Nana, Apa Kabar?

 1,565 total views,  2 views today


|Penulis: Nando Sengkang|Redaktur|

Nana Andoks Lockdown. Mengikuti saran dari yang terhormat sampai yang ter-umet. Dari barisan calon sampai barisan para mantan. Hingga dari Ende-Ema sampai enu-enu penggemar.

Semangat hidup Nana Andoks di tanah rantau ikut down-down. Ya, walau Nana terkurung—mirip ayam pedaging Om Mboik—tapi hati Nana tetap Opendoor—Welcome for Enu Mengger, ikut-ikutan istilah bule Baby Blue di Cepi Watu. Maklum Nana jomlo, sejak alfa dan omega. Dan omega ke alfa.

Jauh-jauh Nana Andoks datang dari kampung yang buat pusing Google Map dan Nona Telkomsel naik darah. Kalau telepon suka marah-marah, “Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon menghubungi PEMERINTAH Manggarai Timur agar (bukan hanya) tiang listrik segera masuk desa.” Dasar nona Telkomsel.

Nana Andoks merantau. Datang tanpa diundang. Hanya untuk mengadu nasib di Ibu KotaSiapa tahu setan tolak, saya jadi bora,” kata Abang Illo Djeer, dalam lirik lagunya yang berjudul Rastamangga.

Kedatangan Nana Andoks rupanya bukan memenuhi kebutuhan ekonomis. Atau ikut-ikutan tren zaman now, “Orang kota pulang ke kampung-Orang kampung pergi ke kota. Ternyata, Nana korban belis mahal Enu Rena, yang setelah wisuda hasil keringat Ende-Ema dipanggil ‘perawat’.

Awal-awal Nana Andoks PD sekali. Nana pura-pura sakit galau, karena rindu Enu Rena, Nana parkir oto di depan Puskesmas Borong. Maklum, Nana sopir tembak, Waerana-Borong PP. Berawal dari ahli jadi sopir tembak, Nana up down jadi Tukang Tembak hati enu-enu, dengan panah asmara. Korbannya jelas, Enu Perawat.

PD sekali Nana Andoks masuk ruang perawatan. Mengeluh sakit jantung. Nafasnya satu-satu. Kalau dua-tiga-empat, itu namanya berhitung. Mirip lagu “Turun Naik Terus”. Sedikit lagi, menghadap Nenek Yesus.

Jelas Enu Rena panik huru-hara. Mirip orang Manggarai kerasukan setan. Enu ambil Rosario Mama Bunda. Doa komat-kamit sana-sini. Lalu siram pakai air berkat. Tetap saja Nana Andoks meronta-ronta, mirip cacing kepanasan. Mungkin karena absen ke Gereja, kurang lebih lima tahun.

Tak tahu apa lagi, Enu Rena, coba-coba. Enu lalu meletakkan telapak tangan di atas dada Nana Andoks. Oleeee sa’dis aeh, mujizat tiba-tiba. Mirip Nenek Yesus membangkitkan Lazarus. Atau Nana Itok Aman (Youtuber baru dari Matim) buat baper anaknya Inang.

Nana Andoks tiba-tiba bangkit. Wajahnya bersinar laksana lampu gas dengan minyak tanah penuh tangki. Senyumnya nikmat kopi pa’it. Sakit galau tiba-tiba sembuh tanpa rujuk, tidak makan biaya maupun bantuan BPJS. Setelah itu, Nana minta obat mingguan agar sehat terus, yaitu nomor WA. Tanpa pikir panjang, Enu Rena ambil pena, tulis +62xxx, lalu diakhiri ikon perasaan berbentuk jantung merah ukuran kecil.

Tanpa basa-basi dan stop tipu-tipu, Nana Andoks say halo, karena rindu mulai memuncak. Dari sebelah, suara manis langsung mendarat. Nadanya menyejuk hati. Buat adem barisan Nana Manggarai yang jomlo rupawan, “Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon menghubungi PEMERINTAH Manggarai Timur agar tiang dan listriknya segera masuk desa.” Dasar nona Telkomsel tukang gosip. Nana baru sadar ternyata kampungnya masih gelap gulita, sedangkan di rumah pemerintah terang benderang. Mirip bulan purnama. Mungkin itulah keadilan zaman now.

Waktu singkat berlalu. Setelah berteman mesra, selama 3 tahun, Nana Andoks siap melamar. Dengan oto pinjam dari Om Antok, Nana tancap gas ke Benteng Jawa. Biar jauh dari Waerana, itu tak membentengi cinta yang terbayang-bayang jumawa di Benteng Jawa.

Sekeluarga Enu Rena menyambut baik. Kopi tanda budaya mulai menyambut hangat. Tiba-tiba tanpa KKN, atau uang cuci tangan, juru bicara langsung hantam, “Siap belis 200 juta. Titik, tidak pakai koma, apalagi main-main Tik-Tok, titik.”

Nana Andoks penikmat kopi pai’t tiba-tiba tak bisa meneguk kopi yang nian nikmat. Angka nominal belis lebih pahit dari kopi se-Manggarai. Suasana dingin Rana Mese berubah panas seperti Terminal Borong. Suasana tegang. Tanpa cipika-cipiki, Nana Andoks undur diri. Syukur tidak gantung diri.

Itulah yang mendorong Nana Andoks jauh-jauh datang ke Ibu kota. Prinsipnya santai, “demi cinta, Nana rela.” Lamar kerja sana sini. Mulai dari satpam kampus sampai dengan penjaga hati, 24 jam menjaga cinta. Maklum, Nana tipe pekerjakeras—berawal dari dengar suaranya Kaka Illo Djeer, “Anak Rastamangga, gemar kerja keras dan sukar putus asa” yang diselingi lagu Pempang.

Saking semangat bekerja, Nana Andoks dapat uang tambahan. Akhirnya, tak ambil pusing, Nana kuliah di Atma Jaya. Dari satpam penjaga kampus, sekarang berubah menjadi penjaga perpustakaan. Nanahobi membaca. Mulai dari buku-buku “kewanitaan”  hingga cara memasak yang baik—biar bisa masak sate alias Saundaeng Teneng. Dari buku menjadi ayah yang baik, hingga buku “Keluarga Tanpa KB”,Biar mengamalkan perintah Kitab Kejadian.

Karena hobi membaca, Nana tak kesulitan mengerjakan soal kecilan. Sebab, prinsip kedua Nana santai, “Cintanya Enu, saya takluk, apalagi soal yang tak punya cinta.” Jelas laju belajar Nana lebih kencang dari motor petugas koperasi harian. Hingga tak terasa, Nana mau wisuda.

Gara-gara virus Corona, proses wisuda Nana berhenti sejenak. Mungkin istirahat extra time dalam sepak bola. Nana lockdown. Menaati Yang terhormat dan pesan Enu-enu penggemar. Demi Bonum Comune (kebaikan bersama).

Hingga suatu hari, tiba-tiba pesan WA masuk. Foto profilnya familiar, “Nana, Apa Kabar? Enu terlalu rindu, kapan Nana pulang? Atau sudah lengket dengan Mba Jawa ko? Intinya Enu setia tunggu Nana—selamanya.”

***

Tanpa basa-basi dan stop tipu-tipu, setelah wisuda dan punya pekerjaan tetap, Nana Andoks tancap gas tembus Benteng Jawa.

Belajar Bhs. Manggarai

  • Enu Mengger: sebutan untuk wanita Manggarai
  • Enu/Nana: sebutan untuk perempuan/laki-laki
  • Pempang: Menggigil
  • Saundaeng Teneng: Sayur daun singkong
  • Ende-Ema: bapa mama
  • Inang: mama mantu
  • Cipika-cipiki: ciuman
  • Kopi pait: kopi tanpa gula
  • Imus Rebok: senyuman manis
  • Ole sadis: terlalu kejam, dalam konteks cerita: merasa heran
  • Nona Telkomsel: istilah tanggapan pihak Telkomsel yang biasa pakai suara Nona-nona.
  • Uang cuci tangan: praktek korupsi

3 thoughts on “Nana, Apa Kabar?

  1. Ole belom klimax gara Corona ini tulisan, sudah tancap gas belom sampe Brnteng🤣🤣🤣
    Di tunggu lanjutannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.