Mengenal Silo Rende Musisi Dari Kota Komba

 2,005 total views,  2 views today


Apek Afres|Redaksi

Gaeess, apa kabar? Semoga sudah berdampingan dan saling mendampingi, bukan milik orang lain. Ingat! Kalau belum berpasangan, jangan paksa diri. Semua akan indah pada waktunya. Kalau belum indah, berarti belum waktunya.

Jika ada yang masih setia mengagumi orang lain, lakukan. Itu manusiawi. Asal jangan sampai lupa mengagumi diri sendiri. Sebab setiap kita punya hakekat hidup. Semua manusia itu berguna, tetapi ada beberapa yang membatasi kegunaan dirinya. Tinggal dipilah, kita bagian yang mana? Asal jangan lupa berdoa. Satu-satunya cara berbincang dan mengopi semeja dengan Tuhan adalah dengan berdoa.

Sebab doa selalu punya kekuatan untuk membunuh keraguan, punya caranya sendiri untuk meredam ketidakmungkinan.

Doa, cinta, dan hidup. Laksanana musik, ada resonansi yang mengatur irama agar adanya kematangan komposisi. Pada langkah menuju seberang jauh, ada suka dan duka memanjakan imajinasi dengan beragam rasa yang berkolaborasi dengan disatukannya dalam lirik-lirik lagu.

Bangkee..!!! Terlalu banyak basa-basi…! Ok, let’s we start to the topic, with kopi senja yang kau aduk dengan hati. Eaa eaaa eaa…!!!!

Setiap kita memiliki kesukaan termasuk mendengarkan lagu dengan genrenya masing-masing. Di balik lagu yang kita suka ada yang bekerja keras untuk merangkum berbagai filosofis ke dalam bentuk syair dan bunyi-bunyian yang bersenandung makna. Siapa-siapa sih mereka? Pasti banyak. Namun, sa akan menceritakan seseorang kepada teman-teman. Dia cukup terkenal dengan lagu-lagunya. Siapa, sih? Jangan terlalu penasaran! Santuy. Sudah berapa teguk kopi yang kau aduk? Awas dingin. Ayo, seruput. Cukup sikap mantan saja yang dingin. Jangan kopi. Atau kalau memang kamu suka kopi yang dingin, tapi tolong jangan dingin dalam pertemanan kita. Prettt…!!!

Ada seorang musisi muda dari Kota Komba, Manggarai Timur. Saking cintanya dia dengan daerahnya sendiri, ia melestarikan bahasa daerah melalui lagu-lagunya yang ia lantunkan dengan takaran pas untuk pendengar setianya. Pengagum patah hati yang paling banyak. Sesuatu yang baru sering datang dengan kejutan yang menyenangkan. Termasuk syair dan suara epik, termasuk lagu-lagu yang disatukan lewat musik. Demikian juga pemuda tampan yang satu ini.

Pemuda dengan nama asli Yustinus Silo Jebarus ini lebih dikenal dengan nama Silo Rende. Rende adalah nama kampung asalnya. Mungkin juga karena nama kanal yutub-nya, juga mungkin karena dia menulis Silo Rende sebagai watermark di setiap klip video lagu-lagu karyanya. Dalam perbincangan tengah malam via WhatsApp, ia bilang, Ia ingin namanya mudah diingat dan dikenang.

“Saya ingin nama saya mudah dikenang sekaligus membantu memudahkan orang-orang untuk mencari lagu-lagu saya di Yutube.”, tuturnya.

Sekarang Ia menjadi guru (PNS) Seni Budaya di SMA N6 Poco Ranaka. Setelah menyelesaikan studi strata satu di UNIKA Widya Mandira kupang.

Tugasnya sebagai guru tentunya mengajar dan mendidik siswa, sibuk urus soal, urus siswa yang nakal, urus berkas-berkas sekolah tanpa mengurangi niatnya untuk menciptakan lagu. Hobby memang menguasi.

 “Memang kalo soal hobi e Apek, keinginan untuk terus berkutat sangat kuat e”, tuturnya ringan.

Pokoknya lagunya keren-keren, Gaesss. Teman-teman harus dan mesti mendengar lagu-lagunya. Ada rindu yang tertumpah, ada hati yang terasingkan, ada cinta yang menggebu-gebu, dan ada “rumah” situasi yang menceritakan banyak hal tentang hidup.

“Kira-kira berapa lagu su yang kae ciptakan e?” saya melempar pertanyaan lewat obrolan itu.

