Mengenal Permainan Banga, Permainan Tradisional Orang Manggarai

 808 total views,  1 views today


Erik Jumpar|Redaksi

Kabar baiknya, di tahun corona ini, hasil buah kemiri di kampung kami cukup menggairahkan. Sementara kabar buruknya, harga kemiri di pasaran sedang anjlok. Petani risau. Padahal dengan buah kemiri, mamatua-mamatua di kampung menggantung harapan demi dapur tetap mengepul. Apadaya saat-saat sekarang, harga kemiri di Kota Borong makin turun. Mereka tak banyak pilihan selain tetap menjual jerih payahnya, sembari tetap berharap agar harganya lekas meninggi.  

Di musim buah kemiri seperti sekarang, saban sore kita akan menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Hampir setiap sore setelah pulang dari kebun untuk mengambil buah kemiri, anak-anak desa akan lalui senja secara bersama-sama sesaat sebelum mereka kembali menjemput malam. Di wilayah Kecamatan Rana Mese, ada salah satu permainan favorit di saat musim kemiri seperti sekarang ini, namanya permainan banga.  

Banga merupakan salah satu permainan tradisional. Pada permainan tradisional ini, buah kemiri dijadikan sebagai media utama dalam permainan. Permainan banga dilakukan di halaman rumah warga yang ukurannya lebih luas, bisa juga dilakukan di halaman rumah adat. Orang Manggarai menyebut tempat bermain di halaman rumah dengan sebutan natas. Selain tempat untuk bermain, natas dapat berfungsi sebagai tempat untuk menjemur hasil panenan dari ladang. Termasuk kemiri.

Jumlah pemain dalam permainan ini sebanyak tiga sampai enam orang, tergantung kesepakatan dari seluruh anak-anak yang bersedia bermain dan telah menyiapkan biji kemiri, tentunya. Sedangkan jumlah kemiri yang disiapkan dari masing-masing pemain sebanyak sepuluh sampai dua puluh, sesuai dengan kesepakatan dari masing-masing pemain. Bahkan di suatu sore, anak-anak di kompleks kami, jumlah kemiri yang mereka mainkan sebanyak lima puluh biji.

Sebelum memulai permainan, salah satu di antara mereka akan membuat arena permainan. Arenanya berbentuk lingkaran. Lingkarannya digaris menggunakan batang kayu di atas tanah datar tak berumput. Setelah lingkaran sebagai arena bermainnya dibuat, turut dibuat garis pembatasnya. Garis pembatas ini dibuat dengan jarak sekitar 200 cm atau lebih tepat di depan lingkaran yang telah dibuat.   

Setelah seluruh arena permainan sudah dibuat, buah kemiri dari masing-masing pemain akan diletakan di dalam lingkaran. Biji kemiri diatur serapi mungkin. Aturan lain dalam permainan ini yakni semua pemain harus berdiri secara berjajar, kemudian masing-masing pemain akan melempar erang dengan aturan utama melewati garis pembatas.

Jauh sebelum kita melangkah lebih dalam membaca artikel ini, jika di dalam permainan catur salah satu anak catur dijadikan raja, maka dalam permainan tradisonal ini, erang merupakan biji kemiri yang disiapkan untuk melempar ke dalam lingkaran yang telah dibuat. Jumlah erang sebanyak dua biji. Biasanya erang diambil dari biji kemiri yang memiliki ukuran yang lebih besar juga bobotnya lebih berat dari jenis kemiri yang lain.

Jika salah satu pemain melempar erang tak melewati garis pembatas, maka ia akan melempar erang menuju lingkaran dalam kondisi mata tertutup. Sementara pemain yang melewati garis pembatas, mereka akan melempar erang dalam kondisi mata terbuka. Ketika melempar erang ke dalam lingkaran, pemain akan  melangkah kaki kanan ke depan sebanyak satu langkah. Tangan kanan diangkat ke atas tepat di samping kepala, lalu diayunkan ke belakang, kemudian diikuti dengan melempar erang ke dalam lingkaran.

Lempar erang/foto; dokumen pribadi

Pemain yang cekatan akan mampu melempar erang tepat di dalam lingkaran. Apabila lemparannya tepat sasaran, diikuti pula dengan biji kemiri yang keluar dari dalam lingkaran, maka terlebih dahulu si pemain mengambil biji kemiri. Ia pun akan melihat posisi erang-nya berada, lalu kembali melempar erang ke dalam lingkaran. Ritmenya akan berlangsung demikian, hingga erang tak tepat sasaran saat di lempar ke dalam lingkaran.

Sementara di sisi lain, saat si pemain melempar erang ke dalam lingkaran, dan apabila erang tidak berpindah atau tetap berada di dalam lingkaran, sementara ada biji kemiri yang keluar dari dalam lingkaran, maka dalam permainan ini dinamakan banga. Si pemain akan didaulat sebagai pemenang. Ia akan mengambil semua biji kemiri yang ada di dalam lingkaran tadi.

Dalam permainan ini, ada juga istilah yang dinamakan tote. Tote berlaku jika ada biji kemiri yang keluar dari dalam lingkaran, sementara posisi erang berada tepat di garis lingkaran. Dalam kondisi ini, salah satu pemain akan melakukan tote. Ia akan menggunakan erang-nya untuk mengeksekusi jalannya proses tote. Setelah di-tote, pemilik erang kembali melempar erang ke dalam lingkaran tadi.

Sekarang dengan revolusi digital yang kian menggeliat, permainan tradisional perlahan-lahan ditinggalkan. Anak-anak dihadapkan dengan pilihan untuk mengakses permainan yang ada dalam aplikasi Play Store pada gadget-nya masing-masing, lalu mengunduh permainan yang digandrungi.

Sampai sejauh ini, saya selalu berharap agar anak-anak di kampung-kampung masih bertahan dengan permainan yang ala kadarnya. Meski sederhana dan tertinggal dalam keadaan, akan selalu istimewa dalam ruang kenangan.

1 thought on “Mengenal Permainan Banga, Permainan Tradisional Orang Manggarai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.