Mencintai Terlalu Dalam dan Kegagalan Memahami Nunduk Secara Menyeluruh

sumber gambar: Boardingarea

531 kali dilihat, 27 kali dilihat hari ini


Osth Junas|Redaksi

Setelah memilih pergi dan berakhir lebih dulu dari urusan hati yang tak kunjung menuai hasil pasti, saya kembali menulis tentang kita (uwa weru; red) yang dengan mudah mencintai seseorang tanpa peduli sejarah yang melekat dalam budaya orang Manggarai.

Jadi begini, memang tidak mudah bagi saya atau pun Anda sekalian menghadapi tantangan hidup di zaman yang serba modern ini atau orang keren bilang revolusi industri 4.0 yang semakin hari semakin cari gara-gara. Tidak kejam-kejam amat, sebenarnya. Salah satu contoh yaitu beragam tawaran menarik dari media sosial berhasil mempermudah kita untuk membangun komunikasi dengan orang baru atau bahkan menjadi satu-satunya jembatan untuk menemukan pasangan hidup baru yang ke sekian. Hal itu memang dinilai positif, selain menghemat tenaga untuk menulis surat, juga menghemat biaya untuk mencetak foto yang biasanya bagi orang tua zaman dulu selipkan setiap kali membalas surat dari pujaan hati.

Kendati demikian, sebagian dari kita dengan mudah menjalin hubungan asrama, eh sorry, asmara tanpa memiliki informasi lebih tentang seseorang yang kita kenal melalui media sosial tersebut. Nama orangtuannya siapa, asal-usulnya dari suku mana, dan seterusnya. Bukankah ini proses perkenalan yang baik untuk mempersempit risiko gangguan mental seseorang dalam suatu hubungan asmara? Ya, to?

Saat ini saya sedang tidak menyalahkan siapa-siapa, sebenarnya. Karena saya memahami tingkat kebaperan kita yang tinggi. Diperhatiin dikit baper, diperhatiin dikit baper! Eh! Giliran ditinggal, ancam bunuh diri. Hadeeeeh…!!

Nah, karena didukung oleh situasi nyaman yang justru melibatkan perasaan itu sehingga seakan-akan memaksa sesorang untuk bertahan menjalin suatu hubungan asmara yang awalnya dibangun melalui komunikasi media sosial selama bertahun-tahun lamanya. Padahal setelah dipikir-pikir masih ada tingkatan yang lebih serius selain urusan perasaan. Misalnya; “pulang ke kampung” dan terlibat dalam mengawasi pengolahan dana desa. Ini kan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Sampai di sini mengerti? Jadi, sebagai pembukaan saya mau bilang media sosial memang mempermudah kita untuk membangun komunikasi dengan orang baru tetapi bukan berarti kita diberi kebebasan untuk menyatakan perasaan kepada seseorang yang mungkin saja orang tersebut merupakan salah satu dari anggota keluarga kita.

Lalu apa kaitannya dengan budaya nunduk?

Oh, ya… Sebelum kita bahas lebih jauh, dalam budaya Manggarai nunduk ini merupakan salah satu istilah yang kalau di-indonesia-kan sesuai konteks itu artinya menilik kembali sejarah atau garis keturunan yang sudah ada sejak lama.

Nunduk biasanya digunakan sebagai media komunikasi orang tua dulu untuk menemukan satu garis keturanan dalam keluarga besar. Ketika Anda menjalin hubungan asmara dengan seseorang, dengan nunduk adalah sebuah jalur yang dipakai untuk memastikan apakah Anda mempunyai garis keturunan yang sama atau tidak. Hal ini adalah solusi penting untuk menghindari perkawinan sedarah.

Fridz Meko, SVD. dalam bukunya yang berjudul Di Simpang Peristiwa, menulis tentang Jejak Luhur di Dinding Hati dan mangatakan bahwa kelahiran manusia sepertinya sebuah kebetulan atas  dasar arus purba yang hinggap sejak dalam rahim nenek moyang, dan terciptalah sebuah kehidupan berantai turun-temurun (hal.33). Dari pandangan ini, saya menggarisbawahi akan pentingnya budaya nunduk selain mempertemukan kembali anggota keluarga juga melatih kita dalam membangun komunikasi yang baik.

Kenapa nunduk penting dalam memulai suatu hubungan asmara?

Jadi begini e, selain kita berpegang pada adat yang berlaku di manggarai yakni jika ada pasangan yang menikah atau menjalin hubungan asmara dari satu garis keturanan yang sama tentu tidak akan mendapat restu dari kedua keluarga besar. Maka dari itu, mulai sekarang tentukan pilihan Anda sekalian, mau membangun komunikasi dengan keluarga besar terlebih dahulu sebelum mencintai lebih dalam atau dibiarkan begitu saja sampai nunduk yang memisahkan kalian. Jangan anggap remeh dengan nunduk sebab sangat mengharukan bila hubungan asmara Anda bisa berujung sampai di nunduk saja. Atau karena kekuatan cinta maka Anda siap menerima risiko menjalin hubungan perkawinan sedarah?

Orang manggarai bilang; cinta kandas karena nunduk. Tentunya wegeng pucu, Gays!

Lebih sakit mana coba?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *