Olgan dan Betrand, Wasit dan Penyanyi Bukan Cita-cita Mereka

1,608 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


|Edisi Redaksi| Penulis: Itok Aman|

Saat orang lain sibuk menyanjung-nyanjung ketenaran Betrand Peto akhir-akhir ini, menyanjung suaranya yang merdu, menyanjung keluarga Ruben Onsu mengangkat seorang anak dari pedalaman Indonesia Timur yang beranjak menuju remaja, saya melihat sisi lain yang perlu saya bagikan lewat tulisan ini.

Sambil seruput kopi, mari, kita to the point saja.

Mungkin pembaca bingung dengan gambar yang tertera di atas. Seorang pemuda berkostum wasit disandingkan dengan Betrand Peto yang dikenal sebagai seorang penyanyi. Apa hubungannya? Apa kalau suara penyanyi itu jelek diberi kartu merah atau kuning? Kaka dorang baca sante-sante saja. Jang gegabah begitu kah apa. *Main mata.

Mari kita melihat dari sisi wasit dulu. Wasit adalah salah satu profesi yang nyaris tidak terdaftar dalam cita-cita seorang anak saat ditanya oleh orang tua bahkan guru di sekolah. “Demus, kau cita-cita jadi apa?” tanya guru, misalnya. “Saya cita-cita ingin jadi polisi, guru.” Jawab Demus. Tahu-tahu saat Demus dewasa, dia bekerja sebagai wartawan. Nah, kan. Kan kita ini sering begitu. Banyak anak-anak bahkan hampir semua manusia yang ada di muka bumi ini, pada masa depannya hidup tidak sesuai dengan cita-cita yang dibentuk pada masa lalunya.

Olgan Supratman, seorang pemuda (wasit pada gambar di atas) dari pelosok Manggarai Timur, tepatnya dari Mukun ini, pada masa kecilnya dia bercita-cita menjadi seorang pastor. Waktu dia masih kecil, dia tidak begitu tahu bahwa salah satu persyaratan menjadi seorang pastor harus mampu mencintai semua perempuan di dunia ini dengan porsi perasaan yang sama. Sekarang, saat dia dewasa, dia baru tahu (rasa) bahwa dia tidak mampu untuk itu. Dia hanya bisa mencintai satu orang perempuan yang menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. (Namun sayang, sampai saat ini, pemuda berusia 26 tahun ini dikabarkan masih jomlo). *Lol

Seiring berjalannya waktu, dari masa kanak-kanak sampai remaja, manusia mengalami perubahan dalam pengembangan diri, karakter dan potensi dalam dirinya mulai terbentuk, tidak terlepas dari kemampuannya sendiri dan lingkungan pergaulan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Seperti Olgan Supratman, remaja lulusan IKIP Budi Utomo Malang itu sekarang menjadi wasit di pertandingan-pertandingan bola sepak tingkat provinsi NTT. Demikian Betrand Peto, pada masa kecilnya — sebelum dan sesudah belajar di sekolah dasar — dia gemar memelihara ternak. Di beberapa kanal youtube yang mempopulerkannya, Betrand sendiri mengaku, dia memelihara belut di sawah milik Opa dan Omanya juga ayam kampung di rumahnya. Kita bisa melihat dari kegemarannya bahwa Betrand Peto bercita-cita menjadi pengusaha ternak. Tahu-tahu lewat sebuah rekaman gambar gerak yang viral di laman facebook, Betrand diundang ke Brownies (salah satu acara televisi swasta yang dibawakan oleh Ruben Onsu, Ivan Gunawan, Ayu Tingting, Wendy Cagur, dll). Dari sanalah nama Betrand Peto mulai dilirik oleh netizen, diundang bernyanyi ke beberapa acara televisi lain dan sampai pada merilis lagu pertamanya “Sahabat Kecil” yang diciptakan oleh Charly Van Houten. Dari kegemaran memelihara ternak, Betrand mendadak jadi artis. Bayangkan!

Olgan Supratman tidak pernah bercita-cita jadi wasit pada masa kecilnya, demikian Betrand tidak pernah bercita-cita menjadi artis. Wasit dan penyanyi tidak pernah dibayangkan dalam batok kepala kedua Anak Muda Manggarai ini. Semua itu dicapai atas kemampuan diri dan situasi-situasi yang mereka jalani dalam kehidupan sehari-hari. Di sini kita melihat setiap anak memiliki hobi dan keahlian masing-masing.

Pemerintah dan masyarakat Manggarai perlu membuka mata untuk melihat perkembangan dunia pada zaman sekarang lewat kedua Anak Muda Manggarai ini. Bahwasannya, dengan hobi dan keahlian bisa memberikan kehidupan yang layak untuk seseorang. Namun, sayang. Di Manggarai, bahkan NTT, upah untuk membayar seniman dan keahlian seseorang sangat rendah bahkan bisa dibilang tidak layak. Itulah sebabnya mengapa masyarakat NTT lebih ingin menjadi ASN dan pegawai-pegawai kantoran ketimbang mengembangkan bakat dan minat mereka.

