Neira dan Banda yang Tak Lagi Sama

Foto: Pikiranrakyat.com

 498 total views,  1 views today


Itok Aman | Redaksi

Saya baru saja pulang dari salah satu kafe di pinggiran jalan seputaran Kota Labuan Bajo. Kemarin, ada perusahaan di sini menawari saya job untuk jadi penerjemah. Saya sudah telanjur sepakati job trip overland ke Ende selama empat malam dan lima hari. Lantas saya rekomendasikan calon suami dari seseorang yang pernah saya dekati dua dan tiga tahun lalu untuk menerima job itu.

Malam ini saya ke kafe, janjian dengan pihak perusahaan untuk membantunya bagaimana soal upah yang harus teman saya itu dapat.

Bukan itu persoalannya. Setiba di kafe yang saya biasa pergi seperti malam-malam sebelumnya, malam ini agak berbeda di sana. Saya menemui istri seorang teman yang duduk berlima dengan empat laki-laki asing di mata kepala saya sedang bercanda dengannya sambil mengelilinginya di meja yang sama.

Saya tahu baik keluarga kecil itu selama beberapa tahun terakhir semenjak kami sering saling silaturahmi. Perempuan beranak satu itu sering berjumpa dengan saya dan kawan-kawan saat ia bersama suaminya. Ia kerap menutup auratnya. Mungkin, ia selalu ingin tampil menghargai auratnya hanya untuk suaminya. Bukan untuk dipertontonkan pada banyak orang bahkan hanya sehelai dari rambutnya saja.

Malam ini, saya melihat ia dengan sebuah sloki berisi junggle juice di hadapannya, dengan sebatang rokok jenis mentol yang diapit dua jari manis dan telunjuknya.

Ia seorang perempuan Jawa yang sangat cantik. Senyumnya menggoda, memang. Bahkan ketika saya pulang dari kafe itu, saya masih bisa membayangkan dengan jelas raut wajahnya hingga menceritakan tentang ini di hadapanmu. Pun tanpa sengaja saya melihat dua puting payudaranya, sebab ia tak mengenakan bra dengan kaos oblong putih yang tipis malam ini. Akan sangat tidak normal jikalau saja saya tak mengenang senyumnya.

Namanya Neira. Seorang perempuan saleh di sebuah kota kecil yang kerap saya kunjungi. Ia kerap dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan muda yang getol dengan segala kreativitasnya mengampanyekan tentang hak hidup anak-anak, feminisme, dan gender di hadapan kaum muda di kota kecil itu. Ia sosok yang ramah, senyumnya meneduhkan siapa saja. Namun pendiam kadang-kadang.

Sedangkan suaminya, seorang lulusan sarjana yang juga tak kalah kreatif dari istrinya yang cantik itu. Ia pegiat komunitas yang fokus pada pengembangan produk lokal di kota tersebut.

Beberapa kali, saya berkunjung ke rumah mereka. Tak ada yang ubah selama mereka bersama. Saya tahu baik, Mba Neira sosok perempuan yang menutup auratnya untuk menghormati lelaki kesayangan yang dipanggil ayah oleh putri cantik mereka.

Sebulan terakhir saya ke sana, ada yang berbeda. Mba Neira tak lagi mengantarkan kopi saat saya dan suaminya duduk bercanda di beranda rumah mereka. Namun Mas Banda, suaminya yang membuatkan kopi untuk saya dan dia sendiri.

Tanpa beban, saya spontan bertanya; “Kaka Nona di mana, Bung?”

“Di Labuan Bajo kayaknya, Bro. Yah, begitulah.” Jawabnya sambil menghela nafas panjang dan lengan kanannya memelas dadanya yang lebar itu.

Malam ini, saya tak sengaja bertemu istrinya di sebuah kafe yang penuh dengan kepulan asap di antara kerlip lampu, musik, pun aneka alkohol. Tempat yang mungkin jika seseorang yang lain bercerita pada saya bahwa ia bertemu Mba Neira di sana, saya tidak akan percaya.

Demikian pun saya, beberapa detik menatap wajahnya sambil memastikan dalam batin saya sendiri; Mba Neira yang soleh dan perempuan pegiat gender itukah di hadapan saya ini? Ah, kok bisa di sini? Laki-laki siapa ini? Mengapa begini? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain muncul seperti mengguncang batin saya sambil membayangkan wajah suami dan putrinya.

Lebih parahnya, batin saya sampai pada membayangkan hal yang amat tak tega. Bagaimana mungkin ia lebih memilih menemani segerombolan pria-pria asing dengan tampang yang tak meyakinkan itu sampai nekat meninggalkan seorang suami yang amat mencintainya dan putri kecil yang lahir dari rahimnya? Apakah ia tengah menghibur diri? Ataukah ia sudah tak layak menjadi seorang istri yang soleh?

Kendati demikian, masih sempatnya ia bertanya, kapan terakhir saya ke rumahnya dan/atau berjumpa suaminya. Saya hanya bisa menjawab, terakhir ke sana saat terakhir bertemu dengannya. Sebab setelah ia pergi dari rumah itu dan saya bertemu dengannya di sini, di hadapan pria-pria bertato yang sungguh asing entah dari mana asal-usulnya, rumah mereka pun sudah berbeda dari biasanya. Tak lagi sama seperti saat ia ada di sana. Suasananya tak lagi sesejuk dahulu.

Membayangkan itu, saya sambil pelan-pelan mendengar sebuah lagu berjudul Wisky Lullaby yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang mati mampus karena mabuk lantas stres usai sang istri kedapatan selingkuh oleh suaminya di rumah mereka sendiri setelah ia pulang dari berperang melawan musuh di negerinya.

Bukan saya suami Neira, tapi saya terluka membayangkan keharmonisan yang tiba-tiba berantakan itu. Seperti seseorang sedang memecahkan setumpukan gelas kaca di kepala saya.

Malam ini, saya bertemu istrinya. Sedang saya tidak melihat suaminya. Apakah suaminya pun melakukan hal serupa dengan sedang semeja ditemani empat perempuan asing sembari menjepit sebatang kretek berasap di sela jemari dan segelas junggle juice di hadapannya juga? Ataukah suaminya sedang meninabobokan putri kecil yang tengah menanti-nanti ibunya pulang entah kapan itu?
Saya sedih nian.

Saya hanya membayangkan, suaminya sengaja meninabobokan anak mereka lebih awal agar ia pergi berdiskusi banyak hal tentang proyek kerja mereka ke depannya. Dan, saat pulang ke rumah, ia menemukan anaknya sedang tertidur pulas namun tak ada lampu yang nyala lantas kehabisan pulsa listrik bulan ini. Kemudian, untuk menerangi mimpi kecil dalam lelap putrinya itu, ia menyalakan sebatang lilin, menatap-natap langit kamar seraya berharap dalam hati kecilnya agar Neira yang sangat dicintai Banda itu tetap baik-baik saja di luar sana dan akan segera pulang dan berpeluk haru saat Neira tiba di beranda rumah.

Dan, kamu, bersyukurlah! Seseorang yang Tuhan tahu dia tak layak untukmu, lebih awal Tuhan pindahkan ke tangan seseorang yang lain. Seorang asing yang tidak kamu kenali. Agar kelak dalam rumah tanggamu, tak ada cerita sedih seperti yang saya saksikan malam ini.

Bersyukurlah sambil berharap, Tuhan memindahkan seseorang yang tidak tepat dari hidupmu ke orang lain, sambil Tuhan akan memindahkan seseorang yang tepat untukmu dari kehidupan seseorang yang tidak tepat untuknya.

Saat kau mendengar cerita ini, saya harap kau tak lagi sedih hatimu usai ditinggalkan dia yang memang tak layak untukmu, sebab di luar sana masih banyak hati yang jauh lebih remuk dari yang kau rasakan. Hanya saja, belum waktunya untuk semesta saling memberitahu satu sama lain tentang hal buruk itu di antara mereka masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.