Mengenal LomPONGite: Usaha Kuliner Anak Muda Manggarai di Ibu Kota

 2,188 total views,  1 views today


Erik Jumpar|Redaksi

Merintis usaha kuliner di ibu kota negara bukanlah perkara mudah. Rasa percaya diri sebagai perantau dari pedalaman Flores menjadi salah satu rintangan. Mampu bertahan hidup dari hari ke hari saja sudah jauh lebih dari cukup, apalagi untuk membuka usaha kuliner, tentu membutuhkan nyali yang tidaklah kecil.

Seonggok perasaan di atas sempat melanda Aris Wiki Tea, anak muda yang berasal dari Kampung Lalang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Ia bersama empat temannya merintis usaha kuliner dengan nama LomPONGite, sebuah konsep usaha kuliner dengan memasukkan unsur lokal Manggarai di dalamnya.

Semenjak Aris mulai mengenalkan tentang LomPONGite, di kepala saya langsung muncul pertanyaan perdana terkait alasan pemilihan nama LomPONGite. Aris mengerti arah pertanyaan di kepala saya, dengan detail ia menjelaskan deskripsi tentang LomPONGite.

Lompong dalam Bahasa Manggarai berarti makan, sedangkan ite merupakan panggilan yang paling santun untuk orang Manggarai, entah untuk memanggil orang yang umurnya lebih tua atau muda,” jelasnya di awal percakapan di WhatsApp.

Tak lupa, di sela-sela mendeskripsikan tentang LomPONGite, Aris menyinggung tentang penulisan pong di dalam kata LomPONGite yang memakai huruf kapital.

Pong dalam Bahasa Manggarai berarti hutan. Hutan identik dengan ketenangan, ada banyak sumber kehidupan yang mengalir dari dalam hutan, seperti mata air yang memberi kehidupan bagi manusia,” jelasnya.

Saat diberikan pertanyaan soal alasannya membuka usaha kuliner di ibu kota, Aris meyakinkan bahwa saatnya anak muda untuk keluar dari zona nyaman. Menyerah dengan keadaan hingga membuat kita enggan mengayunkan langkah, sangat tak baik menurut salah satu perintis LomPONGite ini.

“Kami ingin menunjukkan kepada teman-teman di luar sana, bahwa kita yang masih muda harus berani untuk keluar dari zona nyaman,” jelasnya lebih jauh.

Aris menandaskan bahwa semua orang bisa berkarya di ibu kota. Baginya, tak perlu risau dengan latar belakang kita sebagai anak kampung, ibu kota adalah lapangan terbaik dalam mencetak gol yang kita inginkan.

“Ibu kota adalah kota peluang. Sembilan puluh persen orang bisa sukses, sembilan puluh persen orang bisa gagal, tergantung kita memilih untuk bertarung pada pilihan yang mana,” lanjut Aris.

Semakin jauh dalam membangun percakapan, saya berasumsi bahwa Aris termasuk anak muda yang optimis. Semangatnya dalam membuka usaha dengan jaringan yang telah lama dirintis mendorongnya untuk terjun bersaing dengan pengusaha lainnya yang lebih dulu terjun ke dunia kuliner.

“Saya optimis dengan kemampuan dari teman-teman di LomPONGite. Dengan strategi yang kami pakai, kelak kami bisa bersaing dengan warung-warung yang sudah lama dikenal oleh pasar,” tulisnya.

Dengan memilih nama dari Bahasa Manggarai, mereka juga hendak memamerkan kekayaan alam dari tanah Congka Sae. Menu makanan dan minuman yang mereka suguhkan, sebagian bahan-bahannya diambil dari tanah Manggarai.  

“Kopi dan beras yang kami pakai dari Manggarai. Kemungkinan besar ikan cara akan menyusul jadi salah satu menu utama,” tanggapnya.

Saat disinggung terkait cara mereka membunuh rasa percaya diri sebelum merintis LomPONGite, toh merintis usaha di ibu kota saingannya amat berat, Aris menanggapnya penuh optimis.

“Kami  hanya bermodalkan tekad saja. Sebab, tekad merupakan senjata utama dalam upaya untuk bertahan hidup,” tanggapnya.

Aris percaya dengan sumber daya yang dimiliki oleh tim LomPONGite. Menurutnya, kegagalan utama kita selama ini disebabkan oleh kerisauan yang ada di dalam pikiran. Kerja-kerja untuk mempertahankan hidup harus memberanikan diri untuk membunuh rasa takut yang muncul di dalam pikiran.

Aris juga menginformasikan kalau menu makanan yang mereka suguhkan dijamin enak. Perpaduan cita rasa Manggarai, ditambah dengan olahan yang berkelas, dijamin akan mengguncangkan lidah dari para pencinta kuliner. 

“LomPONGite jamin menu makanannya enak. Ada ikan kuah asam, ikan goreng dan ayam goreng. Harga terjangkau,” tanggap Aris saat diminta komentarnya tentang menu makanan dari LomPONGite.

Setelah merintis LomPONGite, Aris dengan teman-temannya hendak menyampaikan pesan bagi anak muda Manggarai, tentang pilihan untuk bertahan hidup dengan tidak melacurkan diri pada pilihan hidup yang berbau negatif.

“Kami hendak menyampaikan ke teman-teman muda tanah Manggarai, supaya keluar dari zona nyaman. Kita kuliah tidak mesti mencari lapangan pekerjaan, bisa saja kita membuka usaha sendiri, toh saat sekarang media sosial sangat membantu kita,” jawab Aris lebih jauh.

Sekadar informasi, LomPONGite beralamatkan di Jln. Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Untuk pemesanan, bisa menghubungi Aris dengan kawan-kawannya. Mereka dengan senang hati melayani pemesanan dari pelanggan, tetapi jangan tanya status mereka, masih jomlo atau tidak, tak baik soalnya.

Di puncak percakapan, Aris menginformasikan kalau seluruh tim LomPONGite masih jomlo. Jujur, saya sedih saat membaca informasi tersebut. Pasalnya, saat mengirim pesan demikian, Aris mengirimkan emoticon sedih.

Akhirnya, bagi teman-teman Flobamora yang masih berjuang di Ibu Kota, jangan lupa mampir di LomPONGite. Cita rasa masakannya akan membawa pikiran kita terbang menuju kampung halaman.

4 thoughts on “Mengenal LomPONGite: Usaha Kuliner Anak Muda Manggarai di Ibu Kota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.