Membumikan (Kembali) Sumpah Pemuda

Sumber Foto: Style.tribunews.com

209 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Edisi Redaksi|Penulis: Anno Susabun|

Kemunculan kaum muda dalam percaturan politik Indonesia pertama kali dinyatakan dalam sebuah momen historis penting pada bulan Oktober tahun 1928 silam. Kongres Pemuda II yang diselenggarakan di Batavia (Jakarta) akhirnya menemukan sebuah titik simpul baru yang kemudian menjadi dasar bagi perjuangan politik bangsa Indonesia, yakni Sumpah Pemuda.

Para pemuda dari berbagai golongan suku, ras, agama, etnis, pulau, dan kebudayaan membangun satu sintesis bersama yang merangkum cita-cita kebangsaan Indonesia. Sintesis bersama tersebut dirumuskan dalam tiga kunci pemikiran; berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu; Indonesia. Bersamaan dengan itu para pemuda mencetuskan sejarah Bendera Merah Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang kita kenal sampai hari ini.

Sumpah Pemuda yang menjadi titik tolak perjuangan kebangsaan kaum muda Indonesia mengandung pesan amat sakral yang tidak tergantikan pada periode selanjutnya. Dengan mengacu pada sumpah tersebut, berbagai gerakan politik kepemudaan lahir dan berkembang untuk memperjuangkan kemerdekaan dari kerangkeng penjajahan. Di bawah payung inspirasi Sumpah Pemuda, lahir misalnya Algemene Studi Grup di Bandung dan Studi Grup di Surabaya sebagai pusat kegiatan politik angkatan muda. Pada masa penjajahan Jepang, pusat pendidikan agama atau pesantren dan lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan, seperti Nahdahtul Ulama dan Muhammadiyah merupakan semacam wadah bagi gerakan angkatan muda di samping ‘gerakan-gerakan bawah tanah seperti yang dipimpin Sjahrir’ (G. Kahin, dalam Sanit, 2015:77).

Konsolidasi Politik

Setelah ratusan tahun tunduk di bawah kendali otoritas kolonialisme, kesadaran sebagai sebuah bangsa mandiri yang harus segera merdeka mendorong kebangkitan berbagai gerakan perlawanan. Berbeda dengan gejolak perlawanan awal yang bersifat kedaerahan, terfragmentasi dan tidak terkoordinasi secara nasional, gerakan perlawanan kaum muda sejak awal tahun 1900-an semakin mengarah pada kesatuan yang terkonsolidasi secara perlahan. Kesadaran akan persatuan menjadi kunci utama.

Sejarah mencatat, pada suatu waktu kaum muda dari berbagai latar belakang menginisiasi suatu pertemuan akbar untuk membicarakan masa depan perlawanan terhadap penjajah. Hal ini lahir dari keyakinan kolektif bahwa melawan secara kedaerahan berdasarkan suku, ras, agama yang terpecah-pecah tidak akan memberikan kontribusi bagi cita-cita kemerdekaan. Dengan kata lain, kesatuan adalah keniscayaan dalam perlawanan bersama.

Konsolidasi politik melalui kesatuan perjuangan pada akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Kemerdekaan dari kolonialisme alhasil dapat disahkan dalam sebuah catatan proklamasi yang digerakan oleh sebagian besar kaum muda Indonesia. Peristiwa 17 Agustus 1945 membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia sudah berdiri sebagai bangsa yang bersatu sembari tetap mempertahankan keberagamannya. Indonesia yang dikenal terdiri atas ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, berbagai macam ras, etnis, dan agama ternyata tetap mampu berdiri sebagai sebuah negara merdeka sampai hari ini.

Ancaman Disintegrasi

Setelah lebih dari tujuh dekade kemerdekaan, hari ini tantangan terbesar yang kita hadapi adalah disintegrasi sosial dan politik. Kemerdekaan sebagai buah perjuangan para pahlawan yang bersatu dirongrong oleh nafsu untuk memecah belah persatuan bangsa. Pelbagai kepentingan pragmatis-individualistik dan politik identitas berupaya meruntuhkan tiang persatuan dengan menghadirkan narasi identitas partikular yang menguasai tatanan ruang publik kebangsaan.

Ancaman nyata disintegrasi bangsa datang dari kaum fundamentalis radikal yang ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi partikular agama. Kepentingan agama tertentu merangsek masuk ke ruang publik lalu mengokupasi wacana di ruang bersama tersebut serentak berusaha menghabiskan eksistensi kelompok lain (liyan). Di ranah politik, kepentingan identitas tertentu ditonjolkan dan kelompok masyarakat (agama) lain dianggap sebagai benalu bangsa sehingga perlu untuk diberangus.

Para pengusung panji fundamentalisme agama begitu yakin bahwa bangsa Indonesia tidak dapat berdiri di atas keberagaman agama, ras, suku, etnis dan budaya. Mereka menginginkan Indonesia menjadi negara berbasis agama yang satu. Dengan kata lain, tidak ada ruang bagi ekspresi agama yang beragam. Padahal, sejak awal, kemerdekaan kita dibangun dengan susah payah oleh para founding fathers sedemikian rupa sehingga mengakomodasi kepentingan semua golongan di bumi manusia Nusantara.

Logika fundamentalisme menandaskan bahwa tatanan politik sebuah negara mesti diukur secara moral etis oleh standar kebenaran absolut agamanya. Implikasinya adalah kebenaran absolut yang diklaim dimiliki oleh sebuah agama dipancang sebagai basis moral etis semua warga negara. Terminologi demokrasi tentu saja tidak tepat untuk menamai rezim yang mau dibangun ini. Sebab, sejatinya hakikat politik demokrasi terafirmasi ketika pluralisme diniscayakan sambil memungkinkan pertautan antara unit-unit plural tanpa ada nafsu menguasai satu dengan yang lain (libido dominandi).

Bersumpah sekali lagi

Mencermati situasi sosial politik yang kian runyam oleh ancaman disintegrasi bangsa, kita perlu bersumpah sekali lagi. Sebagaimana pada masa lalu, sebuah kekuatan sosial dibangun di atas dasar keberagaman yang saling mengakui dan menghargai satu sama lain, sudah saatnya kita bergerak bersama melawan musuh bersama fundamentalisme dan radikalisme.

Sumpah Pemuda adalah warisan sejarah yang bernilai tinggi dan mengandung pesan sakral bahwa meskipun berbeda-beda secara  nyata, Indonesia tetap dapat berdiri kokoh. Sumpah Pemuda merupakan ikhtiar perlawanan terhadap kolonialisme sebagai musuh bersama. Asumsi dasarnya adalah bahwa kesatuan mutlak dibutuhkan agar kekuatan bersama bisa dibangun guna melawan penjajah. Dengan demikian, politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) a la penjajah Belanda tidak lagi efektif.

Jika pada masa pra-kemerdekaan, musuh bersama yang menuntut persatuan seluruh bangsa adalah penjajahan, maka hari ini musuh bersama yang kita identifikasi ada dalam bangsa kita sendiri. Kepongahan fundamentalisme dan radikalisme yang berupaya mengembalikan kejayaan kolonialisme yang menindas harus ditumpas dengan menggali kembali cita rasa persatuan dan kesatuan.

Kita perlu bersumpah sekali lagi atas nama Pancasila dan UUD 1945, bahwa kita adalah anak-anak bangsa yang satu, tanah air yang satu, dengan bahasa yang satu; Indonesia. Persatuan bangsa mutlak diperlukan mengingat ancaman disintegrasi semakin nyata dan gencar di depan muka kita sekalian. Kesatuan perjuangan bangsa Indonesia akan menjadi modal yang kuat sebab tanpa kesatuan, semua golongan dapat mengklaim diri bukan bagian dari Indonesia lalu melancarkan aksi separatisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *