Merangkul Bukan Memukul

166 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Hajatan besar yang bertajuk pesta demokrasi (pilpres dan pileg) telah usai. Namun aroma yang syarat dengan persaingan ketat masih tercium sampai pada detik ini. Sebuah masa penantian yang seharusnya diwarnai dengan kesejukan dan kedamaian sembari menunggu pengumuman resmi dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) justru dimanfaatkan untuk saling “memukul” oleh segelintir orang. Berbagai tuduhan dengan gampang dan mudah diucapkan terutama oleh mereka yang tidak mau menerima kekalahan versi quick qount. KPU yang merupakan lembaga independen dan sudah bekerja keras sejak awal hingga detik ini lalu dicap sebagai lembaga yang tidak netral dan telah melakukan kejahatan yang sifatnya terstruktur, sistematis, masif dan bahkan brutal. Pertanyaannya: sebegitu kejinya kita?

Tulisan ini merupakan sebuah harapan besar dari penulis akan situasi atau kondisi yang mungkin tidak hanya diinginkan oleh penulis melainkan juga oleh seluruh rakyat yang masih berhati Indonesia. Sebuah harapan akan adanya kehangatan dalam balutan pelukan mesra berparaskan rasa solidaritas pasca pemilihan. Sebuah harapan akan lahir kembali janin “kekitaan” daripada terus memproduksi egosentrisme yang justru menyalahkan api kemarahan yang berujung pada pembelahan sosial. Merangkul mungkin ini adalah kata yang tepat untuk melukiskan situasi yang seharusnya ada saat ini. Sebab membangun bangsa yang besar ini tak cukup oleh satu lengan saja, melainkan oleh sekumpulan lengan yang telah dirangkul.

Situasi yang terjadi saat ini memang sangatlah genting yang membuat dahi penulis juga ikut berkerut sehingga ketampanan ikut memudar. Bukan karena asupan gizi ketampanan berkurang, melainkan karena banyaknya kegaduhan yang sengaja diproduksi oleh anak bangsa. Kegaduhan dan berita bohong (hoax) berseliweran di dinding media sosial dengan berbagai macam bentuk. Nada-nada kasar terus dipompa dan disuarakan secara lantang tanpa memikirkan efeknya. Padahal kita semua sudah tahu (kecuali mereka yang pura-pura tidak tahu) bahwa sudah ada UU ITE. Artinya cara kita bermedia sosial harus berlandaskan pada etika, bukan pada kemauan yang penuh dengan nafsu menghancurkan yang lain. Karena di dalam diri terlalu banyak ensim emosional, kebencian dan ketidakpercayaan akan yang lain, kita ikut memproduksi berbagai narasi ancaman. Pada ujungnya kita sendiri yang terjerat dalam jeruji sembari menyesal. Ingat dong dengan ungkapan: menyesal kemudian tak ada gunanya.

Jika sudah ada bukti satu, dua atau lebih orang yang terperangkap dengan ungkapannya sendiri ke dalam jeruji, masih waraskah kita untuk “memukul” yang lain dengan cara-cara yang tak etis? Jika kita masih berperilaku demikian mungkin kita perlu memeriksa kewarasan dan nalar kita, jangan sampai masih diselimuti racun kebencian dan ketidakpercayaan. Kita adalah Indonesia yang termanifestasi dalam sikap dan perilaku yang berIndonesia. Kita perlu melakukan anamnesis akan sosok Soekarno yang memiliki jiwa perangkul. Saatnya kita mengisi kembali ruang-ruang sosial dengan semangat persaudaraan sembari perlahan melupahkan egosentrisme yang banyak diproduksi selama masa menjelang dan saat pemilu. Kita kembali merajut dan menyambung benang Indonesia yang selama ini (sengaja) dibuat putus untuk kepentingan kekuasaan. Mungkin kita perlu meneduhkan hati pada lirik lagu: benang yang putus sambung kembali. Pada akhir tulisan ini penulis tetap berteguh pada sebuah ajakan untuk terus merangkul satu dengan yang lain dan meniadakan hasrat untuk memukul yang lain.

Foto: Hipwe.com

Penulis: Epin Solanta|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *