Mengenang Alm. Bung Dolly; Pak Tua dengan Jiwa yang Selalu Muda

466 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Tidak banyak yang tahu, di ujung timur Manggarai ada tokoh yang kepribadian dan semangatnya patut ditiru. Dan artikel ini saya tulis sebagai cerita tentang semangat tersebut, sebagai luapan kekaguman saya kepada seorang pria tua yang semasa hidupnya banyak menginspirasi dan mengajarkan banyak hal, sekaligus sebagai bentuk penghormatan akhir kepada seorang –yang sudah saya anggap seperti teman yang telah mendahului saya menuju keabadian.

Bung Dolly, atau Mas Bayu, atau Nyong Ambong, begitu kami, anak muda dan teman-teman yang dekat dengan beliau– memanggilnya. Beliau tidak suka dipanggil dengan sebutan Om, Kakak atau panggilan sejenis lainnya. “Bung Dolly saja mi cess, biar lebih akrab to,” kira-kira begitu kalimat yang sering keluar dari mulutnya tiap kali berkenalan dengan orang baru. Lahir di Lengko Elar, 6 Juli 1961 dari pasangan almarhum Ema Laurens Najas dan Ené Yuliana Mani, Bung Dolly kecil kemudian tumbuh sebagai sosok pemuda yang dikenal penyabar, pandai bergaul plus jahil. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang humoris dan hampir tidak pernah menyimpan amarah dalam dirinya. Di bibir pria ini selain terselip batangan gudang garam, senyuman hangat yang bersahabat selalu siap dilemparkan kepada siapa saja yang dijumpai, walau memang terkadang bisa berubah 180 derajat ketika yang keluar dari sana adalah guyonan khasnya yang terkesan sarkas.

Pria yang mewarisi darah bangsawan kedaluan Biting dari keluarga ibunya itu menamatkan SD dan SMP di Lengko Elar, kampung halaman yang sangat ia cintai kemudian mengenyam pendidikan di SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng sebelum akhirnya memutuskan untuk merantau ke Ujung Pandang (Makassar) demi melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi di sana. Di Kota para Daeng inilah pemilik nama lengkap Adolfus Hasan tersebut bertemu dengan Fatima Jafar, (sekarang lebih akrab disapa Oma Ti) gadis Makassar yang kemudian dinikahi dan menjadi ibu dari anak anaknya. Setelah beberapa tahun tinggal di Ujung Pandang, Bung Dolly dan istrinya memutuskan kembali ke Elar untuk menetap dan memulai kehidupan baru sebagai keluarga layaknya orang orang pada umumnya. Di Elar, bungsu dari tiga bersaudara ini bekerja sebagai petani yang juga berbisnis bensin eceran, sedang sang istri memulai usaha warung makan dan kios kecil kecilan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari hari.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Bung Dolly dikenal sebagai tokoh yang cakap, aktif dan bersahabat. Beliau merupakan ketua RT dan ketua kader posyandu di lingkungannya. Tak heran kalau setiap sore halaman rumahnya selalu ramai dengan tamu, mulai dari anak-anak yang bermain kuda kayu, ibu ibu pegiat gibah sampai bapak bapak kompleks yang berkumpul untuk sekadar mencari tahu angka berapa yang keluar pada togel sydney di hari tersebut.

Terlepas dari semuanya di atas, yang paling membikin saya kagum dengan beliau adalah kepedulian dan kedekatannya dengan generasi penerus khususnya kaum muda yang jarang saya jumpai pada pak tua lainnya. Hal ini dibuktikan ketika beliau bersama keluarga rela menetap di warung miliknya sedang rumahnya diberikan kepada pelajar yang berasal dari luar Lengko Elar untuk dijadikan tempat tinggal sementara (asrama). Bukan hanya itu, para pelajar ini pun diberikan pemakluman untuk mengutang di warung dan kios milik istrinya. Menurut Bung Dolly, anak sekolahan boleh mengutang untuk makan apa saja di warungnya asal jangan makan teman. Di warung yang sama ketika saya SMP, Bung Dolly sering memberikan saya dan teman teman buah buahan ketika pulang sekolah, “Ambil saja buahnya boss, simpan bijinya e, sampe rumah tanam supaya nanti gantian saya yang minta ke kalian, heheh,” tawar Bung Dolly sembari tersenyum yang sekaligus menjadi awal perkenalan saya dengan beliau. Rasa peduli pada generasi muda juga dibuktikan Bung Dolly dengan terbentuknya Remako (Remaja Manis Ibukota) yang diinisiasi ayah tujuh anak ini pada tahun 2011. Remako, organisasi kepemudaan (selain OMK) pertama di ibukota kecamatan Elar dipimpin langsung oleh Bung Dolly. Beliau membesarkan Remako sebagai organisasi yang mewadahi minat dan bakat sekaligus sebagai keranjang pemersatu bagi kaum muda di Lengko Elar di usianya yang tidak muda lagi. Oleh beliau di Remako siapa saja bisa bergabung, tidak masalah apa agamamu, bagaimana latar belakang keluargamu, tamat sekolah atau tidak, selama kau adalah anak muda yang mencintai Lengko Elar dan setia dengan kawan kawanmu, kau boleh jadi anggota. Pada masanya memimpin Remako, tidak sedikit orang yang menyindir dan menertawakan Bung Dolly. Menurut mereka Bung Dolly hanya buang buang waktunya untuk Remako, mereka tidak pernah tahu bahkan tidak pernah mau tahu tentang bagaimana organisasi tersebut tumbuh dan hidup serta apa yang menjadi motivasiya mendirikan organisasi tersebut. Saya sebagai anggota organisasi besutannya kala itu tahu betul sifat dan cita cita Bung Dolly untuk kami dan organisasi tersebut. Bung Dolly banyak mengajarkan saya (dan teman teman di Remako) bagaimana hidup berorganisasi dan begaul dengan orang orang baru yang berbeda, cara hidup bermasyarakat yang sederhana namun dengan toleransi yang tinggi. Satu kalimat motivasi dari Bung Dolly yang masih saya ingat betul adalah “Tetap semangat, walau dipandang sebelah mata.” Kalimat tersebut juga digunakan Remako sebagai semboyan hingga hari ini.

Di hari hari terakhir hidupnya, Bung Dolly tidak berubah. Beliau tetap menjadi pak tua yang sehari harinya bertani dan memerhatikan generasi muda. Beliau meninggal di hari selasa, 25 Juni 2019 akibat terjatuh dari pohon cengkeh di samping rumahnya. Tak ada penyakit apa-apa, murni karena kecelakaan. Sebelum meninggal, Bung Dolly berjalan keliling kampung tanpa ada yang tahu apa maksudnya, mungkin sebagai tanda perpisahan. Di hari kepergiannya itu juga, sesaat setelah mendengar kabar duka tersebut saya teringat sebuah mitos entah kapan dan dari siapa saya pertama kali mendengarnya, yang kurang lebih menjelaskan bahwa orang baik akan meninggal lebih awal dan dengan cara yang tidak terduga.

Inalilahi wa inalilahirojiun

Akhirnya, dari pak tua ini saya belajar bawasannya menjadi tua dan dewasa itu biasa, menjadi tua dan dewasa yang berbeda serta peduli dengan sesama, itu baru luar biasa. Semoga di suatu waktu, dimanapun itu, akan lahir lagi sosok pribadi seperti Bung Dolly. Berbahagialah, Bung! Kami betul betul merasa kehilangan. Maaf, tak sempat membalas dalam banyak hal. Semoga Bung tenang bersama Tuhan di surga, doa kami selalu menyertai.

Penulis: Krisan Roman|Lawa Mbore

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *