Mose Dokong One Lino, Filosofi Tentang Hidup yang Hanya Sementara

Hidup; cerita dan kemungkinan-kemungkinan (Foto dari Pinterest.com)

 384 total views,  1 views today


H. Herianto|Kontributor

Kehidupan manusia tak ubahnya sebuah cerita pendek beralur maju. Setiap adegan dalam kehidupannya terus bergerak maju, tanpa pernah kembali kepada masa silam. Kenyataan demikian memaksa manusia untuk menjalani kehidupannya yang sekarang, dan merancang sebuah masa depan yang cerah, cemerlang dan indah.

Manusia pada gilirannya tidak punya kuasa dan kesempatan untuk menghidupi masa lalu, betapapun itu indah, mencengangkan dan memesona. Karena beralur maju, kehidupan manusia akhirnya adalah sebuah kesementaraan dan kefanaan, serta selalu berakhir pada kematian. Hal fana itu membuat manusia terdesak untuk memaknai hidupnya saat ini dengan sebaik-baiknya.

Manusia tidak lagi dipaksa untuk menatap kehidupan setelah kematian, kendati itu mutlak dibutuhkan, terutama dalam kehidupan beragama. Keharusan manusia untuk tidak selalu menatap ke alam setelah kematian bukan berarti ia menyangkal iman ataupun keyakinan religiusnya. Pada poin ini manusia sebenarnya diundang untuk menjalani kehidupannya yang sekarang dengan sebuah pemaknaan yang penuh, dalam kerangka hidup yang baik dan benar serta bertindak adil bagi yang lain.

Undangan di atas mendesak sebab kehidupan, setidaknya sejauh kita tahu, hanya berlangsung saat ini dan tidak seorangpun tahu secara pasti kehidupan setelah kematian. Soal pemaknaan dimensi present dari kehidupan manusia inilah yang hendak saya sentil dalam tulisan sederhana ini. Perlu ditegaskan bahwa tulisan ini tidak memaksudkan sebuah penolakan atau kesangsian atas kepercayaan akan adanya dunia atau alam setelah kematian, dan bukan pula soal iman atau kepercayaan. Tulisan ini hanya refleksi dan analisis sederhana, dengan tujuan mengajak setiap manusia untuk memaknai kehidupannya yang sekarang dengan sepenuh-penuhnya.

Hidup Hanya Sementara

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, kehadiran di dunia adalah kesementaraan yang hingga saat ini tidak bisa disangkal siapapun. Dalam filosofi masyarakat Manggarai, kesementaraan kehidupan di dunia para manusia dirangkum dalam sebuah ungkapan menarik ‘mose dokong one lino’. Mose dokong one linoartinya kehidupan manusia di dunia ini hanya berlangsung sesaat, sejauh kita hidup sebelum kematian. Dalam bahasa penulis, kehidupan di dunia ibarat sebuah cerita pendek yang pasti punya akhir, betapapun punya adegan tersendiri nan khas dan menarik.

Penegasan bahwa hidup di dunia itu sementara (mose dokong), menjadikan kehidupan manusia sebagai sebuah penziarahan menuju akhir kehidupan yakni kematian. Nah, pertanyaan penting yang muncul karena sifat ketakabadian ini adalah apa yang mesti dibuat dalam penziarahan ini? Atau bagaimana kita, setiap manusia, mesti menjalankan serta memaknai kehidupannya sehari-hari?

Menjawab kedua pertanyaan di atas tidaklah mudah. Pertama-tama, kita mesti sadar akan kenyataan bahwa keberadaan kita di dunia adalah kehadiran di tengah manusia lain dan berbarengan dengan ciptaan lain. Dalam bahasa Heideggerian (pengikut filsuf Jerman, Heidegger), setiap manusia hadir dan selalu berada bersama yang lain. Kehadiran yang lain, pada gilirannya, mesti memiliki porsi tersendiri dalam upaya memaknai hidup. Artinya penghayatan akan kesementaraan hidup tidak membuat kita mengabaikan sesama. Lebih jelasnya, pemaknaan hidup yang sementara selalu mengandaikan keterhubungan antara aku dan sesama, antarmanusia. Lantas apa yang mesti kita lakukan untuk memaknai hidup tanpa mengesampingkan, serta menyangkal kehadiran orang lain di sekitar kita?

Dalam kehidupan masyarakat Manggarai, ada beberapa hal pokok yang mesti dilakukan oleh manusia dalam mengisi mose dokong agu hae ata one lino(hidup sementara bersama orang lain di tengah dunia), yakni:

Pertama,neka mese nai agu hae ata(jangan berlaku sombong terhadap orang lain atau jangan merendahkan orang lain). Pemaknaan akan kesementaraan hidup dalam dunia oleh orang Manggarai ditunjukkan dengan pesan untuk neka mese nai agu hae ata. Pesan ini tidak hanya merupakan larangan yang mesti diindahkan, melainkan mesti diwujudkan dalam praksis hidup. Neka mese nai agu hae ata pada dasarnya mengetengahkan suatu hal mendasar, yakni agar setiap orang menghargai kehadiran orang lain di sampingnya. Penghargaan yang demikian bukan karena yang lain adalah kerabat atau keluarga, tetapi karena orang lain adalah dia yang sama sepertiku.

Dalam perintah neka mese nai agu hae ata, orang lain tidak ditempatkan sebagai yang lebih rendah keberadaannya. Sebaliknya, ia dilihat sebagai yang setara denganku dan tanpa kehadirannya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Contoh praktis penerapan pedoman hidup harian ini adalah orang Manggarai diajari untuk memanggil orang lain sebagai ite (sebutan sopan dan halus) ataupun menyapa pihak lain sebagai toe ata bana(bukan orang lain). Pesan neka mese nai agu hae atadalam keseharian hidup orang Manggarai memiliki relevansi dan nilai penting bagi kehidupan setiap manusia. Hal ini menegaskan agar dalam memaknai sekaligus menikmati dimensi kekinian kehidupan, manusia mesti berlaku baik atas sesamanya.

Setiap manusia wajib menghargai orang lain sebagai yang semartabat dengannya. Penghargaan ini mesti lepas dari segala kategori yang dibuat oleh manusia seperti suku, kebudayaan, warna kulit, agama dan apalagi aliran politik. Kewajiban ini, dari sendirinya, mengutuk setiap tindakan yang mencelakai harkat dan martabat manusia seperti pembunuhan, rasisme, terorisme, pemerkosaan, human trafficking dan seterusnya.

Kedua, neka daku ngong data (jangan merebut kepunyaan orang lain). Mengisi kehidupan yang fana dengan keegoisan dan kebrutalan perilaku sangat ditentang dalam khazanah kebudayaan serta alam pikir masyarakat Manggarai. Sebaliknya, mereka memiliki cita-cita amat luhur, yakni menjalani sebuah kehidupan yang penuh dengan kedamaian, persaudaraan dan keintiman relasi guna memajukan kehidupan bersama.

Nilai neka daku ngong data adalah mengajak orang Manggarai untuk tidak mengambil atau merebut apa yang menjadi kepunyaan orang lain. Awalnya konteks larangan ini berada pada lingkup persoalan tanah. Setiap orang Manggarai diwanti-wanti untuk tidak merebut tanah orang lain, ataupun mengusiknya. Hal ini tidaklah aneh sebab dalam sejarah masyarakat Manggarai, persoalan tanah telah banyak menimbulkan perpecahan dan bahkan kematian yang tak terhindarkan. Lepas dari konteks demikian, larangan ini kemudian berlaku dalam setiap bidang kehidupan, semisal larangan untuk tidak merebut harta orang lain (mencuri dan merampas). Pesan khas orang Manggarai ini memiliki nilai mendasar bagi kehidupan manusia universal yang juga menjalani mose dokong one lino. Dalam konteks Indonesia, pesan ini ditunjukkan kepada para politisi tertentu yang biasa berperilaku koruptif. Halnya menggarisbawahi bahwa korupsi adalah tindakan yang menciderai kedamaian dan keharmonisan kehidupan bersama.

Menuju Pembelajaran Bersama

Uraian-uraian di atas menerangkan bahwa kehidupan yang sementara ini mesti dimaknai sebaik-baiknya. Dalam kehidupan bersama, memaknai kesementaraan hidup ditunjukkan dengan melakukan dan atau membangun sebuah kehidupan yang bercirikan keharmonisan. Keharmonisan dan pemaknaan yang kaya, mesti dinyatakan dalam sikap menghormati dan menghargai sesama.

Filosofi mose dokongone lino dalam masyarakat Manggarai bermaksud mengajak setiap insan untuk membangun sebuah kehidupan yang diwarnai ketidakadanya mese nai agu hae ata ataupun upaya mengambil kepunyaan orang lain. Penerapan pesan sekaligus filosofi yang mengarah pada pemaknaan mendalam terkait kesementaraan hidup di dalam masyarakat Manggarai, mengantar setiap manusia untuk menggapai kehidupan dunia bercitarasa surga. Artinya kehidupan di dunia, kehidupan sekarang dan saat ini, hit et nunc, mestilah dirindukan serta diwujudkan secara indah, cemerlang, baik, benar, utuh dan sempurna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.