“Mukang”, Cara Bertahan Hidup Orang Kampung

 579 total views,  1 views today


Antony Sanur|Kontributor

Selasa, 07 April 2020. Pukul 09.16. Pagi yang cerah. Saya berangkat dari Ntaram  menuju Lempang Paji tempat saya selama 2 tahun terakhir ini bertugas. Setelah pamit singkat pada orangtua, saya langsung tancap gas bersama Honda CBR kesayangan.

Di Menton perjalanan saya terhenti. Di depan rumah Pak Mus, bapaknya Popin Davianus (tua golo Tabeite), saya  mendengar permintaan  dari pemilik rumah “Cenggo kate di a. Pe kudung apay awo ho?”  

Saya tidak bisa mengelak. Ada niat untuk berhenti sebentar saja. Namun hangatnya diskusi dan suguhan “penghangat” membuat kata pamit meneruskan perjalanan, kabur jauh. Keengganan untuk pamit dipertegas dengan banyaknya ase kae yang ikut nimbrung dalam ‘ngumpul spontan’ pagi itu.

Ada banyak hal yang kami bicarakan. Tapi satu yang dominan: Covid-19. Isu corona  sudah menjadi bahan pembicaraan umum. Biar sudah di’toser’ untuk diskusi tema lain, hasil akhirnya selalu kembali ke Covid-19. Ada yang bernada cemas. Ada yang tetap optimis dan berharap wabah ini segera berlalu dan yang penting tidak panik serta selalu taat pada instruksi pemerintah. Jaga jarak, jaga kebersihan: Anda aman!

Di tengah hangatnya diskusi, pandangan saya sempat tertuju dan terpaku pada sebuah pondok di persawahan Lembur. Asap api mengepul di sana. Ada tiga atau empat orang di pondok itu. Salah satunya sedang memperbaiki atap pondok. Satu orang lagi sedang menampi sesuatu. Seorangnya lagi tampaknya sedang mengelilingi pondok itu sambil memperhatikan dinding-dindingnya. Saya memohon izin memotret  pesona itu.

Pe mukang nitu ise ga Romo” kata salah seorang di antara kami. Entah siapa, karena pandangan saya masih tertahan pada pemandangan menarik itu.

Mukang? Kata itu mengembalikan saya pada pengalaman masa kecil dan beberapa cerita tentangnya. Beberapa keluarga di kampung  kami pernah melewati masa itu.  

***

Secara sederhana mukang dapat diartikan sebagai tinggal di kebun dalam waktu yang relatif lama (biasanya selama satu musim tanam). Bisa pula dipahami sebagai berumah di kebun,  berkebun dari pondok. Saya tidak tahu di tempat lain kebiasaan ini dinamakan apa. Tapi untuk kami orang Congkar, namanya mukang.

Umumnya orang memilih hidup mukang demi memperhatikan kebun mereka secara lebih intensif. Bisa merawatnya dengan baik. Juga untuk menjaga tanaman di kebun mereka dari serangan babi hutan, tikus, atau pun burung-burung pengganggu tanaman mereka.

Orang juga menjalani hidup seperti itu bila di kampung mengalami masalah seperti wabah atau karena masalah sosial lainnya. Misalnya bila di kampung marak tetelo pada ayam, ada orang yang memindahkan piaraannya itu ke kebun dan dia pun tinggal di sana untuk merawatnya.

Pernah diceritakan juga oleh orang-orang di kampung kami bahwa dulu pernah  terjadi wabah hebat seperti Corona sekarang ini.  Terjadi kematian massal akibat wabah yang mereka sebut sebagai peristiwa ‘bambong ata’.  Hanya orang yang imunnya bagus dan yang sementara mukang di kebun yang selamat sampai wabah berakhir.

Hidup mukang bukan tanpa tantangan. Risiko paling pertama tentunya adalah jauh dari keramaian kampung. Orang-orang yang tidak bisa menyepi pastinya sulit untuk bisa mukang.

Para penakut juga jelas tidak bisa hidup seperti ini. Di tempat mukang  seringkali terjadi gangguan, dari binatang malam ataupun dari hal-hal lainnya. Sering orang-orang yang pernah mukang bercerita kalau mereka biasa diganggu oleh hal-hal yang mereka tidak mengerti. Kata kami orang Congkar: Areng. Di tempat itu juga sulit mendapatkan barang-barang yang hanya dijual di kios-kios yang biasanya hanya ada pusat kampung.

Biasanya sebelum memilih hidup mukang orang mempersiapkan diri dengan baik.  Segala keperluan hidup seperti makanan, alat masak, kerja dan tidur harus disiapkan secara baik dan banyak karena sesekali saja orang yang mukang kembali ke kampung (biasanya kalau ada acara penting di kampung).  Orang yang mau  mukang juga harus siap menyepi,  harus kuat, tahan banting dan tidak takut.

Ya, paling kurang begitu sedikit gambaran tentang mukang yang saya ingat. Mukang  memang merupakan kebiasaan hidup orang-orang di masa lalu, namun untuk konteks pandemi corona sekarang ini, hal itu kembali menjadi relevan.

Instruksi jaga jarak sosial terus didengungkan akhir-akhir ini. Dalam situasi ini, mukang mungkin bisa menjadi salah satu solusi alternatif untuk mencegah dan terhindar dari sengatan Covid-19.  

***

Dalam perjalan pulang selepas pamit dari ‘ganda-ganda’ di Menton saya sempat ditahan di Posko Covid-19 Mendang. Di sana saya mendapat beberapa informasi tentang Covid-19 sesuai protokol pemerintah mengenai Covid-19 yang salah satunya untuk menjaga jarak sosial. Kembali bayangan saya terbawa pada keluarga yang hendak mukang di persawahan Lembur, ia telah memilih satu solusi yang baik dalam kurun Covid-19 ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.