Mencintaimu dalam Diam

809 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Apa yang sempurna dimata kita, tidak seharusnya kita miliki

Cinta terkadang hadir dengan tak terkira, pada siapa kita menjatuhkan hati alias Pa’u nai, kita tidak bisa memilihnya. Begitu pula ketika hatiku memilih si gadis itu sebagai ladang, dimana benih-benih cinta tumbuh. Bukankah sejatinya cinta itu adalah pilihan?
Namanya Siska. Biasa dipanggil Cika. Nama yang bagus, nama yang indah, seindah bola mata dan wajah ayunya. Jika saja Siska dipanggil Sis dan bukan Cika, aku rasa tidaklah pantas. Oleh sebab keanggunanya itu, ia lebih pantas dan cocok dipanggil Cika. Entah apa yang terpikirkan oleh hati ini, sehingga harus terpikat pada gadis itu. Seolah-olah mencintainya adalah bukan sesuatu yang sulit. Meski rasa harus tertanam pada keanggunan Cika, namun nyatanya keadaan seakan menolak. Itulah yang menjadi alasanku mengagumi Cika dalam diam.

Dalam diam, aku menemukan kebahagiaan mencintai Cika. Dalam diam, aku melihat dan memahami segalanya tentang Cika. Dalam diam pula, aku merasa dekat. Namun, sayang! dalam diam itu juga tunas-tunas luka tumbuh dalam hatiku.

Menjelang pukul sembilan belas malam, Cika tiba dengan membawa plastik berlogo sebuah rumah makan cepat saji ternama di Ruteng, padedoang. Itulah hal yang kerap dia lakukan bila kami lembur untuk menyelesaikan laporan penerimaan dan stock barang. Saat menjelang akhir tahun, biasanya perusahaan tempatku bekerja selalu melakukan stock opname. Sebagai salah satu perusahaan dan swalayan ternama di kota Ruteng, tempat kerjaku ini memiliki ritme kerja yang tidak menentu. Menjelang orderan baru turun ke produksi, kesibukanku kerap menguras waktu dan pikiran. Apalagi saat barang datang.
“Makan dulu, biar aku saja yang menyelesaikannya! Kamu perlu Protein untuk mengembalikan staminamu”. Ujarnya sembari mengambil alih tumpukan laporan stock barang dihadapanku.
“Kamu sendiri?”. Aku menatapnya sekilas dan segera memalingkan wajahku dengan cepat sebelum ia melihat wajahku yang selalu memerah bila ada di dekatnya.
“Sudah, tadi aku makan di mobil”.
Aku mengambil makanan yang ia bawa, tetapi tidak menghentikan pekerjaanku. Aku biasa mengerjakan sesuatu sambil makan. Dia mendelik dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak bisa lembur lebih dari jam delapan,” ujarku memberi alasan.
“Bukannya ada mobil perusahaan untuk antar jemput?”
“Kontrakanku jauh, kasihan supirnya.”
“Kamu bisa ikut mobilku.”
“Bukannya tempat tinggal kita berlawanan arah? Kamu di Redong, sementara aku di Rangkat”. Aku menatapnya tak percaya. Dia cuma tersenyum tipis seraya mengangkat bahunya. Dadaku berdesir halus karenanya. Sudah empat bulan ini ia menjadi konsultan di tempatku kerja. Ia hanya datang seminggu sekali. Tepatnya jatuh pada setiap hari selasa. Sejak kedatangannya kemari, jantungku selalu berdegup lebih cepat dari biasanya dan aku selalu berharap selasa adalah besok. Entah mengapa, di mataku Cika begitu menarik. Aku sendiri bingung, tidak biasanya aku langsung tertarik dan menyukai seseorang yang baru ku kenal.
Setiap melihat Siska, perasaanku selalu sulit untuk kukendalikan. Ada hasrat yang menurutku tidak tahu malu saat berada di dekatnya. Aku selalu berharap ia melingkarkan lengannya di bahuku atau membayangkan dia menggandeng tanganku ketika kami keluar makan siang bersama. Keinginan yang benar-benar tidak masuk akal, tetapi selalu membuatku tersipu-sipu dan bahagia membayangkannya.
Aku mulai menyimpan sosoknya di hatiku, setelah kami sering melakukan pekerjaan bersama. Itu karena pekerjaan kami saling berkaitan, aku adalah kepala gudang dan dia perlu data akurat untuk semua barang yang masuk dan keluar dariku. Namun, sejauh ini aku hanya bisa menyimpan perasaanku ini dalam hati saja. Aku hanya bisa mencintainya diam-diam. Mungkin karena kodratku sebagai laki-laki melarangku untuk mengungkapkan perasaan dengan gamblang. Meski zaman sudah berubah, tetapi pola pikirku masih konvensional. Aku merasa tidak malu karenanya.
“Aku dengar dia sudah punya kekasih.” Shopi, partnerku dari bagian ekspor-impor, berbisik tepat di telingaku saat bosku, Ci Lusi memperkenalkannya kepada kami. Aku berlagak tidak mendengarnya.
“Aku dengar juga ia akan segera menikah.” Lanjut Shopi, membuat telingaku semakin memanas. Gadis berdarah Reok barat yang satu ini memang tak kalah manisnya dari Cika. Namun sayang, selain karena namanya yang kedengaran sama dengan miras khas Manggarai “sopi”, lebih dari itu sikap cerobohnya membuat semua karyawan se-swalayan ini selalu merasa tidak nyaman mendekatinya. Namun beda denganku, bagaimana mungkin aku menghindar dari molas Reok barat yang satu ini, sementara dia adalah partnerku. Akh…sudahlah! dia cerewet, aku pun ikut cerewet. Entah orang-orang mengatai ku culun atau bencong sekalipun, bodoh amat. Toh tidak ada yang bisa mengukur dan membatasi tingkat kecerewetan laki-laki dan perempuan. Sebab jika kodrat serta derajat laki-laki dan perempuan itu setara, kenapa laki-laki harus dikatain atau dihakimi jika tingkat kecerewetannya sama dengan perempuan.
“Kamu harus bisa menghilangkan kebiasaan burukmu itu, jangan suka gosip didepanku. Lagian kalupun dia akan segera menikah,Apa urusannya dengan kita?”. Tegasku seakan membantah apa yang dikatakan Sophi. Sejujurnya aku tidak mau mendengar kalimat itu dari mulut Sophie, betapa perihnya.
“Kalian akan sering kerja bareng, hati-hati saja,” lagi-lagi Gadis reok barat yang namanya kedengaran mirip dengan miras itu menggoda.
“Hei, apa hubungannya denganku?” tanyaku dengan mimik sedatar mungkin.
“Aku hanya mengingatkanmu saja. Jangan pernah jatuh cinta pada Wanita yang sudah memilih di mana hatinya berlabuh karena kudengar dia pun telah bertunangan.”
“Sssttt … berisik! Jangan suka mencampuri urusan orang lain,” aku berusaha mengakhiri percakapan. Shopi memang biang gosip. Namun urusan gosip tentang Siska, aku terlalu takut untuk mendengarnya. Mungkin karena aku sudah tertarik saat pertama melihatnya. Selama tujuh bulan mengenal Siska dan cukup sering melewatkan waktu dengannya, aku tidak pernah mendengar dia membicarakan seseorang yang dekat dengannya atau secara tidak sengaja mendengarnya berbicara dengan seorang laki-laki saat bertelepon. Jika dia memang telah bertunangan, aku tidak melihat ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Untuk alasan apa pula dia mengelabui orang lain? Ukh, seharusnya aku tidak perlu pusing memikirkannya! Membuat perasaanku jadi gelisah dan tidak nyaman saja.
Aku jadi ingat saat pertama kali aku tertarik dan menyukai seseorang. Jika tidak salah saat aku SMA. Dan masih di kota yang sama, kota Ruteng. Orang itu adalah Lucia, begitulah nama keren dari Lusi, perempuan dewasa pacar pamanku, Rian. Dia memiliki mata teduh yang mempesona. Sulit sekali meredam rasa kagumku padanya. Jantungku selalu berdegup lebih cepat dari biasanya setiap kali tante Lucia datang menemui paman Rian. Berbagai cara aku lakukan agar bisa melihatnya. Bahkan, dengan mengintipnya saat mengobrol dengan pamanku.
Bila kuingat kembali saat itu, aku merasa konyol dan bodoh. Syukurlah, mereka tidak berjodoh. Jika mereka jadi menikah, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Sudah dua minggu ini Siska tidak datang. Berarti selama dua kali pertemuan ini aku tidak melihatnya. Aku sangat kehilangan dan merindukannya. Keramaian kota kecil ini serasa tidak cukup menghapus galau yang menimpa hatiku. Tidak ada yang bisa ku tanya selain aku juga malu untuk menanyakannya.
Andai aku tidak menyukainya secara diam-diam, tidak akan segelisah ini. Aku bisa meneleponnya dan menanyakan langsung padanya, tetapi statusku saat ini bukan siapa-sipa dan tak lebih dari pengagum rahasianya. Meski kami sering keluar makan siang bersama dan ia kerap mengantarku pulang bila kami lembur, semua itu karena pekerjaan.
“Jika kuhitung, entah sudah berapa kali kamu menarik napas terus. Ada apa, Jo? Akhir-akhir ini kamu sering gelisah dan enggak fokus dengan pekerjaanmu?”. Shopi menyentuh punggung tanganku sekilas. Tatapannya dalam, menanti jawaban.
Aku hanya melempar senyum tipis dan menggeleng. Mana mungkin aku cerita padanya. Mau ditaruh di mana mukaku?***
Aku hampir tak percaya menatap sosok yang saat ini melenggang ke arahku. Tentu saja perasaanku meluap karena bahagia. Dua minggu ini aku sangat merindukannya. Benar-benar merindukannya.
Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Mukaku pun menghangat tiba-tiba. Entah karma apa yang tengah menimpaku sehingga begitu tergila-gila padanya. Seingatku, aku belum pernah menyakiti siapa pun. Putus dengan mantanku setahun lalu pun secara baik-baik, semata karena dia pindah kerja ke luar kota.
“Aku mau mengambil laporan stock opname, sudah selesai, ‘kan?”
Aku mengangguk gugup. Celakanya, tanganku pun ikut gemetar sehingga berkas yang kupegang terjatuh dan berserakan di mejaku. Wajahku pasti telah memucat, apalagi ketika dia membantu membereskan berkas yang berserakan.
“Kamu. Kamu sakit?” tanyanya sembari menatapku.
“Maaf … aku hanya tidak sempat sarapan,” jawabku berbohong.
“Jangan dibiasakan,” ia tersenyum tipis.
“Dua kali pertemuan kamu tidak datang”. Astaga! Sedetik kemudian aku menyesali mulutku yang lancang.
“Ada urusan keluarga”.
Aku cuma manggut-manggut.
“Semuanya sudah beres, ‘kan? Aku harus menyerahkannya segera ke bagian accounting.
“Karena itu kamu datang pada hari sabtu,” aku memberanikan diri menatapnya cukup lama.
“Hhmm …. Kalau begitu terima kasih dan sampai bertemu selasa depan.”
Aku hanya bisa menatap kepergiannya, hingga lenyap dari jangkauan mataku. Ada rasa lega yang membuat rongga dadaku terasa lapang. Sampai bertemu selasa depan, kalimat itu membuat perasaanku membuncah. Tanpa sadar kubuang napas panjang. Cukup keras hingga menarik perhatian Letta yang baru datang.
“Kamu pasti senang.” Shopi mencoba menghidupkan kembali suasana.
“Apa?” Mataku menyipit.
“Banyak Orang yang membuatmu gelisah. Kamu menyukainya, ‘kan?”
“Sssttt … hati-hati! Orang lain dengar bisa jadi gosip,” aku menyikut lengannya.
“Aku tahu kamu menyukainya. Karena menyukainya kamu jadi merindukannya saat dia tidak ada. Aku ….”
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tanganku membungkam mulut ceriwisnya.
“Baiklah, aku memang menyukainya. Puas?”
“Kenapa? Karena dia menarik dan cantik?”
“Yang kamu katakan termasuk di dalamnya,” jawabku setelah berpikir sesaat.
“Tapi, apa yang menurut mata kita baik enggak selalu harus kita miliki, Jo.”
Aku tidak menanggapi kata-kata Shopi. Dengan segera kutinggalkan dia sendiri, sebelum ia menggodaku terus. Saat ini aku sedang berbahagia dan berharap Selasa segera tiba.


“Jangan lupa datang dengan pasanganmu, ya,” ujar Cika sesaat setelah ia masuk ke ruanganku seraya menyerahkan sebuah undangan.
“Undangan siapa?” tanyaku berdebar. Perasaanku benar-benar tidak enak. Sesaat kutatap wajahnya. Ada binar bahagia di sana. Aku berusaha mengenyahkan perasaan tidak nyaman yang menyerbu tiba-tiba di hatiku.
“Aku dan Adrian”. Aku tertegun. Seluruh persendianku terasa lemas. Sesuatu terasa menohok dadaku. Sakit dan membuatku sulit bernapas.
“Selamat,” dengan susah payah keluar juga ucapan itu dari mulutku.
“Terima kasih. Kamu harus datang, jangan sampai tidak.”
Aku mengangguk lemah. Kuberikan senyum kecil. Mungkin ini adalah senyum terburuk yang pernah kuberikan karena penuh kepalsuan. Andai tidak malu, saat ini tangisku pasti sudah pecah. Selanjutnya aku tidak ingin melihatnya pergi hingga kusadari seseorang menyentuh bahuku dari belakang.
“Meski sulit kita harus merelakan seseorang yang bukan takdir kita,” Shopi berujar pelan.
Hanya senyum patah yang bisa kuberikan sebagai ucapan terima kasih untuk penghiburan yang ia berikan. Sedetik kuhela napas panjang. Aku jadi teringat kata-kata Shopi bahwa; “Apa yang sempurna menurut mata kita, tidak harus kita miliki”

Ilustrasi: IndosuarA

Penulis: Jhonsy d’jadang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *