Om Herman, Aku Ingin Ngopi Dengan Putri Cantikmu di UNIKA

Fotonya hasil kesepakatan cinta antara penulis dengan rindu kekasihnya. (foto: dokumentasi pribadi)

 1,736 total views,  3 views today


Frumens Arwan || Redaktur

Saya mendengar lagu Jason Ranti yang judulnya “Lagunya Begini, Nadanya Begitu”,  ketika naik kereta dari Jakarta menuju Depok. Saya naik kereta bukan karena ongkosnya murah, tetapi karena Jakarta waktu itu sedang dilanda hujan. Dan lalu betapa romantisnya mendengar lagu indie sembari memandangi hujan dari jendela kereta. Kala itu saya telah mendengar kabar bahwa kekasih saya, anak seorang guru bahasa Inggris di Manggarai Timur, sebentar lagi masuk perguruan tinggi di UNIKA Santu Paulus Ruteng. Huh, seketika cinta rasanya bukan lagi hanya soal mengumbar janji manis, teleponan, video call-an, unyu-unyu-an depan kamera atau soal merindukan dari jauh sampai jadi bucin. Cinta kini adalah soal seberapa nilai jual saya sebagai seorang lelaki di hadapan bapak mantu yang putrinya sekarang adalah seorang wanita yang berpendidikan.

 Lirik lagu Jason Ranti rasa-rasanya langsung nyantol di hati saya: “Oh, Pak Sapardi. Aku ingin ngopi dengan sederhana di Bulan Juni dengan murid cantikmu di UI.” UI itu Universitas Indonesia, biar lebih jelas saja. Dari sanalah inspirasi judul tulisan ini. Jadi ceritanya begini. Sampai di depan halte Kampus UI Depok, saya mencoba menerka-nerka bahwasannya lirik lagu ini adalah semacam salam tak tersampaikan dari Jason Ranti untuk gadis idamannya di UI. Hanya saja ia malu―karena ia hanya penyanyi―lalu memakai nama Almarhum Sapardi Djoko Damono, yang kebetulan adalah guru besar di UI, biar salamnya kesampaian. Lah, siapa pula pemuda kacungan yang berani-beraninya memberi salam kepada gadis UI, gadis kampus nomor satu di Indonesia. Ah, itulah betapa liarnya imajinasi saya waktu itu.

Di Manggarai, setidaknya bagi saya, berlaku hal yang sama. Ketika wanita (pujaan hati Anda) sudah masuk di UNIKA Santu Paulus Ruteng, mulailah mempertimbangkan seberapa pantas diri Anda untuk wanita Anda itu. Mulailah mengintrospeksi diri. Apakah sikap, tutur kata dan perilaku Anda sudah Anda jaga? Batok kepala Anda minimal sudah berisi beberapa rencana masa depan, seperti target waktu selesai kuliah, pekerjaan apa yang cocok untuk Anda, berapa penghasilan Anda suatu saat ketika Anda bekerja dan masih banyak lagi. Selain itu, Anda mesti rajin membersihkan badan sebab itu menggangu setinggi apa pun kualitas diri Anda. Lalu berbicara dan bertindaklah seperlunya saja. Asalkan ingat, jangan jadi munafik karena orang tua di Manggarai bisa tahu seorang lelaki layak atau tidak untuk putri mereka saat kali kedua Anda ke rumahnya. Itu rahasia penting.

Alasan bagi saya untuk segera melihat kualitas diri saya itu banyak. Salah satunya adalah soal standar yang dipasang ayahnya, yang saat ini masih secara sepihak saya akui sebagai bapak mantu saya. Karena bagaimanapun, wanita Manggarai yang sudah masuk ke perguruan tinggi bukanlah wanita sembarangan. Apalagi kalau anaknya disekolahkan di UNIKA Santu Paulus Ruteng, salah satu kampus swasta terbaik di NTT. Standar yang dipasang ayahnya untuk putrinya tentu jauh lebih tinggi daripada wanita umumnya. Oleh karena itu, sebagai lelaki, saya semestinya mempertimbangkan kualitas diri saya.

Di stasiun UI Depok, sebagaimana halnya Jason, saya merasa begitu kalut. Saya berdiri lamat-lamat di depan cermin di toilet stasiun. Saya pandangi lelaki asing yang berdiri di sana, lalu bertanya dalam hati, ‘Siapa lelaki ini sehingga berani-beraninya memacari putri cantik seorang guru bahasa inggris di UNIKA Santu Paulus?’

Tulisan ini saya tujukkan untuk bapak mantu saya, seorang guru bahasa Inggris, yang anaknya sudah beliau sekolahkan dengan susah payah di kampus terbaik tanah Nuca Lale ini, UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Pertama, saya ingin mengatakan bahwa saya bangga memiliki bapak mantu seperti Om. Om adalah satu dari sebagian orang tua yang telah berani membongkar belenggu gender yang telah menjadikan wanita Manggarai sebagai masyarakat kelas kedua dalam masyarakat. Selama bertahun-tahun, wanita Manggarai “dijual” kepada kaum lelaki dengan adat yang bahasanya diperhalus saja dengan sebutan belis. Akibatnya, setelah menikah mereka tidak mampu menjadi diri mereka sendiri, malahan berada di bawah kontrol kaum lelaki.

Om tahu, tempat wanita bukan hanya di dapur, sumur dan kasur, melainkan dalam panggung dunia yang selama ribuan tahun dipegang kaum lelaki. Om tahu, sudah saatnya putri Om menjadi oase di tengah masyarakat Manggarai, layaknya saya yang mewakili kaum saya, kaum lelaki. Kami telah menikmati itu sejak berpuluh-puluh tahun silam dan kini saatnya bagi putri Om dan kaum wanita Manggarai. 

Kedua, sebagai lelaki yang telah berani memacari anak gadis Om, yang telah membuat tidur malamnya terganggu dan selera makannya rusak, dan yang telah membuatnya tersenyum-senyum sendiri di hadapan Om, saya berjanji untuk tidak akan mengcewakan Om. Saya tahu, setelah Om menyekolahkan putri Om di UNIKA Santu Paulus Ruteng, Om tentu mengharapkan bahwa seorang lelaki terbaiklah yang suatu saat meminang putri Om, menjadi pangeran baginya dan menjadi ayah atas cucu-cucu Om. Itu bukan perkara mudah karena saat ini saya masih bukan siapa-siapa. Akan tetapi, untuk itulah saya menulis tulisan ini. Om, Putri Om adalah semangatku untuk menggapai mimpi-mimpiku. Saya siap menjadi lelaki yang terbaik bagi putri Om.

Ketiga, putri Om itu cantik luar biasa. Lebih dari itu, sekarang putri Om adalah seorang wanita berpendidikan, yang sebentar lagi akan menjadi pionir perubahan di tengah masyarakat Manggarai. Semangat cari rejekinya, Om. Biar bisa menyekolahkan putri Om sampai selesai. Jadilah inspirasi bagi ayah-ayah lain di Bumi Nuca Lale ini. Maka dari itu, ada pesan dari saya untuk Om dan untuk ayah-ayah hebat lainnya di Manggarai: “Aku ingin ngopi dengan sederhana di Bulan September dengan putri cantikmu di UNIKA.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.