Saat ini, Olgan Supratman sedang mengikuti kegiatan sepak bola tingkat provinsi NTT. SOERATIN CUP U-17 2019 yang diselenggarakan di Ende. Dia dipanggil menjadi salah satu wasit untuk memimpin pertandingan pada beberapa pertandingan sampai babak final. Sedang Betrand dikabarkan telah dipilih menjadi salah satu pembawa acara My Trip My Adventure di Jakarta.

Sebelum kedua Pemuda ini, sudah banyak Orang Manggarai yang hidup dan mampu membiayai hidup dari hobi dan keahliannya. Tapi pada era milenial ini, saya rasa tidak berlebihan jika menempatkan kedua pemuda ini sebagai perintis untuk Anak Muda Manggarai yang lain agar bisa menjadikan hobi sebagai profesi yang bisa memberikan kehidupan yang layak. Walau perintis sering dianggap gila karena melakukan hal yang baru dan aneh, seperti Thomas Alva Edison yang berulang kali gagal sampai pada akhirnya berhasil menemukan bola lampu, Edmund Hillary dan Tenzing Norgay yang pertama kali berhasil mendaki gunung Everest dan merintis jalan bagi penerus-penerusnya. Bahkan sebelum Edmund dan Tenzing sudah banyak yang meninggal dan hilang sebelum sampai ke Everest, tetapi mereka berhasil memecahkan rekor sebagai manusia pertama yang mengibarkan bendera pada puncak gunung tertinggi di dunia itu.

Demikian juga Betrand menjual suara merdu yang dimilikinya di panggung nasional, Olgan menjual pengetahuannya tentang perwasitan di lapangan sepak bola dengan lisensi wasit C2 dari PSSI  yang dia miliki, kita menjual apa? Apa saja yang bisa menjadi keahlian dan kelebihan kita juga selain harus menjadi ASN. Lewat minat dan bakat, hobi dan keahlian.

Dari sana kita melihat mereka, juga melihat ke dalam diri kita masing-masing, bahwa cita-cita dan profesi itu berbeda. Kita boleh saja bercita-cita untuk berprofesi A, padahal profesi B yang kita jalankan. Hal ini jelas beda jauh, jauh sekali dengan bekerja di lingkungan pemerintahan, apalagi kalau birokrasi kita masih dihuni oleh orang-orang lemah yang memegang prinsip ‘orang dalam’. Misalnya; lulusan sarjana pertanian bekerja di Dinas Kesehatan, sarjana pendidikan bekerja di Dinas Pariwisata, kan kaco. Itu kaco namanya. Jadi beda. Anda tinggal memilih; bekerja sesuai hobi atau bekerja karena ada orang dalam? Bekerja dan sukses karena hobi dan usaha sendiri, bangganya dapat. Sedangkan bekerja karena ada orang dalam, malunya tercium sampai tujuh turunan.

Dari Olgan yang bercita-cita menjadi seorang pastor tapi tiba-tiba jadi wasit dan Betrand yang bercita-cita menjadi pengusaha ternak kemudian mendadak jadi artis, karena kelebihan dalam diri keduanya ini juga, kita sepatutnya mulai sadar bahwa cita-cita dan nasib baik tidak bisa ditentukan oleh orang lain, bahkan orang tua sekalipun. Kembali kepada potensi diri seorang anak. Orang tua hanya perlu mengarahkan anaknya mencapai yang terbaik dari apa yang diinginkannya. Begitu pula dalam hal profesi, juga dalam memilih jodoh, orang tua tidak berhak menentukan jodoh anaknya apalagi sampai menjodohkan. *Moriiiiii… Kenapa lari ke jodoh?

Dan, yang paling penting adalah jangan meremehkan mimpi-mimpi besar seorang anak hanya karena kita berpikir terlalu kecil. Apalagi sampai menertawakannya. Lihat Betrand, dari tidak ada yang mengakui dia sebagai keluarga sampai orang-orang yang tidak ada hubungan keluarga sekalipun mulai sibuk mengarang garis keturunan agar bisa menghubungkan dengan garis keluarga Betrand. Coba kalau Betrand berutang atau mencuri uang puluhan juta, siapa yang berani mengaku Betrand sebagai keluarga? Siapa?

Biarkanlah setiap anak berkembang dengan polanya sendiri tanpa jauh dari pengawasan juga didikan orang tua dan guru. Sebab naluri setiap anak tahu di mana ada kemauan di situ ada jalan. Jangan meremehkan mimpi-mimpi besar dari anak-anak, sebab mereka masih memiliki begitu banyak kesempatan untuk menjadi apa saja.

Jangan lupa seruput kopinya, Kakak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *