Mengingat Motor Butut Bapak Sama Dengan Mengingat Veronika Mantan Pacar di Manggarai Timur

466 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Sampai hari ini saya masih saja bingung kenapa disukai banyak perempuan. Mau bilang ganteng, takutnya Anda sekalian menghakimi saya sombong. Mau bilang anak orang kaya, sementara dinding rumah kami saja belum juga diplester, semenjak Prabowo menjadi wakil Capresnya Megawati hingga Prabowo kalah untuk kedua kalinya oleh Jokowi.

Sebagai lelaki yang disukai banyak perempuan, tidak sedikit orang yang iri pada saya. Saya sih bersikap bodoh amat, kata Mario Teguh “kalau ada yang iri dengan kehidupan kita, masalahnya bukan di kita tetapi pada orang itu”. Semakin banyak yang iri, saya malah semakin semangat untuk mendekati perempuan yang menyukai saya.

Disukai banyak perempuan tidak membuat saya sombong. Saya selalu berpikir bahwa saya hanya manusia biasa seperti Ariel Noah laki-laki lainnya di dunia yang fana ini. Toh kalaupun saya disukai banyak perempuan, itu karena Tuhan saja yang sedang bercanda dengan memberikan saya pesona yang berbeda.

Walaupun disukai banyak perempuan, saya tidak menjadikan semuanya pacar. Saya tipe laki-laki yang setia. Seperti sekarang misalnya, pacar saya hanya satu, dia berada di Jogja dan sekarang sedang membaca tulisan saya yang tidak berfedah sama sekali ini. Sedangkan perempuan lainnya yang menyukai saya, saya jadikan gebetan teman dekat saja. Jadi laki-laki mesti seperti saya, setia band.

Sebagai laki-laki  yang disukai banyak perempuan, tentunya saya punya banyak mantan. Jumlah jari kaki digabung jari tangan saya, belum mampu menyaingi jumlah mantan saya. Separuh dari mantan saya berasal dari Manggarai Timur, sisanya saya kurang ingat persis, tetapi ada yang dari Bima, anak dari pedagang bawang terkenal.

Dari barisan para mantan, satu yang paling membekas. Agar tidak ketahuan bahwa saya sedang merindukan dia, kita ganti saja namanya dengan nama Veronika.

Veronika anak dari Kepala Sekolah di salah satu Sekolah Dasar Katolik di kampung tetangga. Bagi saya, Veronika adalah manusia paling sempurna, bahkan mengalahkan kesempurnaan Raisa. Rambutnya yang panjang, bola mata indah di bawah alisnya yang tebal,serta  bibir yang tidak pernah menyentuh gincu adalah harta yang paling berharga yang Veronika miliki. Menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekedar menatap harta berharga itu, saya rela. Jelas tidak melelahkan dan membosankan.

Selain cantik, Veronika juga baik hati. Ibarat bakso biasa ditambah telur, jadi bakso komplit. Begitu pula Veronika. Cantik tambah baik hati, adalah paket komplit untuk mengajaknya ke pelaminan.

Tetapi sayang, nasi sudah menjadi bubur. Veronika sekarang hanyalah perempuan milik orang lain. Kami putus setelah jatuh dari motor Megapro butut bapak saya.

Jadi ceritanya begini. Saya dan Veronika sudah menjalin hubungan kurang lebih 4 tahun, setelah memasuki tahun ke-3 kami dipisahkan oleh Jarak. Saya kuliah di Jawa Timur, Veronika di Ibu Kota Nusa Tenggara Timur, sama timurnya tapi jauh jaraknya. Tidak ada kendala selama satu tahun kami menjalankan hubungan jarak jauh. Saya dan Veronika berkomitmen bahwa yang boleh memisahkan kami hanyalah maut, selebihnya tidak.

Rindu untuk bertemu pun kami tuntaskan saat liburan. Seperti biasanya, kalau janjian jalan-jalan saya selalu mengandalkan motor butut bapak saya, Megapro 150 cc.

Sore itu saya menjemputnya. Saya mengenakan kameja biru kepunyaan Bapak saya. Saya memang selalu mengandalkan barang kepunyaan Bapak saya, bahkan sandal Swallow yang saya pake juga milik Bapak  saya.

Saya bersama Veronika jalan-jalan ke Golo Lantar, bukit di dekat rumah kami yang ditaruh patung Bunda Maria. Karena Veronika orang baik, sesampai di sana dia berdoa terlebih dahulu baru kami bercanda seperti orang pacaran pada umumnya.

Candaan itu kami akhiri saat malam jatuh. Agar tidak dibilang aneh-aneh, kami kemudian pulang.

Seperti biasanya kami menunggangi Megapro butut bapak saya dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan, Veronika merangkul saya mesra hingga dinginnya Golo Polo hilang begitu saja.

Motor butut itu kemudian sampai di dekat rumah Veronika, sebagai lelaki sekaligus mahasiswa IPK 2 koma, yang ingin mencari perhatian calon mertua, motor butut itu dengan penuh percaya diri saya putar full ke kiri, memasuki jalan menuju pekarangan rumah Veronika yang sempit dan curam.

Bencana pun datang, tiba-tiba saja rem belakang motor butut Bapak saya tidak berfungsi. Serentak saya tarik cakram, serentak pula tubuh saya dan Veronika jatuh ke got, disusul motor butut dari belakang.

Malam itu saya dan  Veronika dilarikan ke Puskesmas. Sejak saat itu, mamanya Veronika alias mantan calon mertua saya melarang anaknya pacaran dengan saya. Di sisi lain, saya tidak ingin memarahi atau berniat berkata cukimai kasar pada motor butut bapak saya, sebab telah banyak berjasa bagi perjalanan cinta saya.

Melihat motor Megapro berlalu lalang di Surabaya, membuat saya mengingat Veronika mantan terbaik saya.

Penulis : Popind Davianus |Tua Golo|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *