Menikmati Keberuntungan

Menikmati setiap jejak keberuntungan (Sumber foto: Google)

 253 total views,  2 views today


Erik Jumpar|Redaksi

Sadar atau tidak, hari-hari dalam hidup kita dipenuhi dengan keberuntungan. Alam semesta rutin memberikan kejutan untuk para penghuni bumi. Meski keberuntungan yang datang bertubi-tubi itu absen untuk kita syukuri. Namanya manusia, kadang kita menjadi pecundang. Memohon sering didaraskan saat pagi datang, kemudian ditutup dengan doa yang sama saat malam beranjak meninggalkan bintang-gemintang. Sementara meluangkan waktu sejenak demi memadahkan syukur jarang kita lakukan.

Sejauh ini, di dalam derap langkah pada hari-hari yang saya lewati, baik saat merantau maupun saat kembali ke rumah, rentetan keberuntungan membawa kejutan. Saya jadi teringat Mama di rumah. Sewaktu saya kuliah, ia pernah menandaskan kalau saja ia akan terus menyambut setiap orang asing yang mampir ke gubuk kami dengan tulus. Harapannya agar setiap buah hatinya yang merantau di daerah lain akan merasakan situasi yang sama, disambut ramah oleh orang-orang yang mereka temui, seolah-olah sedang pulang ke rumah. Ngomong-ngomong soal keberuntungan, saya teringat cerita pada dua tahun lalu.

Di dalam perjalanan pulang seorang diri dari Pulau Andalas, saya kebingungan sebelum masuk ke ruang tunggu bandara di negerinya Bung Hatta dan Tan Malaka itu. Waktu masih terlalu subuh. Jarum jam di pukul empat lebih limabelas menit waktu indonesia paling barat.

Duapuluh lima menit berlalu membuat kepala linglung. Beruntung kebaikan datang lewat seorang lelaki tua. Usianya di kisaran kepala lima, sama seperti usia dari Ayah saya di rumah. Pertanyaannya membuyarkan kerisauan yang ada di kepala saya.

“Mau ke mana?

“Surabaya, Pak.”

Sebelumnya saya telah membuat janji dengan seseorang, namanya Popind Davianus. Saya hendak berlibur selama dua pekan di tempatnya berkuliah. Tiket yang sudah dipesan memilih kota itu sebagai tempat tujuan. Bagi saya yang suka dengan mata pelajaran Sejarah, Surabaya itu aroma perjuangannya sangat kental, makanya saya memilih Surabaya untuk menikmati jejak juang di kota yang terkenal dengan aksi 10 November 1945 itu.

Ternyata tujuan kami sama. Saya langsung memasang wajah sumringah. Seketika hati terasa tenang. Kami lalu berbincang. Pertanyaannya tak lebih dari menanyakan nama, asal kampung dan pekerjaan. Selebihnya saya mulai sok akrab. Kami melanjutkan obrolan. Topiknya serampangan. Tujuannya untuk menghangatkan pagi yang perlahan-lahan menjemput mentari.

Setiap melakukan perjalanan lewat udara pikiran saya tak pernah tenang. Sesaat sebelum berangkat biasanya saya dirisaukan dengan kelancaran dari perjalanan tersebut. Dari mengecek jam keberangkatan secara berulang-ulang dan harapan agar tak ketinggalan pesawat. Makanya untuk melancarkan perjalanan biasanya kita mendadak religius. Malam sebelum berangkat saya telah memohon pada Tuhan agar dijaukan dari aral melintang di dalam perjalanan.

Saat kami asyik bercerita tertulis imbauan di layar informasi kalau saja pintu cek in untuk penerbangan tujuan Surabaya telah dibuka. Saya lalu masuk. Menyerahkan kode pemesanan kemudian dicek identitas diri. Barang bawaan diserahkan ke pihak maskapai untuk ditaruh di bagasi.

Selanjutnya saya menuju ruang tunggu hanya seorang diri. Di dalam ruangan itu saya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Raut wajah masih menampilkan ekspresi penuh resah. Risiko perjalanan seorang diri memang demikian, sepi dalam situasi yang ramai, seolah-olah kita sedang berada di tengah hutan seorang diri. Amat menyedihkan memang.

Di tengah situasi itu ada orang baik datang untuk kedua kalinya. Kejutan kali ini bukan dari orang yang sebelumnya saya temui di lobi bandara. Ia seorang bapak yang sudah berumur, lebih tua dari Ayah saya. Saat menghampiri tempat duduk saya, ia melempar wajah penuh sumringah.

“Tujuan mana, Dek?”

“Surabaya, Pak,”

Kota tujuan kami ternyata sama, ia juga mau pulang ke Surabaya. Kebetulan saat itu bertepatan dengan Hari Lebaran. Kedatangannya ke Ranah Minang untuk merayakan lebaran di Payakumbuh, kampung halamannya. Ia mengunjungi pusara dari kedua orangtuanya sekalian untuk merawat tali silaturahmi dengan kerabat dekat yang tinggal di kampung.

Dari perbincangan itu, saya jadi tahu kalau ia pengusaha kuliner. Hari-hari bersama istri dan anak semata wayangnya mengelola rumah makan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di tempatnya merantau, ia memiliki dua rumah makan padang, jumlah yang cukup untuk keluarganya dengan pendapatan yang menggembirakan.

Orang Minang memang terkenal dengan masakan yang menggoncangkan lidah. Seantero Nusantara tersebar rumah makan padang hingga ke daerah pelosok. Sejak dulu di sebagian ibukota kecamatan di Pulau Flores selalu ada rumah makan padang. Mereka sukses memengaruhi peradaban lewat makanan, pencapaian yang patut diacungi jempol.

Di luar ruang tunggu bandara perlahan terang benderang, pagi sudah menampakkan batang hidung. Sedang asyik ngobrol, ia mengajak saya untuk pergi salat terlebih dulu.

“Rik, ayo salat.”

“Saya Nasrani, Pak.”

Sebelumnya di dalam obrolan memang tak menyinggung soal kepercayaan kami masing-masing. Sejatinya di ruang publik, agama menjadi ranah privat dengan urusan sepenuhnya dilemparkan ke masing-masing orang. Menggumbarnya dalam percakapan dengan orang yang baru kita jumpa bisa saja mengganggu relasi, apalagi kalau memiliki kepercayaan yang berbeda.

“Kalau gitu Bapak salat dulu ya.”

“Silakan, Pak,”

Ia lalu beranjak ke ruangan salat. Saya kembali memerhatikan orang-orang yang lalu-lalang di ruangan itu. Mereka yang barangkali hendak terbang jauh, meninggalkan patah di tanah itu, demi menenun harap di tanah yang lain.

Begitu ia selesai salat, ia kembali ke tempat semula. Di tangannya terbawa dua botol air mineral. Satunya ia minum, sementara satunya lagi diberikan pada saya. Kami melanjutkan obrolan hingga tak terhitung lagi topik yang kami perbincangkan.

Obrolan kami terhenti, pihak bandara menginformasikan kalau saja pesawat tujuan Surabaya akan berangkat. Kami lalu mengarah ke pintu tiga untuk berjalan agar masuk ke pesawat. Butuh enampuluh menit tiba di Bandara Soekarno Hatta untuk transit, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Surabaya.

Saat tiba di bandara tujuan, saya berpisah dengan orang baik yang saya temui. Ia lalu memberi tawaran untuk bermain ke rumah makan yang ia miliki di kota itu. Hari-hari di tempat usahanya selalu dikunjungi oleh anak-anak timur, khususnya pemain bola.

“Saya gila bola, Rik.” Jelasnya sebelum mengambil bagasi.

Kami berpisah usai mengambil bagasi. Seuntai senyuman menutup pertemanan beda generasi itu. Ia keluar bandara kemudian dijemput oleh anaknya. Sedangkan saya keluar dari bandara dengan wajah lesu nan bingung.

Beruntung tak perlu waktu untuk bertemu dengan adik Kristo, teman akrab dari Popind Davianus. Ia begitu cekatan mengenal wajah saya yang amat Manggarai. Kemudian ia membawa saya hingga tiba dengan selamat di kontrakannya Popind Davianus, Tua Golo pertama dari Tabeite itu.

Semalam di kontrakan itu hanya ditemani oleh Venan, anak kepala desa dari Manggarai Timur yang baru tamat SMA. Keesokan paginya baru berjumpa dengan Popind Davianus, setelah ia pulang dari Kota Malang menuntaskan urusan bisnisnya.

Hidup memang kumpulan dari keuntungan demi keuntungan. Kalau saja saya tak bertemu dua orang baik itu, barangkali perjalanan saya terus-terusan dihantam kerisauan. Terima kasih semesta. Hormat untuk seluruh orang-orang baik yang pernah saya temui, kapan dan di manapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.