“Sudah banyak e, Ase. Saya sudah menciptakan ratusan lagu. Hanya 32 lagu saja yang sudah ada di Yutub. Ada yang judulnya; Molas Manggarai, Tenang Beo, Lako Pala, Lako Cama, Tenang Ite Kanang, Momang, Mora, dan beberapa lagi,” balasnya.

“Saya hanya mencoba untuk menampilkan yang terbaik untuk penikmat karya-karya saya di yutub”, katanya.

Saya pernah mendengar seseorang bilang begini, setiap seniman menghasilkan karya-karya yang tidak jauh dari kehidupan mereka. Laksana buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, sebuah karya diturunkan tidak jauh dari pengarangnya.

“Motivasi mengarang lagu, bisa jadi terinspirasi dari kehidupan di sekitar termasuk dari kisah Ka’e sendiri, salah satunya patah hati, atau bagaimana, Ka’e? hahah,” saya melempar pertanyaan dengan basa-basi yang kadang kurang sopan. Tingkah seseorang yang sok akrab itu begitu sudah. Ckckck…!!!

“Patah hati itu manusiawi, Ase, haha. Mungkin Ase bilang begitu karena melihat lagu-lagu saya banyak tentang masalah asmara. Banyak lagu saya yang menceritakan diri saya sendiri. Saya mengalami ini-itu langsung saya tuangkan menjadi syair lagu khususnya momen-momen berharga dalam hidup saya.” Balasnya.

Setiap orang memiliki bakat dan talenta. Ada yang mengagumkan, ada yang sedang berjuang, ada yang masih bersusah payah untuk bangkit setelah jatuh, dan masih ada yang sedang berpikir bagaimana ia mengolah dan mengelola bakat dan talentanya sendiri. Dalam setiap niat untuk mengembangkan, ada problematika yang tanpa sengaja meruntuhkan. Hati-hati ya, Teman-teman.

“Dalam perjalanan karir saya. Banyak hal yang menghalang untuk berkembang. Rasa pesimis yang tinggi; takut karya saya diludahi, minim dalam pengaturan aransemen lagu; melodi, ritme, dan lain-lainnya. Menjadi sesorang yang baik dan terbaik bukanlah hal mudah e. Ada prosesnya. Saya belajar musik dari teman-teman waktu kuliah. Kebetulan teman-teman saya banyak yang bergelut di bidang musik. Semakin saya berkembang banyak cibiran yang datang. Mengenai itu saya tidak repot, intinya sa berusaha untuk terus berkembang.” Tambah Ka’e Silo mengisahkan sedikit tentang perjuangan menghasilkan karya-karyanya.

Sekarang lagu-lagunya Ka’e Silo sudah ditonton banyak orang lewat video-video klip di kanal yutub-nya. Lagu Manggarai yang tepat dan khas. Bahkan saya yang lagi di tanah orang ini sering mendengarkan lagu-lagunya. Rasanya rindu rumah, dan langsung ingin pulang kampug.

Ka’e silo akan terus berkarya dalam bahasa Manggarai. Ia ingin melestarikan bahasa ibu dan mempertahankan jati dirinya sebagai  orang Manggarai.

“ Saya akan terus berkarya dalam bahasa manggarai, Ase.  Melestarikan bahasa daerah itu penting, Ase.”

Saat pesan itu masuk, saya diam-diam malu, belajar bahasa daerah lain tapi malu melestarikan bahasa daerah sendiri.

“Ase, jangan lupa kasih tahu teman-teman, manfaatkan masa muda dengan hal yang bermanfaat. Lestarikan bahasa Ibu, jangan malu dengan budaya sendiri. Pertahankan itu, genjotkan itu”.

“Ratakan, Ka’e.

Kemudian kami menutup percakapan dengan harapan-harapan yang baik untuk hari esok setelah saya berterima kasih. Termasuk harapan untuk kau subscribe kanal yutub Silo Rende untuk menikmati lagu-lagunya agat hari-harimu tidak hambar walau dia mulai hilang tak berkabar, juga termasuk kita berkarya dengan cara kita masing-masing. Kopi yang kau seruput sudah tegukan ke berapa? Kapan-kapan kita bercerita lagi. Jangan lupa kunjungi Tabeite untuk hal-hal penting yang diulas ringan untuk menemanimu bersantai-santai. Sekian!

1 thought on “Mengenal Silo Rende Musisi Dari Kota Komba

  1. Sy selalu baca cerita atau ulasan bio seseorang dr tabeite, kadang yg jd rujukan sy untuk baca adalah cara penulis merangkum kata” yg easy listening ee baru ke inti cerita
    Terimakasih n good luck for all of u in tabeite buddy
    Sy bulan depan rncana beli bukunya Ka itok aman n kalo ada rekomendasi buku dr kalian info eee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.