Menenun Demi Dapur Tetap Mengepul

173 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Hampir dua bulan lamanya, kami tergabung di dalam tim enumerator dari salah satu lembaga swadaya masyarakat di Kota Ruteng. Agenda yang digagas untuk evaluasi keberhasilan dari program lembaga non-profit itu dilakukan demi mengukur sejauh mana keberhasilan program dampingan di desa-desa, juga untuk memperbaiki kinerja lembaga ke depannya.

Menariknya, dalam perjalanan ada ragam pengalaman yang didapati saat susuri desa demi desa di pedalaman Pulau Flores, nusa yang begitu indah itu. Naik gunung turuni lembah, lewati jalan berlubang, lalui jalanan yang bersebelahan dengan tebing yang curam, hingga berpapasan dengan berbagai orang di setiap kampung-kampung yang kami datangi.

Bertemu bersama responden dengan berbagai karakternya masing-masing sungguh memacu kami dalam menggali lebih jauh tentang lembaga yang sedang kami evaluasi. Rata-rata responden yang kami jumpai merupakan Mama-mama yang berdiri tegar di balik rumah yang tetap kokoh. Mama-mama di Flores, tiang harapan keluarga. 

Ada makna di balik perjumpaan ketika Mama-mama di pedalaman Flores itu bercerita tentang semangatnya dalam mempertahankan hidup, ada cinta yang terpendar dari hati yang tulus ketika mereka menuturkan semangatnya dalam berusaha agar dapur tetap mengepul, ada tanggung jawab yang mereka pikul demi membesarkan buah hati mereka kala hari dilalui dengan usaha demi mendulang rupiah.

Di Dusun Ri’i Desa Bea Mese Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai, kami bertemu dengan responden yang rutinitas sehari-harinya sebagai penenun. Menariknya dalam obrolan usai kami melakukan wawancara, responden kami ini dengan lugas menceritakan kesehariannya sebagai penenun. Ada berbagai ragam cerita tentang hidup yang Ia bagikan kala kopi sudah diseduh di dalam cangkir.  

Dalam penuturannya, Ia menandaskan bahwa untuk bertahan hidup pada tempat tinggalnya, perempuan harus bisa menenun. Tanpa keahlian dalam menenun niscaya bisa mendukung dapur tetap mengepul. Karena itu, menenun menjadi keharusan bagi ibu rumah tangga yang ada di desanya.

Bahkan, di kampungnya, ada salah satu penenun yang berasal dari Borong, Manggarai Timur. Sebelum Ia tinggal di Dusun Ri’i, Ia tidak bisa menenun sama sekali. Namun karena tanggung jawab sebagai seorang ibu, Ia belajar secara otodidak. Saat ini, Ia menjadi salah satu penenun yang produktif di dusun kecil tersebut.

Sembari menunggu suguhan makan siang, Mama tua itu menceritakan bagaimana perannya dalam mendukung sang suami dalam membesarkan buah hati. Baginya, dengan menenun Ia turut membesarkan buah hatinya dengan mengambil jalan hidup sebagai perempuan penenun. Ada harapan saat pagi datang lalu disambut dengan memulai aktivitas untuk menenun, ada  rupiah saat tangannya yang mulai keriput memintal benang demi benang hingga menjadi sebuah kain, ada cinta saat senja datang ditutupi dengan cerita bahwa motif kain perlahan-lahan telah terbentuk dengan peluh yang membasuhi wajah.

Pada bulan-bulan tertentu, saat aktivitas di ladang sudah tuntas dikerjakan, mereka mampu menghasilkan dua kain songke. Dari dua kain songke yang dihasilkan akan dibandrol dengan harga yang lumayan tinggi. Hasil yang didapati mampu membeli kebutuhan pokok rumah tangga dan mendukung biaya pendidikan buah hati mereka.

Dari penuturannya, menenun sebagai kewajiban yang harus dilakukan perempuan di sekitar tempat tinggal mereka. Jika Bapak-bapak bekerja di tempat lain sebagai buruh kasar, tukang kayu atau menjadi pengendara mobil, sementara Mama-mama di rumah akan terus menenun. Menenun tidak hanya menjadi pekerjaan sampingan, tetapi menenun sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga. 

Mentari kian meninggi, santap siang pun disuguhkan. Cerita-cerita tentang hari-hari yang mereka lalui terus berlanjut. Raut wajah dari Mama yang tadinya kami wawancarai tampak berseri-seri. Sekilas tidak terlihat ada beban yang sedang dipikul, justru pancaran optimisme terlihat saat kata demi kata terucap dari mulutnya. Menu makan yang tadinya ala kadar terasa menggoncang lidah saat dicampuri dengan obrolan hangat dari keluarga yang kami sambangi.

Pembaca Tabeite, perlu kita sadari, bahwa Mama-mama ini juga sebagai benteng terakhir dalam upaya melestarikan budaya daerah. Tentu tak asing di telinga kita, di daerah Kecamatan Cibal kian lama terkenal dengan produksi songke dengan ragam motif yang unik. Di balik semangat mereka untuk mendulang rupiah, ada harapan yang tersirat tentang salah satu kekayaan tanah Congka Sae yang tidak akan tergerus zaman. Tidak berlebihan, kalau kita angkat topi dengan seluruh kerja keras dari Mama-mama yang konsisten dalam menenun.

Tugas pemerintah cukup mendorong agar semangat mereka dalam menenun tidak lekas redup. Begitu penting adanya andil pemerintah dengan memberikan dukungan melalui kebijakan yang menguntungkan para penenun. Kalau pemerintah tidak sanggup melahirkan kebijakan, minimal mereka mencari pasar dalam dan luar negeri. Biar hasil tenunan Mama-mama di pedalaman Manggarai semakin dikenal di pasaran. Harganya semakin tinggi, penenun juga hidup sejahtera.

Mentari kian merangkak jauh, sang waktu di hari itu membawa kami untuk pamit dari dusun kecil nan-sunyi. Sungguh dusun itu telah memberikan banyak pelajaran tentang perjuangan demi meraih hidup yang lebih baik. Cerita tentang harapan di balik rutinitas sebagai penenun membawa imajinasi kami untuk melangkah jauh, tentang semangat hidup yang tak boleh redup.

Akhirnya, kita ditakdirkan menjadi pemenang atas kehidupan kita sendiri. Barangkali dengan menekuni setiap karya-karya kecil akan melambungkan prestasi diri. Demi mewujudkannya, kita hanya punya modal untuk tetap konsisten dalam berkarya, bak Mama-mama tangguh di Dusun Ri’i yang terlihat anggun saat memulai rutinitasnya sebagai penenun, saat mereka menenun demi dapur tetap mengepul.

Penulis: Erik Jumpar|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *