Merayakan Ulang Tahun Bersama Alm. Ibu

 647 total views,  1 views today



Nando Sengkang|Redaktur


Curhat ini tentang “Ulang Tahun”. Sebuah momen yang kita nanti-nantikan untuk merayakan syukur kepada Sang Pemberi Hidup, atas usia yang terus bertambah. Selain bersyukur, Ulang Tahun biasanya menjadi momen penantian akan ucapan-ucapan manis dari para simpatisan dengan iringan kado yang datang bertubi-tubi.

Ucapan yang dinantikan tentu datang dari anggota keluarga. Kala ayah atau ibu berkata-kata tiada henti di speaker gawai, menasihati penuh bijak, hingga adanya nada-nada tangisan akan rindu kepada anak di tanah rantau. Menyusul pula saudara dan saudari kandung yang mengucapkan dengan kata-kata hiburan, tanpa kiriman kado yang siap diterima. Sedangkan, kado yang paling dinantikan adalah pemberian seseorang yang dianggap khusus. Kado itu adalah doa. Hanyalah doa yang dikirimnya entah dari dunia antah berantah sana. Bagi saya, doa adalah kado yang utama dan sarat makna.


Rasa syukur, ucapan selamat, dan kado-kado, Itulah “manik-manik” yang menghiasi hari bahagia ini. Apalagi ditambah dengan nyanyian malaikat-malaikat surgawi, “Happy Birthday” hingga “Potong kuenya”, walau hanya nyanyian dan kue realistis dengan puncak menara lilin tak ada di depan mata. Utopia. Tak apa. Intinya, “Happy Birthday” dari ucapan para kolega menghibur silih berganti dengan gema-gema doa yang membuat Tuhan tak bisa tidur siang.


Foto dan Senyuman yang Kaku


Hari ini, 17 Juli 2020, saya merayakan ulang tahun. Usianya cukup matang dan bisa dicap dewasa, walaupun kedewasaan itu sendiri tidak mutlak hanya dilihat dari usia. Tak perlu disebutkan berapa usia saya. Intinya, cukup matang dan sudah dewasa barangkali. Atas usia baru ini, saya menyanyikan Puji Syukur yang tak henti atas rahmat Yang Kuasa.

Perayaan Ulang Tahun cukup sederhana. Pertama dan yang utama adalah merayakannya di dalam Ekaristi yang mulia. Merayakan di dalam doa dan Ekaristi ibaratnya agar Tuhan tahu kalau makhluk mungil dan lucu hasil racikan tangan kuasa-Nya berlutut dan menyanyikan syukur sebagai balasan. Rasa syukur adalah balasan sederhana dan utama akan Mahakarya Yang Kuasa, tanpa harus meminta ini-itu yang membuat kebisingan di telinga Tuhan. Bersyukur saja dan itu saja, lalu tersenyum bagi sesama dan para musuh.


Perayaan kedua adalah “Masuklah ke dalam kamarmu, kuncilah pintunya, dan berdoalah”. Kali ini saya berdiri di depan sebuah foto bisu yang hanya tersenyum kaku, tanpa kehadiran kembali atau tersenyum di dunia mimpi. Itulah foto Alm. Ibu yang telah pergi sejak 8 Oktober 2018. Sejak kepergian itu, ibu tak kembali dan tak akan pernah kembali ke dunia makhluk bumi. Ibu hanya menatap dan tersenyum dari dunia Surgawi, yang diagungkan oleh orang-orang beragama dan (sok) suci. Lalu menari dan bermain orkestra dengan para malaikat surgawi. Semoga.


Mungkin, sesekali ibu datang mengelus pipi, kala aliran air mata mengalir bersama rindu yang tak kenal malu, namun kedatangannya hanyalah melalui jiwa-jiwa yang tak kasat mata. Mungkin juga ibu sering duduk bersama, kala tengah malam saya berdiam diri (Berdoa) di hadapan fotonya dengan “senyuman” lilin memecah malam. Ya, mungkin saja, walau kenyataan yang tak bisa dimungkiri adalah tubuhnya telah tertidur kaku di dalam kuburan gelap dan penuh gonggongan anjing-anjing kematian. Inilah kenyataan pahit. Saya dan para saudara yang mengalami hanya bisa terpaksa tersenyum, agar terlihat kami sangat mudah terhibur—demikian Ilham Nietzsche.


Bersyukur Saja


Merayakan Ulang Tahun bersama Alm. Ibu adalah momen yang sungguh bahagia. Walaupun kehadirannya hanya melalui foto yang tersenyum kaku, namun suasana hati mendapat hiburan bahagia. Mungkin, hiburan itu adalah gema nyanyian ibu bersama grup orkestra surgawi, yang dikirim Tuhan tanpa banyak basa-basi.


Tuhan begitu baik. “Terpujilah nama Tuhan” kata Si Pemazmur dalam nada-nada pujiannya. Mengangkat Pujian Syukur dalam momen seperti ini adalah tanda anak-anak-Nya tahu berterima kasih. Lantas, sudahkah kita mengucapkan “terima kasih”?

Jakarta, 17 Juli 2020

1 thought on “Merayakan Ulang Tahun Bersama Alm. Ibu

  1. Kenangan indah tak terlupakan
    Jasa seorg ibu dg cita2 mulianya
    Pasar Sotor dg durennya mengingatkan sy pd alm. mamiku…
    Maju trs Fr Nando alm Ibu pasti menyeratai Fr sll
    Gnu🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.