Nasib Buruk Satu Stasi dengan Mahasiswa UKI ST Paulus Ruteng

1,573 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini


Sebagai umat Katolik yang menjujung tinggi adagium qui bene cantat bis orat alias yang bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali, walau suara cempreng, saya penuh percaya diri bergabung bersama kelompok kor di stasi kami yang nama santu dan letak stasisnya tidak usah saya sebut di sini, takutnya ada yang tersungging, eh tersinggung!


Sebagai ciptaan Tuhan, tentu manusia punya keterbatasannya masing-masing. Jangankan saya, tokoh sekaliber Rocky Gerung saja, saat menyanyikan lagu Air dan Api di salah satu stasiun tivi nasional, falsnya minta ampun, tingkat Dewa lagi. Om Rocky kacau ah.


Rocky menyanyi untuk pemirsa seluruh Indonesia yang pulaunya berjajar dari Sabang sampai Merauke, pun dari Miangas hingga pulau Rote tanpa rasa bersalah. Sementara saya? Why not, alias kenapa tidak? Bukankah saya bernyanyi untuk Tuhan yang selalu memaafkan kesalahan anak-anaknya itu. Iya toh? Niat baik saya, diterima dengan baik pula oleh Bapak Dewan Stasi dan seluruh anggota kor. Sebelum latihan malam itu dimulai, Bapak Dewan Stasi berceramah panjang lebar di teras rumahnya, mulai dari jadwal latihan kor, uang kolekte, hingga topik politik pun diembatnya. 

Dalam ceramah itu, secara khusus beliau melemparkan ucapan terima kasih kepada saya, disusul gemuruh tepuk tangan anggota kor yang mampu mengalahkan suara mesin generator milik Bapak Dewan Stasi tepat di belakang rumah dekat kakus. Uisss, Sebagai manusia biasa, tentu saya  bahagia dan terlena dalam pujian.

Saya memilih bergabung dalam kelompok suara bas, yang mereka sebut suara 4. “Nana mai masuk bas kaut ite,” ajak seorang anggota kor yang badanya kekar dan suara menggelegar. Ada juga yang membujuk masuk tenor, yang mereka sebut suara 3. Parahnya, ada ibu-ibu yang mengajak masuk kelompok alto, yang mereka sebut suara 2, padahal saya berkumis dan tidak lemak gemulai, masa masuk kelompok suara perempuan. Ingin saya tackle ibu-ibu itu, biar berhenti berkelakar. 


Mengingat suara cempreng saya adalah musibah, saya pun masuk kelompok bas. Yang saya tahu, masuk kelompok bas itu berarti jenis suaranya rendah, saking rendahnya, suara yang fals dan suara yang bagus susah diidentifikasi.

Bapak Dewan Stasi kemudian berjalan dari sudut ke sudut membagikan teks kor. Dengan penuh percaya diri, saya mengambil satu dari tangannya dan mulai menghentakkan kaki sambil menggoyangkan kepala. Saya membuat diri seolah-olah paham lagu tersebut dan lancar baca not. Beruntung lagu dari teks kor yang dibagikan itu, temponya cepat, kesannya saya bukan anggota kor abal-abal.  


Kemudian nasib sial menimpah kelompok bas. Menurut telinga Bapak Dewan Stasi yang adalah pemimpin kor, suara kami terdengar fals. Padahal kami telah bernyanyi dari hati, penuh penghayatan.


Tanpa ragu-ragu Bapak Dewan Stasi menunjuk saya untuk menjadi mentor di kelompok suara bas.  Sudah jatuh, ditimpah tangga pula, barangkali begitu kalimat paling cocok yang mesti disematkan kepada saya atas situasi di malam itu.

Saya tidak paham, atas dasar apa Bapak Dewan Stasi menunjuk saya. Dugaan saya, karena kami pernah berduet di sebuah pesta sambut baru di kampung. Padahal, waktu itu dia lagi mabuk berat, Lagu Helena yang kami bawakan terdengar seperti lagu komedi.

