Menyudahi Rindu di Oelnunuh

524 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Semenjak duduk di bangku SMP, saya sering mengkhayal. Hampir tiap malam. Tentu saja khayalan yang timbul dari setelah berpapasan dengan beberapa teman cewek yang kadang membuat saya selalu menulis puisi tentang rindu. Entah puisi-puisi itu sekarang menjadi seperti apa. Mungkin sudah dilahap waktu, atau dilahap rayap dalam kertas-kertas kusam, tempat saya menggurat segalanya. Waktu itu, saya tidak tahu persis apa itu rindu, yang terpenting, saya pernah dengar Pance Pondaag mendiskripsikannya dalam sebuah lagu berjudul “Rindu di Hatinya”. Alhasil, saya menarik kesimpulan bahwa, rindu adalah secuil harapan untuk menggapai sesuatu yang diinginkan. Dalam konteks ini, tentu saya mengharapkan curahan cinta seorang amoi yang saya kenal di SMP. Ia sering menyulap saya malam-malam dalam mimpi. Sebenarnya bukan mimpi, tetapi kenyataan. Yah, kenyataan dalam sepi yang meringkuk di antara jarak dan ruang.

Sesuatu yang bernama rindu kerap menjadi bahan paling mentah di dalam sal kenangan. Ia terurai rapi di dalam ingatan-ingatan yang kadang pupus dihempas waktu. Namun terkadang menjadi api, membakar-bakar bokong belanga jiwa untuk menuntaskan proses penanakan. Akhir dari itu adalah temu. Dari rindu, saya belajar berada dalam suatu zona yang benar-benar menguji hasrat saya untuk sebuah pertemuan, juga belajar memahami jarak dan menakarnya lewat waktu.

Suatu hari di bulan Desember 2014, merayakan Natal di Oelnunuh, saya dijumpakan secara kebetulan dengan sosok wanita jelita dari desa Fatumnutu, desa tetangga dari desa Oelnunuh. Kedua desa ini secara teritori sangat berdekatan dan berbatasan langsung, di pedalaman pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Dua desa yang memiliki nasib pembangunan yang berbeda.

Oelnunuh adalah sebuah desa yang sejak kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada tahun 1945, masih belum teraliri listrik, air bersih, dan akses jalan seperti di desa Fatumnutu yang jalannya aspal hotmix. Walau begitu, ia masih menyimpan banyak kenangan tentang sesuatu yang memikat hati siapa saja yang pernah bertandang ke sana. Bagaimana tidak, suasana kampung yang masih sunyi, lambaian bebukitan yang masih lebat dengan hutannya, kekayaan alam yang masih terpelihara, sapi-sapi dan babi-babi yang masih gemuk-gemuk, adat istiadat dan etika yang masih melekat pada setiap penghuninya, anak-anak kecil yang masih fasih berbahasa daerah (bahasa Dawan orang Timor barat), politik yang masih asli di mana, setiap calon penggawa desa harus keturunan asli setempat walau tak berpendidikan sekalipun, dan kepercayaan masyarakat terhadap alam (batu=tulang, air=darah, hutan=rambut), serta iman terhadap Yesus yang sama sekali belum luntur oleh arus zaman.

Kini, presiden sudah gonta-ganti hingga Presiden Jokowi. Presiden urutan ketujuh negara ini. Gubernur Nusa Tenggara Timur sudah delapan orang, yang saat ini memegang jabatan sebagai gubernur adalah Viktor Laiskodat. Sedangkan bupati, belum tahu persis berapa orang yang sudah berkuasa sejak berdidirinya kabupaten ini, namun, wajah Desa Oelnunuh tetap dengan keasliannya tanpa disentuh sedikit pun oleh kebijakan pemerintah negara ini. Kurasa, biarkan saja ia begitu, toh masyarakatnya masih menerima raskin dan dana PKH, selain itu bekerja banting tulang untuk bertahan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya.

Tidak penting untuk saya bahas di sini. Takutnya, ada pejabat pemerintah daerah, provinsi, atau bahkan pemerintah pusat, apalagi pak Jokowi, dapat membacanya, saya bisa saja tidak lulus tes CPNS nantinya. Eh, tapi bukannya saya bercita-cita jadi pemabuk? Lah, sialan. Jadi begini, biarkan saja Tuhan sendiri menghendaki kemajuan kampung kecil ini.  Masih ada rindu yang menggebu-gebu di sudut kalbu yang harus saya sudahi dengan gadis kecil nan menawan itu.

Entah kenangan tentang apa yang membuat kami akhirnya bersua dan bersahut. Namun seingat saya, setahun sebelumnya, kami pernah menenun rasa yang sama tentang cinta, di bangku SMP. Sebuah tangkupan perasaan yang menurut ayah, itu “cinta monyet”. Walau saya tahu itu, namun saya merasakan ketulusan yang mengalir tanpa tendensi apa pun, apalagi “cinta monyet”, yang identik dengan cinta bocah ingusan menurut kebanyakan orang termasuk ayah.

Buaian asmara itulah yang akhirnya menguntit kami untuk saling menelusuri satu sama lain. Saya mencarinya dalam setiap derai hujan yang turun. Entah, ia mencoba menebak keberadaan saya dengan cara seperti apa. Namun itulah cinta, diam-diam mengulum rindu.

Di Oelnunuh, peristiwa kelahiran Sang Mesias menjadi momen paling manis yang pernah saya alami sepanjang sejarah tumbuhnya persaan asmara ini. Selain bergembira karena menyambut Sang Mesias, kami justru bersyukur, pada saat yang sama, kami beretemu dan saling mendoakan satu dengan yang lain. Walau doa itu diam-diam bersemayam di lubuk yang entah. Kekuatan misterius itulah yang akhirnya mengerubuti segala perihal rasa yang tersemat di dalam sukma.

Setelah misa Natal usai, saya menghapirinya. Dengan detak jantung anggup-anggip, saya mengajak amoi bermata sipit itu untuk bersua. Waktu itu, saya melihat sebuah tempat yang sangat strategis untuk bertemu dengannya, itu di samping gereja. Di situ terdapat beberapa rundukan belukar. Maksud saya, kami bisa bersembunyi dari ayahnya yang kejam berkumis tebal itu, atau dari ibu saya yang selalu tak ingin saya berpacaran, apalagi rencananya, saya akan dimasukkan ke seminari (sekolah para calon imam/rohaniawan Katolik).

Ia meluruskan pandangan ke altar geraja serta-merta sesemburat senyum tumpah di wajahnya, lalu menganggukkan kepala menyetujui ajakkan saya.

Di luar gereja, orang mengumpat-umpat kami dengan senyum sinis seperti jijik terhadap kelakuan kami. Memang di kampung itu, ketika sepasang kekasih hanya duduk dan bercengkerama, akan menjadi buah bibir yang terus bergema dan tumbuh menjadi pohon-pohon baru, menghasilkan buah lagi, dan seterusnya. Sungguh aneh. Namun, saya mencoba untuk tidak menjadikan itu sebuah problem, atau bahkan menjadikannya sekat untuk mempreteli semangat saya agar tidak menunaikan temu bersama gadis kecil bernama Ria itu.

Diambilnya sapu tangan di atas kursi di sebelahnya, lalu membuntuti langkah saya menuju samping gereja. Di sana, dengan nada suara parau, saya mencoba membuka percakapan. Ia masih tersipu-sipu memperbaiki rambutnya yang terurai, sesekali mengusap-usap matanya. Namun saya yakin dan percaya, itu bukan caranya untuk tidak lama-lama membalas tatapan mata saya yang tertuju kepadanya bagaikan seekor kucing mengintai mangsanya. Ia hanya belum merasa percaya diri di hadapa laki-laki yang belum berkumis ini. Tetapi itu gumam saya sendiri untuk menahan detak jantung yang hampir copot dari dada setipis ayam kampung ini.

Dulu, Ia sering menjauh dari saya, bahkan tak pernah tatap muka dan bercakap-cakap. Ia lebih banyak mencuri pandang dari kejauhan ketika saya berlagak di lapangan voli atau di lapangan futsal. Kini, Ia benar-benar berhadapan dengan saya dan akan memulai percakapan secara langsung. Bagi Anda yang baru berusia 17 tahunan seperti dia saat itu, mungkin akan mengalami hal yang sama. Bila benar, kutunggu ucapan terima kasih kalian.

