Nostalgia Tentang Kampung Halaman

 351 total views,  1 views today



Arsy Tendor|Kontributor


Setiap generasi mempunyai kisah tersendiri, ada ragam cerita unik di balik suatu pergeseran waktu. Generasi tahun 80-an memiliki cerita tentang TV hitam putih. TV tanpa diskriminasi, sebab antara ras berkulit putih dan hitam berpenampilan sama di layar kaca. Barangkali tontonan favorit mereka berkutat pada petinju Muhamad Ali atau Elias Pical yang kala itu menjadi idola.


Sementara generasi tahun 90-an memiliki cerita tentang film-film Indosiar dan SCTV, dengan kisah cintanya yang menyayat hati. Judul-judulnya juga bombastis. Sebut saja film Bumbu-bumbu Cinta, Benci Jadi cinta, Cinderella, Ratapan Anak Tiri, Dia, Bawang Merah dan Bawang Putih, Ande-ande Lumut, Keong Mas, Maling Kundang, dan lain-lain. Kadang diputar juga film-film legenda, diantaranya Sangkuriang, Nyi roro kidul, Roro Jonggrang atau Misteri Gunung Berapi.


Film yang disebutkan terakhir di atas sungguh menarik. Di antara tokoh yang bermain di dalamnya, ada tiga tokoh yang sulit untuk dilupakan. Ada Mak Lampir dengan gaya tertawanya yang begitu seram, Kala Gondang yang begitu kocak, juga Grandong dengan giginya yang begitu tajam. Mereka menjadi buah bibir sehabis menonton TV. Selain karena peran mereka yang begitu dominan, juga disebabkan oleh peran mereka yang khas. Seram dan kocak.


Dalam keseharian sebagai anak kampung, kami seringkali meniru adegan mereka. Adakalanya kami tertawa bak Mak Lampir sambil memegang tongkat di tangan, lalu berteriak sekuat tenaga saat bermain. Ada yang meniru gaya Kala Gondang sambil mengeluarkan jurus-jurusnya. Ada juga yang berteriak dari atas pohon dengan raut wajah seperti Grandong. Memang kelihatan aneh, dan menggelikan. Hanya dengan begitu, kami dapat memperbudak waktu, menoreh kenangan dalam perjalanan hidup.


Di kala itu, menonton TV menjadi salah satu kebanggaan tersendiri. Meski menonton film yang sama di rumah tetangga, akan tetapi di perjalanan pulang menuju rumah, kami berdebat tanpa henti. Perdebatannya berkutat pada alur cerita dan karakteristik tokoh, baik tentang tokoh protagonis atau antagonis. Ujung-ujungnya tak ada kesimpulan. Saat itu, kami belum mengetahui jika film hanyalah ide kreatif dari sutradara. Maklum, kami mana paham dengan sutradara, bocah kampung yang baru saja berkenalan dengan teknologi bernama TV.

Ada juga di antara kami yang menceritakan kembali film yang sudah ditonton, padahal kami sama-sama mengetahui alur ceritanya.

Sialan memang. Perlu diketahui, saat itu, TV tak sebanyak hari ini. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kami berlomba-lomba untuk datang lebih awal menuju rumah pemilik TV. Jika terlambat, bersiaplah untuk berdiri di luar rumah sambil mengintip melewat jendela.


Menonton TV memiliki pengaruh terhadap kehidupan kami sehari-hari. Misalnya tentang “mobil penjahat”. Mobil seperti itu kerapkali digunakan oleh tokoh-tokoh antagonis. Jenis mobilnya hartop. Jika mobil serupa melewati kampung, kami lari tak tentu arah. Apalagi jika pegendaranya berambut panjang, mengenakan kacamata hitam dan jaket kulit berwarna hitam. Orang akan takut bukan kepalang.

Hal ini bukan tanpa alasan, sebab tokoh penjahat dalam film yang kami tonton berpenampilan demikian. Bukan hanya tentang menonton TV, ada juga cerita tentang ata kawe ulu (orang yang mencari kepala) yang katanya mereka berambut panjang. Menariknya, orangtua juga menceritakan demikian pada anak-anaknya, meskipun kebenarannya belum terbukti. Entahlah, apakah cerita itu benar adanya, yang pasti kami ketakutan kalau mendengar frasa ata kawe ulu.


Generasi masa kini barangkali tak mengalami momen-momen seperti di atas. Masing-masing generasi memiliki cerita tersendiri. Hari ini anak-anak akrab dengan ponsel pintar. Mereka berkecimpung dengan PUBG, Facebook, Youtube, atau Tik-Tok. Saya tak hendak mengkritik anak-anak di hari ini tentunya. Tetapi saya hendak memberikan beberapa poin tentang perbedaan anak di generasi hari ini dengan generasi di zaman kami. Perbedaannya mungkin subjektif. Namanya juga pendapat. Yang objektif hanyalah fakta yang kebenarannya sudah teruji. Iya toh?


Pertama, tentang kedekatan sebagai teman. Pengalaman kami di masa kecil, saat kemana-mana, kami selalu bersama-sama. Entah saat pergi ke sekolah, pun saat pulang dari sekolah selalu bersama, bermain juga bersama, mencari kayu bakar bersama-sama, mandi di sungai bersama, hingga menonton TV pun bersama-sama. Sebagian besar waktu memang dihabiskan bersama teman-teman masa kecil.


Bisa dimaklumi apabila intensitas perjumpaan dengan teman dari anak zaman sekarang berkurang. Mereka hidup di era teknologi. Apalagi yang lahir setelah tahun 2005. Mereka tidak bisa dilepaskan dari gadget.

Catatannya adalah perlu ada pendampingan dari orangtua, supaya mereka tidak gagap dalam bergaul karena mereka lebih banyak menggunakan waktu sendiri dibandingkan bersama dengan teman-temannya.


Kedua, kedekatan dengan alam. Semakin hari, jumlah rumah semakin bertambah. Ladang-ladang di setiap kampung juga bertambah. Kebutuhan bahan pangan meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Akibatnya, keadaan hutan semakin menipis. Harapannya tidak dieksploitasi untuk kepentingan pribadi.


Sebagian besar anak-anak zaman sekarang tidak terlalu dekat dengan alam. Banyak rumah yang kini memang menggunakan kompor, kecuali di kampung-kampung yang persediaan kayu bakarnya masih melimpah. Keadaan ini mempengaruhi kedekatan anak-anak dengan alam. Di zaman kami dulu, hampir setiap hari ke hutan untuk mencari kayu bakar, anak-anak zaman sekarang bisa saja tak mengalami lagi hal seperti itu. Di saat mencari kayu bakar inilah, kami bisa membangun kedekatan dengan alam.


Ketiga, kreatif. Kreatif dalam konteks ini tentunya memiliki makna yang luas. Kreatif ada dalam berbagai bidang. Kreatif anak-anak zaman dulu dengan perlengkapan seadanya. Kreatif anak-anak zaman sekarang erat hubungannya dengan teknologi. Dalam bermain, anak-anak zaman sekarang barangkali menghabiskan waktu di depan ponsel pintar, lalu bermain PUBG, Mobil Legend, Tik-Tok, atau Ludo.


Sementara di zaman kami, akrab dengan mobil-mobilan, yang dibuat dari peralatan yang sederhana. Kami memanfaatkan botol minyak goreng bermerek Bimoli untuk dijadikan mobil-mobilan. Ada juga yang memakai bambu, dibuat sedemikian rupa dan dimasukkan ban yang terbuat dari sandal. Orang di kampung kami menyebutnya oto pering.


Permainan-permainan seperti ini memang kadang berbahaya. Setiap permainanan memang memiliki risikonya masing-masing. Tetapi satu hal yang saya pelajari dalam membuat bahan-bahan di atas, yaitu soal kreativitas. Saya tentunya tidak sedang mengatakan bahwa anak zaman ini tidak memiliki kreativitas, sebab kreativitas mengikuti arus zaman yang terus berubah. Harapannya, kreativitas setiap generasi tetap bertumbuh, tak tergerus oleh arus zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.