Orang-orang tertawa, entah dikarenakan tingkahnya beliau yang teramat norak sebagai seorang pemabuk atau karena suara saya yang fals, tidak karu-karuan. Bodoh amat!! Itu masa lalu. Masalahnya sekarang saya ditunjuk menjadi mentor di kelompok bas, padahal saya adalah manusia yang buta baca not, hanya bermodal percaya diri maka bergabung dengan kelompok kor di stasi kami ini.


Dut dut dut dut. Suara generator semakin mengecil,disusul lampu rumah Bapak Dewan yang menyerupai kunang-kunang, mati hidup, mati hidup. Setelah dicek, ternyata solar habis. Terima kasih Tuhan, Dikau membebaskan saya dari tekanan ini, begitu doa saya dalam hati. Sekaligus saya berterima kasih kepada pemerintah Manggarai Timur yang sekadar berjanji bahwa PLN segera masuk kampung, realitanya di kampung kami berteman generator dan petromaks.


Malam berikutnya persediaan solar Bapak Dewan Stasi berlimpah, tapi saya tidak mau datang lebih awal. Saya kupingi dari jauh, saat latihannya sudah dimulai, baru saya nongol.


Malam ke berikutnya, masih tentang latihan kor di rumah Bapak Dewan Stasi, bahagia bercampur sedih menyelimuti hati saya. Bahagia karena kelompok suara bas sudah dimentori mahasiswa STKIP Ruteng. Artinya aib saya tentu tidak terbongkar. Sedihnya, sebagai sesama mahasiswa, saya kalah bersaing. Sudah jauh-jauh kuliah ke Jawa, melewati puluhan kabupaten, menyebrangi ratusan sungai, pulang-pulang masih buta baca not. Ingin saya teriak, cuka ra’a!!


Saya angkat topi, rata-rata mahasiswa STKIP, eh sabar, sekarang sudah beralih status menjadi Universitas Katolik kan? Intinya, mahasiswa dari UKI ST Paulus ko STKIP di stasi kami jago-jago baca not, mereka punya potensi menjadi dirigen.

Bapak Dewan stasi mesti hati-hati, sebab posisinya terancam. Baik posisi sebagi Ketua Dewan Stasi maupun sebagai dirigen. Beberapa kali mahasiswa UKI ST Paulus memperbaiki  nada kres atau sederhanannya nada yang dinaikan setengah dari nada dasar yang salah diucapkan oleh Bapak Dewan Stasi. 

Kemudian beliau tersipu malu, sama seperti saya, hanya saja malu saya diam-diam, tidak disaksikan banyak orang.


Sejak saat itu hingga hari –H,  kor stasi kami diambil alih mahasiswa UKI ST Paulus, jumlah mereka 4 orang. Sebagai sesama mahasiswa dan dari stasi yang sama, jelas saya cemburu. Saat latihan kor dijeda, mereka dipuji-puji dan diistimewakan. Mereka diberi kopi manis. Sementara saya hanya dihidangkan kopi pahit. Bapak Dewan Stasi menyodorkan mereka bungkusan rokok surya, saya hanya menikmati kepulan asapnya, yang saya bakar hanya api cemburu pada rokok Halim, yang entah pabriknya di kota mana.


Andai masih semester satu, saya pasti sudah pindah ke UKI ST Paulus Ruteng. Supaya Bapak Dewan Stasi dan masyarakat senang. Supaya saya menikmati rokok surya dan kopi manis. Ah sialan!!

Sebenarnya Bapak Dewan Stasi itu adalah Bapak saya. Saya seperti anak yang ditelantarkan. Sedih gaes!

Penulis : Popind Davianus|Tuagolo|

1 thought on “Nasib Buruk Satu Stasi dengan Mahasiswa UKI ST Paulus Ruteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *