Menjawab Kritikan Penahbisan Uskup Ruteng

 2,213 total views,  2 views today


Nando Sengkang|Redaksi

Tulisan berikut adalah lanjutan dari artikel pertama penulis tentang tahbisan uskup Ruteng di sini, dengan catatan: tulisan ini bagi Anda sekalian yang punya iman—sebesar biji sesawi sudah cukup.

Pandemi Covid-19 semakin pelik, bukan? Total kasus yang ditemukan di Indonesia memasuki angka ribuan. Statistik jumlah pasti akan terus bertambah—cepat atau lambat. Namun, pandemik tak menyurutkan harapan. Justru, ribuan teriakan “kasih” semakin menggelora.

Dalam kegelisahan bayang-bayang “hantu” Covid-19, Ruteng—kota kecil di Flores, NTT—bersikap “aneh”. Pasalnya, bertolak belakang atas himbauan pemerintah pusat, provinsi, hingga Pemimpin Gereja Universal. Ada tahbisan uskup baru, singkatnya demikian. Jelas, acara ini menjadi magnet ribuan orang Katolik untuk berpartisipasi di dalamnya. Nah, di sinilah persoalannya. Yang menjadi masalah adalah tahbisan itu diselenggarakan saat pandemik Covid-19.

Penulis—yang berada di ibu kota—saat penahbisan Yang Mulia Siprianus Hormat, dibanjiri pesan-pesan kritikan. Banyak yang bertanya, juga tak luput dari caci-maki yang tragis. Penulis kewalahan. Tak bisa membendung. Hanya saja, penulis cepat mencari informasi ke keluarga di Manggarai, bahkan menghubungi salah satu panitia. Mencoba melindungi diri. Mereka memberikan jawaban yang membantu.

Namun, masalah kedua muncul lagi, alasan yang diberikan dicap ironis. Penulis mencoba kembali dengan alasan sedemikian rupa agar meyakinkan para pengkritik. Toh, tetap saja argumentasi berikutnya runtuh seketika.Akhirnya, penulis bertarung utopis, yakni Lihat saja apa yang terjadi 14 hari ke depan. Jika salah satu umat yang terkena virus, silakan melemparkan batu kritikan ke pada kepala-kepala para klereus. Bukan main, itu pertarungan yang siap menerima kekalahan.

Tak berhenti di situ, artikel pertama penulis, berjudul Uskup Ruteng dan Kegembiraan Umat dalamPenantian, juga tak luput dari lemparan batu kritikan—khususnya bagi pembaca di luar Manggari. Penulis tak menyiapkan tameng atau membangun benteng perlindungan. Menerima saja dengan penuh kasih. Namun, yang penulis sayangkan adalah para pengkritik adalah bukan umat Keuskupan Ruteng sendiri, jadi sedikit ngawur dan campur-baur argumentasi. Maklum saja.

Penantian pembuktian berjalan riang. Tepat, Jumat, 3 April 2020. Penulis membuka akun media Maya. Coba mengintip apa yang terjadi di pelbagai Group Manggarai. Ramai-ramai membuat status, bahwa tak ada satu pun yang mengikuti tahbisan itu  dinyatakan positif Covid-19. Penulis tersenyum saja. Lalu menyalahkan sebatang lilin kecil di pojok doa, mengucap syukur atas kuasa Sang Pencipta. Setelah itu, penulis mengambil secarik kertas, menuliskan tulisan yang sedang Anda baca.

Namun, rasa syukur itu memantik penulis untuk memberikan catatan penting. Pertama, jelas segenap umat Keuskupan Ruteng berterima kasih kepada Yang Mahakuasa. Kedua, semuanya patut mengapresiasi kerja panitia (baik pemerintah setempat maupun panitia inti). Yang menurut informasi penulis, sangat detail dalam pemeriksaan dan kebersihan di segala sudut. Ketiga, berterima kasih kepada semua yang mengikuti acara tahbisan.

Selain itu, penulis memberikan catatan “keras”, yakni kesuksesan tahbisan dan negatif Covid-19, bukan menjadikan segenap umat Keuskupan Ruteng (Katolik pada umumnya) untuk memamerkan iman ke dunia Maya. Katakan saja dengan dalil, “Iman kami lebih kuat” “Agama kami yang baik”, “Daerah kami yang suci”, misalnya begitu. Sebab, hal itu bukan menunjukkan bahwa kita adalah seorang beriman—walau hanya sebesar biji sesawi—melainkan itu akan menyobek baju toleransi dan semangat gotong royong dalam melawan Covid-19. Pernyataan seperti itu bukan Apologia atau pembelaan iman (agama), melainkan sentimen-sentimen yang akan merobek tirai persatuan. Itu saja. Dan saya berhenti di sini. Pembaca sekalian melanjutkan dengan berefleksi.

Salam dari segenap tim redaksi tabeite.com kepada semua panitia dan umat yang menyukseskan acara penahbisan Yang Mulai Siprianus Hormat, Pr, sebab ladang misi (Keuskupan Ruteng) sudah tak kesepian gembala. Kini domba-domba siap menari bersama Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.