Mentari makin tinggi, persis di ubun-ubun kami, sepenggal kata belum ia daraskan, setidaknya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menantang dari saya. Ia masih saja dengan trik jitunya, mengangguk ; menyetujui atau menggeleng; tidak sepakat. Kupikir ia memang tipe perempuan tak banyak bicara, namun dia yang saya kenal sebelumnya, memang banyak bicara, suka cerewet, teriak ke sana kemari, kecuali saat berpapasan dengan saya. Ia suka berisik di pagi hari di asramanya yang kebetulan tak jauh dari asrama tempat saya tinggal, tempat kami mengenyam pendidikan, tepatnya di sebuah kota yang suhunya sangat dingin. Nama kota itu adalah kota Kapan. Kota yang berada di bawah lereng  gunung Mutis. Jika Anda ingin bertamsya ke Fatumnasi yang sangat tenar dengan pemandangan yang menyegarkan mata itu, otomatis  kalian akan melewati kota kecil ini yang selalu diselubungi kabut tiap hari, bahkan musim panas sekalipun.  

Kembali ke laptop.

Kali ini saya mengajaknya menuju sebuah ruangan kelas  di sebuah sekolah dasar yang tak jauh dari gereja itu. Maklum, di kampung itu hanya memiliki satu Sekolah Dasar. Itupun dibangun oleh leluhur saya dengan dana dari kantongnya sendiri demi menyekolahkan anak-anaknya. Kini, ada generasi yang sudah berhasil menjadi pastor, kepala sekolah dan masih banyak lagi yang menempuh pendidikan hingga sarjana. Semua berawal dari sekolah kecil di sudut kampung itu. 

Perempuan kecil yang  saya ajak itu hanya mengangguk dan menurut. Di sana, dua kursi menjadi tempat duduk bagi kami. Sedari tadi, terasa keram betis karena berlama-lama berdiri, kadang berjongkok, mungkin juga dirinya.

Di tempat kesekian itu, saya dengar ia mulai berceloteh. Ia mencoba menjelaskan betapa seluk beluk rindunya yang tak kunjuk temu, yang menghujamnya tiap malam-malam panjang datang. Saya sempat berpikir, saya siapa baginya sehingga ia menjadikannya sebagai objek rindunya. Namun, saya pernah meyakinkan diri sendiri, bahwa memang setiap tatapannya sebelumnya menciptakan nuansa yang berbeda ketimbang beberapa teman sekaumnya yang kerap memandang lepas, tawar, bahkan tak menimbulkan sedikit curiga. Setidaknya, saya termasuk lelaki kekar ganteng di antara yang lain. LOL.

Sebagaimana dua orang remaja yang tak tahu banyak mengurai kata untuk pembicaraan kala itu, kami kadang hanya terdiam menundukkan kepala ke tanah dan menggesekkan kaki ke lantai kosong. Dua sampai tiga menit kami saling bertatapan lalu senyum simpul jatuh di wajah kami, setelah itu tunduk lagi.

Matahari makin condong ke barat, lembayung turun dengan indahnya di antara leretan pohon kelapa hingga menembusi jeruji-jeruji jendela membelai tubuh kami. Kini, saya harus melepasnya pulang ke desanya. Mobil ayahnya mulai menjerit pelan di ujung gereja. Dengan cegat, saya raih sebelah tangannya, lalu dekatkan wajahnya pada wajah lusuh ini. Bibir saya menancap di pipi mungilnya yang tak lama mulai kemerahan bagaikan delima. Gumamku, rindu telah terbayar.

Ia terhentak, namun kembali terkulai tatapannya di hadapan dua bola mata saya yang mengernyit hampir tertutup. Tapi bukan seperti matanya karena ia benar-benar keturunan Cina, yang matanya hampir tertutup setiap saat. Ia melepaskan tubuhnya dari pelukan saya dan berlari meninggalkan tempat itu sambil sesekali membalikkan wajahnya dengan senyum yang tak pernah saya lihat terpampang di wajah orang lain selain dirinya. Saya tahu, itu adalah isyarat ia mengucapkan selamat tinggal. Saya membalas senyumnya dengan senyum yang sama pula.

Ia meraih kabin mobil, lalu ayahnya menancap gas meninggalkan kampung itu. Kampung Oelnunuh. Kampung yang pernah mengizinkan saya menanak rindu dengan Si Amoi dari Fatumnutu itu.

Kampung yang sempat menyimpan bekas kaki dan aroma tubuh gadis kecil itu. Harapan saya, suatu ketika, kami menanak lagi rindu menjadi sua untuk selamanya di kampung yang tak kunjung maju-maju ini. Dari situ saya ingin menciptakan rindu bagi para pejabat pemerintahan negeri ini. Salam.

Penulis: Bruno Rey Pantola | Meka Tabeite|

4 thoughts on “Menyudahi Rindu di Oelnunuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *