Mengisi Ruang Kosong

Berani mulai mengisi ruang kosong kehidpuan dengan kolaborasi kreatif (Sumber fofo: Pixbay.com)

 306 total views,  1 views today


Yergo Gorman|Kontributor

“Mengisi ruang kosong”, sebuah istilah yang diperkenalkan seorang kawan pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2020 lalu. Istilah itu lahir dengan segala perkakas perspektifnya dalam perjumpaan Ngopi-ngopi santai beberapa komunitas anak muda di Borong memperingati Harkitnas. Tema yang diusung amat seksi, “Millenial Yang Terlibat”. Kenapa Millenial Yang Terlibat? Apatisme jadi sebuah kecenderungan yang cukup serius dalam khayalan kerja-kerja inisiatif anak muda di ruang publik dewasa ini. Semangat untuk inisasi kerja kreatif ataupun gerakan kepedulian pada isu tertentu masih sangat minim. Meski demikian, beberapa komunitas tengah bertumbuh bak bunga yang lagi mekar. Maka momentum Harkitnas Mei 2020 ini dipakai sebagai perjumpaan untuk refleksi sekaligus menggugat posisi dan keberadaan anak muda bagi pembangunan, baik di Borong, maupun Manggarai Timur secara umum.

“Mengisi ruang kosong” bagi saya adalah sebuah kesimpulan kritis dari segala bentuk inisiasi serta kolaborasi gerakan komunitas anak muda selama ini. Inisiasi itu mendarat dengan optimal di lintasan isu. Literasi pendidikan, lingkungan, jurnalistik, diskursus dan penyebaran wacana, ide bagi keadaban publik adalah sederet lahan bagi implementasi khas kerja kreatif tersebut. Gerakan ini tampil di atas dua sudut pandang. Pertama, panggilan nurani. Ada suatu keyakinan paradigmatik bahwa warga adalah salah satu subjek dalam pembangunan. Sebagai subjek, ada keterpanggilan untuk ikut terlibat. Pemerintah dilihat sebagai bukan satu-satunya aktor tunggal dalam pembangunan daerah. Kita tak bisa serahkan semua urusan bangun Matim ke Pemda. Peran warga bersifat mutlak. Kedua, Mengisi Ruang Kosong ialah sebuah gugatan kritis terhadap isu-isu tertentu yang seringkali nyaris terlupakan dalam imajinasi maupun kebijakan pemda. Pemda acapkali cenderung puas pada pencapaian administratif. Mereka telah sibuk dengan tumpukan konsep dan program. Kita berharap, segala konsep, program dan kebijakan itu lahir berbasis riset dan kajian, bukan produk halusinasi belaka sehingga connect dengan problem rakyat.

Perjamuan Gerakan

Perjamuan gerakan menjadi sahih dan terlegalkan pada tataran praksis. Bayangkan saja bila kelompok Boedi Oetomo sebagai cikal bakal organisasi pergerakan pertama di Tanah air lahir pasca era 1900-an, mungkin Indonesia belum merdeka di tahun 1945. Bisa saja Indonesia merdeka di tahun 50an atau 60an. Sebagaimana yang kita ketahui,  organisasi Boedi Oetomo memulai era baru kesadaran kritis massa. Mereka sukses bius kesadaran rakyat untuk berpacu dalam gerakan kolektif merebut kemerdekaan. Kemunculan momentum Sumpah Pemuda 1928 membuat nasionalisme para pemuda zaman itu untuk bersatu dan keluar dari kolonialisme makin menggila. Ada “ruang kosong” yang dipandang bahwa perjuangan kemerdekaan tak cukup hanya dimainkan kelompok tua. Ruang kosong itu kemudian diisi lewat berjuang dengan terlibat. Bagi saya, gerakan keterlibatan itu adalah manifestasi kesadaran kepada praksis tindakan.

Kenapa spirit “Mengisi ruang kosong” perlu dibangun di kelompok anak muda saat ini? Menurut saya ada beberapa hal yang melatari. Pertama, pasif terhadap problem pembangunan sama dengan ikut bikin daerah ini bergerak lambat. Atau bahkan mungkin stagnan. Kenapa? Karena warga hanya pasrah pada kerja Pemda. Padahal banyak aspek pembangunan tertentu yang sebetulnya dapat dilakukan warga lewat inisiasi program, gerakan, maupun keterlibatan. Seperti pendidikan, lingkungan, pariwisata, dan sebagainya. Kedua, prasyarat bagi kepedulian sosial. Dengan belajar untuk terlibat, seseorang dengan sendirinya membangun fasilitas kepedulian di dalam dirinya untuk peduli pada situasi pembangunan. Ketiga, agen pembangunan. Istilah yang saya kenal sejak SMA. Sebagai generasi strategis penentu pembangunan di masa depan, anak muda tidak cukup berbekal kompetensi, kapasitas intelektual, skill, dan lainnya. Seperti sabda yang menjadi daging, konsep dan teori mesti menubuh. Kepedulian mesti diasah. Sehingga dengan fasilitas pengetahuan yang dimiliki, ia diharapkan dapat memberi solusi bagi sederet problem pembangunan baik hari ini maupun di masa depan.

Saya selalu terinspirasi dari kisah kelompok Encyclopedy. Sebuah grup intelektual Perancis debutan Diderot, D’Alembert, Voltaire yang sukses bawa Perancis keluar dari absolutisme kekuasaan, lalu bergerak menuju peradaban baru atau pada masa itu disebut era pencerahan (enlightment). Mereka sukses memainkan proyek literasi tentang keadilan sosial, hak asasi manusia, kemerdekaan di dalam masyarakat. Oleh gerakan kritis mereka, masyarakat Perancis yang di zaman itu hidup di bawah kekuasaan raja yang membunuh kebebasan sipil akhirnya runtuh.

Semoga semangat Hari Kebangkitan Nasional Mei 2020 ini dapat memunculkan suatu spirit baru bagi generasi muda di Borong dan Manggarai Timur untuk mulai peduli dan membangun karya-karya kreatif lewat inisasi gerakan yang berdampak bagi pembangunan masyarakat.

* Lulusan Studi Kebijakan Publik, Minat Literasi dan Kajian Pembangunan Desa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.