Mengenang Koran di Masa Kecil

Ada yang hilang, tetap tetap menikmatinya (Sumber foto : Merdeka.com)

 226 total views,  1 views today


Erik Jumpar|Redaksi

Waktu kecil, di dua dekade yang telah berlalu, masa liburan yang paling ditunggu-tunggu saat akan mengunjungi rumah dari kakek dan nenek, kedua orangtua dari Ibu. Tempat tinggalnya bukan di kota. Mereka tinggal di kaki Poco Ri’i, dekat dengan hutan belantara, di Kampung Rajong Desa Satar Lenda Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur. Sebelumnya Kampung Rajong hanya sebagai kebun dari orang-orang di kampung sekitar, namun belakangan orang-orang tersebut memilih menetap dan menjadikan tempat itu sebagai kampung.

Kampung Rajong termasuk sepi penduduk. Di dalamnya terdapat sebelas rumah, sekarang entah berapa jumlahnya. Hari lebih pendek di tempat ini. Pukul empat lewat tigapuluh menit di sore hari seisi kampung diselimuti kabut. Dingin turut datang menemani kabut. Jawaban untuk menghangatkan tubuh dapat ditebus dengan menikmati kopi dan ubi-ubian yang masih panas.

Di tempat ini hiburan menjadi barang mahal. Sore hari tak banyak yang dilakukan selain bermain bola takraw. Lelaki dewasa di sini kerap ke tengah hutan dengan anjing peliharaannya untuk berburu. Hasil buruan seperti babi hutan, babi landak, tupai, ayam hutan dan lain-lain akan dibawa ke tengah keluarga mereka.

Saat situasi liburan terasa sepi, saya memanfaatkan waktu luang untuk membaca koran. Koran-koran yang dibaca bukan dalam keadaan utuh bak dari tangan agen koran di ibukota kecamatan, melainkan koran-koran lusuh yang ditempel di dinding rumah. Koran-koran itu ditempel oleh tuan rumah dengan tujuan tertentu.

“Itu koran tidak untuk dibaca, hanya untuk menutupi lubang-lubang di dinding rumah,” tutur Kakek di suatu siang.

Semenjak itu saya jadi tahu alasan di balik koran-koran yang ditempel di dinding rumah kakek. Catatan-catatan di dalam koran yang tertempel di dinding itu tidak lengkap, karena ada halaman yang hilang. Meski begitu saya tetap menikmatinya. Pengalaman membaca koran-koran itu membawa kepala saya bertualang dengan surat kabar terbesar di dekade 90-an.

Nama koran Dian akhirnya saya kenal. Dian itu Surat Kabar Mingguan. Terbit sekali dalam seminggu. Motonya Dian Untuk Desa. Dian dicetak oleh Penerbit Arnoldus, satu percetakan dengan Surat Kabar Harian Flores Pos sekarang ini. Ukuran halamannya sama seperti Flores Pos. Jumlah halamannya kurang diketahui persis.

Dian termasuk surat kabar yang berpengaruh pada masanya. Konon liputan Dian sering memantik amarah dari penguasa. Dosen saya semasa kuliah pernah menjadi wartawan Dian. Ia pernah bercerita kalau koran tempatnya bekerja itu pernah diancam untuk diberedel oleh rezim.

Berita-berita Dian memang lugas dan terpercaya. Dian menyuguhkan catatan yang menarik. Gaya menulis beritanya khas dan menukik. Catatannya naratif. Wartawannya memang bukan orang serampangan. Di pucuk tertinggi redaksinya nama-nama imam SVD terpampang. Dian itu besutan dari kongregasi SVD, salah satu kongregasi tertua di Pulau Flores.

Hari ini Dian telah sirna, lahirlah Flores Pos dari percetakan yang sama. Kota Ende menjadi saksi lahirnya koran-koran itu. Kalau boleh menduga barangkali koran Flores Pos itu embrio dari Dian. Koran ini juga besutan dari imam SVD, sama seperti Dian. Berita-beritanya gila bukan main, catatan-catatan redakturnya tidak main-main. Kolom Bentara merupakan satu dari sekian suguhan yang akan memerahkan telinga para pembaca.

Pengalaman membaca Dian di rumah Kakek menanamkan minat baca di dalam diri saya. Setiap kali saya bertandang ke rumah orang biasanya saya memerhatikan setiap benda yang tertempel di dinding rumah. Apabila di dinding rumah tertempel koran-koran, maka saya akan membaca berita-berita tersebut. Kebiasaan ini mengingatkan saya pada kenangan lama di rumah Kakek, apalagi sekarang mereka telah pulang ke keabadian.

Tahun terus berganti, minat baca terus tumbuh, sementara sumber bacaan lesu. Beruntung di tahun 2004, ekonomi keluarga sedikit membaik. Ayah berlangganan koran. Pos Kupang jadi alternatif untuk berlangganan. Ayah harus membayar enampuluh ribu rupiah setiap bulannya sebagai syarat untuk berlangganan.

Setiap hari di depan rumah kami di Golo Mongkok Desa Watu Mori Kecamatan Rana Mese, akan ada mobil pick up tua berwarna kuning bercampur biru berhenti. Mobil itu dikendarai oleh loper Pos Kupang. Ia akan mengambil rute dari Kota Ruteng menuju Kota Borong, dilanjutkan ke Kota Bajawa. Di rumah agen dan pelanggan mobil itu akan berhenti, memberi kabar terbaru lewat koran yang dibawanya, membawa berita tentang perkembangan dunia luar.

Pertemanan dengan koran Pos Kupang membawa saya untuk mengenal lebih jauh koran yang resmi dicetak sejak 1 Desember 1992 itu. Kolom Soccer, Gaya Hidup dan Tamu Kita menjadi sasaran utama untuk dilahap. Nama-nama redaktur inti seperti Damyan Godho dan Dion DB Putra dihafal. Wartawan wilayah Manggarai di masa itu namanya Kanis Lina Bana. Sekarang ia tak lagi bergabung dengan Pos Kupang. Masa itu Pos Kupang di udara, jumlah iklannya belum sebanyak sekarang.

Saat itu saya duduk di Kelas Lima SD. Setelah pulang dari sekolah, saya bersama dengan Ayah membaca koran di ruang tamu. Di sela membaca akan ada saatnya untuk membagi hasil pembacaan di antara kami.

Pertemanan dengan Pos Kupang terputus saat saya memasuki SMP Seminari Pius XII Kisol. Ibu yang melarang Ayah untuk berlangganan. Pemicunya dikarenakan oleh ekonomi keluarga yang terganggu saat saya lulus seminari.

“Sekolah di Kisol itu mahal, cukup sudah berlangganan koran,” jelas Ibu kala itu.

Semenjak itu kami tak lagi berlangganan koran. Namun saat Ayah menjadi pimpinan di tempatnya mengabdi, ia mengambil sikap agar lembaganya berlangganan koran. Enam tahun ia menjabat sebagai pimpinan, maka selama itu juga Pos Kupang ada di tempatnya mengabdi.

Sekarang koran-koran memasuki fase senjakala. Lajunya dunia digital melindas media cetak. Koran-koran besar di ibukota sana sebagiannya telah gulung tikar. Mereka memilih banting stir ke dunia digital, menjadi media daring dengan tingkat kecepatan yang tinggi, meski sesekali mengabaikan akurasi data.

Beruntung di Pulau Flores, koran-koran masih bertahan. Flores Pos dengan moto Dari Nusa Bunga Untuk Nusantara terus menyapa para pelanggannya. Pos Kupang juga masih bertahan meski lebih banyak iklannya dibandingkan berita. Sekarang ada lagi Surat Kabar Mingguan. Namanya Ekora NTT. Mereka terus bertahan bersama pembaca yang mungkin jumlahnya tak sebanding dengan ongkos produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Terima kasih seribu untuk koran-koran di masa lalu. Karena jasa kalian, makanya catatan ini cukup enak dibaca. Kalaupun tidak enak, maafkan kami wahai pembaca Tabeite yang budiman.

1 thought on “Mengenang Koran di Masa Kecil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.