 W+ 1 H. Bisa jadi demikian.

Pertanyaan yang sebagian sudah saya tawarkan kepadamu di awal tulisan, merupakan cara saya memantik niatmu untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Me Bhada.

Tulisan ini merupakan sebuah  keisengan yang saya temukan di waktu senggang. Sebab, sudah lama saya punya kerinduan untuk menulis tentang Me Bhada tetapi saya tidak tahu mau memulainya dari mana. Sejarah, nama, dan segala tentangnya, mungkin akan membuatmu merasa bosan. Terus apa yang akan saya bagikan?

Mari, kita mulai. Dan, saya tidak sedang berusaha menjawab pertanyaan di awal tulisan ini. Jika dirimu menemukan tulisan ini seperti menjawab pertanyaan di atas, maka akan saya berikan satu kecupan manis pada kening androidmu (heheheheheh, mau?).

Me Bhada bukan manusia. Dan artinya, dia bukan lelaki dan juga bukan seorang perempuan. Tetapi, dia menjadi lelaki dan sekaligus menjadi perempuan dalam waktu yang bersamaan. Mengapa? Penasaran?

Me Bhada itu sebuah nama sungai yang letaknya di ujung kampung Olakile (tentang Olakile, akan saya bagikan kepadamu di lain kesempatan). Alirnya mengalir jauh. Mencium bebatuan, membentuk kelokkan. Me Bhada, tidak seperti sungai Amazon yang bueeesar sekali itu. Terus apa yang harus saya bagikan kepadamu jika itu hanya sebuah sungai kecil?

Eits, tunggu dulu. Jangan buru-buru untuk memberikan pertanyaan demikian. Sebab, jika saya berikan jawaban atas pertanyaanmu itu, maka tak akan ada lagi yang harus saya bagikan selanjutnya dalam tulisan ini. Masih mau saya lanjutkan tulisan ini toh?

Saya lanjutkan saja ee. Tapi, jangan lupa sediakan secangkir teh jahe, kopi, atau sari kunyit putih atau sari temulawak untukmu jadikan teman bincang sekaligus menangkal Covid-19.

Me Bhada jika diterjemahkan secara ngawur adalah Kerbau Sesak. Mungkin punya sejarah tetapi saya bukan seorang Sejarawan atau Antropolog yang mau memberikan catatan sejarah kepadamu. Pilihan saya adalah membagikan informasi sebisanya.

Me Bhada, sungai kecil, airnya jernih. Oleh karena itulah, kerbau tidak bisa dimandikan di sini karena tidak dalam dan tidak lebar. Sempit tapi memikat semua mata yang meninginkannya. Kedalamannya hanya mampu menenggelamkan keinginan untuk kembali lagi pada esok pagi maupun menjelang senja. Ada kalanya, selepas pulang sekolah, tempat bermain anak-anak adalah di sungai kecil nan mungil ini. Dalam banyak cerita, Me Bhada tidak pernah menenggelamkan atau memakan korban. Hanya, setiap orang yang sudah pernah mandi di sungai kecil ini, akan jatuh berulang kali kepadanya. Airnya hangat bagaikan pelukan seorang ibu kepada anak lelakinya atau seperti pelukan seorang bapak kepada anak perempuannya.

Me Bhada adalah saya kepadamu yang menjadikannya kita. Hal itu nyata pada setiap kesempatan yang dihabiskan di atas bebatuan dan di atas cadas-cadas yang tabah menerima setiap panasnya api saat memanggang ikan, pisang, ubi, maupun ayam. Sebab, ketika berada di Me Bhada, apabila tak ada ritual bakar-bakar seperti yang saya sebutkan di atas, maka sia-sialah perjalananmu ke sini. Semua itu satu paket. Di sini, dirimu tak menemukan kesulitan apa-apa untuk menemukan kayu bakar, semua telah disediakan oleh alam.

Mau, kau saya ajak ke sini? Tempat di mana masa kecil saya tumbuh bagaikan anak-anak pisang. Mati dan tumbuh tanpa disuruh. Dirimu tak perlu bersusah payah mencari dan menemukan kesenangan jika ada bersama saya, semua nyaman. Tak ada tarif apa pun selain ciuman terima kasih dari bibir mungilmu nan manja. Dan, kita sudahi saja dulu perjalanan hari ini sampai di sini. Jika masih ada kebingunan pada dirimu, silakan datang, saya menunggumu di sini bersama Me Bhada, kita habiskan segala yang bisa kita habiskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.