Mengenal Hipatios Wirawan, Pengacara Muda Asal Manggarai di Jakarta

1,298 kali dilihat, 127 kali dilihat hari ini


Itok Aman|Redaksi|

Hipatios Wirawan, sering disapa Wira, adalah pria sederhana asal Manggarai yang berkiprah di Ibukota Negara, DKI Jakarta. Perjalanan hidupnya di Jakarta penuh lika-liku. Pria berkumis dan berjenggot tebal ini kini berkiprah di dunia hukum dengan mendirikan Kantor Hukum Gamaliel Law Firm.

Belum lama menekuni dunia hukum, Wira sudah berani menangani perkara-perkara yang tak biasa. Salah satu keunggulan yang dimilikinya adalah membela orang-orang lemah untuk mencapai keadilan. Dia bekerja tanpa mengharapkan imbalan uang. Baginya, yang terutama adalah kemerdekaan orang-orang yang menjadi korban tindak pidana.

Sebelum menekuni dunia hukum, Wira pernah mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat. Saat itu, dia berhasil meraih posisi runner-up di Partai. Namun, sayangnya Partai yang mengusungnya tidak melampaui ambang batas parlemen.

Sebelum terjun ke politik, Wirawan pernah menjadi wartawan nasional di Ibukota. Hipatios adalah wartawan muda yang sangat tertarik dengan isu-isu hukum, politik, demokrasi dan kemanusiaan.

Pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Nasional Jakarta ini sangat aktif bersosialisasi. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif dalam organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua KMK Universitas Nasional. Setelah menyelesaikan masa jabatannya, ia kemudian terpilih melalui pemilihan umum, sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Hukum (Himakum) Universitas Nasional. Ia juga mendirikan Front Mahasiswa Hukum Indonesia (FROMHI) pada tahun 2014.

Selain aktif di beberapa organisasi, Wira dikenal cerdas. Saat kuliah, ia dipilih mewakili Universitas Nasional dalam lomba Debat Konstitusi Nasional antar Perguruan Tinggi se-Indonesia yang diselenggarakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selain itu, ia mewakili Universitas Nasional dalam Lomba Debat Bahasa se-jabodetabek di Jakarta. Ia juga mewakili Universitas Nasional dalam Kelas Politik Cerdas Berintegritas (PCB) yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja sama dengan Yayasan Satunama Yogyakarta. Ia terpilih sebagai peserta terbaik kelas Politik Cerdas Berintegritas kategori mahasiswa.

Sebagai Mahasiswa Idealis, Hipatios punya segudang mimpi besar. Meskipun masih sibuk kuliah dan aktif di organisasi, pada tahun 2015, ia mendirikan media online Kabar Nusantara (www.kastra.co). Ia mengajak beberapa temannya untuk bergabung dan mulai menulis. Sejak saat itu, ia mulai membangun relasi dengan berbagai pihak, baik itu politisi, birokrat, akademisi maupun aktivis-aktivis di berbagai daerah. Pada tahun berikutnya, ia mendirikan salah satu media lokal (Melanesiahotnews.com) yang fokus menyoroti Indonesia Timur, terutama Papua dan NTT. Jaringannya semakin terbuka lebar dan menjadikannya lebih percaya diri dan mudah beradaptasi dengan siapapun.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum dengan mendapatkan penghargaan sebagai lulusan terbaik (Cum Laude). Ia pun menerima penghargaan bergengsi berupa piagam dan Cincin Emas yang disematkan langsung oleh Rektor Universitas Nasional Jakarta.

Setelah menamatkan pendidikannya, ia melanjutkan pekerjaannya sebagai wartawan di media yang dibuatnya sendiri. Ia bertahan tanpa pemasukan yang jelas. Namun, ia percaya, kerja keras tidak akan sia-sia. Ia tidak menyerah karena uang. Namun, ia mencari jalan supaya media yang didirikannya tidak bubar.

Ia memutuskan untuk bekerja di salah satu media Nasional di Jakarta. Karena punya pengalaman sebagai wartawan, ia langsung diterima dan ditugaskan menjadi wartawan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di tempat kerja yang baru gajinya terhitung besar. Sayangnya, setelah beberapa bulan bekerja, ia sakit dan memutuskan untuk istirahat.

Dari hasil kerjanya, ia bisa mempertahankan media yang didirikannya. Kemudian ia mendirikan perusahaan media, PT Cahaya Berita Nusantara. Ia mendapatkan bantuan dari pihak lain untuk mendirikan perusahaan tersebut.

Setelah memiliki perusahaan, ia memutuskan untuk bergabung di partai politik. Ia bergabung bersama Partai Hanura. Motivasinya sederhana, ia ingin berjuang dari dalam ketimbang menggonggong dari luar. Ia menyakini, kalau ingin mengubah sistem maka harus masuk ke dalam sistem tersebut. Kritik dari luar seperti Harimau tanpa Gigi.

Di Partai Hanura, ia dipercaya untuk menjadi calon DPR RI dari daerah pemilihan 7 Jawa Barat. Ia mewakili kepentingan masyarakat kecil, seperti petani, nelayan, buruh, pedagang, sopir, driver gojek dan kaum minor lainnya.

Sekarang, dia menyadari bahwa politik itu mulia. Namun, cita cita mulia itu terhalang karena biaya politik yang tidak sedikit. Karena itu, Ia memilih untuk melalui jalur independen jika ingin terjun lagi ke arena politik. Dengan harapan akan menekan biaya politik yang sangat mahal. Ia memilih maju sebagai calon independen dengan mencari figur non partai juga (independen). Wira menghabiskan masa pendidikan dasar dan menengahnya di Manggarai. Usai menyelesaikan pendidikan dasar di SDI Ruang pada tahun 2005, ia melanjutkan pendidikan menengah di Seminari Pius XII Kisol selama 6 tahun. Setelah itu, ia melanjutkan masa Postulan di Biara Serikat Maria Montfortan (SMM) di Carep, Ruteng Manggarai. Pada Tahun 2012, ia mengundurkan diri dari Biara dan Melanjutkan Pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Nasional Jakarta.

Ia berharap, mimpi besar dan niat tulusnya berjuang demi kepentingan masyarakat kecil dapat tercapai. Karena itu, ia sangat mengharapkan dukungan masyarakat Manggarai, khususnya kaum Milenial atau generasi muda untuk bekerjasama membangun Manggarai dengan cara yang baru sesuai dengan perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *