Oto Kol dalam Kenangan

1,336 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Sebelum transportasi di Manggarai Timur berkembang pesat seperti saat ini, oto kol menjadi pilihan favorit saat hendak berpergian ke suatu tempat. Kondisi jalan yang terjal dan berat menjadikan oto Kol sebagai salah satu pilihan yang paling cocok.

Oto kol adalah truk kayu yang dirancang khusus agar di dalamnya bisa menjadi tempat duduk para penumpang dan dilengkapi dengan atap. Keunikan oto colt terdapat pada desainnya yang menarik, satu di antaranya saat penumpang hendak naik ke dalam mobil melalui pintu samping kiri atau kanan yang kalau sudah duduk di dalamnya pintu masuk tadi berubah menjadi jendela. Oto kol biasanya full music. Lagu-lagu lawas bakalan menemani perjalananmu saat susuri jalan berkelok di pedalaman Manggarai Timur. Dijamin penumpang bakalan lupa tempat tujuan saat terbuai dalam alunan lagu lawas berkat koleksi para sopir dan konjak yang gagal move on.  

Semua orang Manggarai yang lahir dan besar di Manggarai Timur tentu sudah pernah menumpang oto kol saat berpergian ke tempat lain di Manggarai Timur. Jika belum pernah, dengan terpaksa saya mengatakan Anda manusia yang paling angkuh. Pasalnya, oto kol sering dipakai untuk berbagai keperluan, baik saat ada urusan adat seperti podo wina weru,urusan wagal, ataupun dipakai oleh sekolah-sekolah esema yang sedang berwisata ke Pantai Cepi Watu atau Pantai Mbolata.

Dengan desainnya yang nyaman membuat oto kol memiliki kenangan tersendiri di hati para sopir, konjak dan penumpang. Saya yakin dan percaya bahwa kalian-kalian yang pernah menumpang oto kol pernah mendapatkan kenangan-kenangan kecil saat menumpang mobil sejuta umat ini. Oto kol kerap kali sisakan secuil kenangan yang sukar untuk dilupakan begitu saja, misalnya, untuk mahasiswa STKIP St. Paulus Ruteng saat perayaan Paskah dan Natal selalu melakukan kegiatan asistensi di paroki-paroki di Keuskupan Ruteng. Omong kosong kalau misalnya tidak dapat gebetan saat melakukan asistensi, sebab jauhnya tempat asistensi berbanding lurus dengan kesempatan untuk mencari teman duduk di dalam oto kol. Soalnya zaman kami dulu waktu di estekip begitu ee ade-kaka donk basudara samua. Semakin jauh jarak tempuh semakin panjang kenangan yang terukir. Alih-alih kesal dengan pemerintah daerah yang terkesan cuek dengan jalan bebatuan di pedalaman Manggarai, justru rasa bersyukur didaraskan saat jalan berlubang dan berlumpur dilalui. Istimewa kaka…

Siapa saja yang menyusuri jalanan di pedalaman Manggarai Timur akan merasakan sensasi baik dan buruknya. Entah penumpang di dalam oto kol menjabat sebagai tua golo tabeite.com yang menurut pacarnya mirip Ariel Noahmaupun tua panga tabeite.com yang lain, lazimnya tetap menikmati  suguhan akibat jalanan yang berlubang dengan sesekali akan miring ke kiri dan kanan. Seolah-olah jalan berlubang membuat lelaki jomblo seperti seluruh awak tabeite.com berlaku curang dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sungguh tidak seperti yang kamu kira, mblo. Jalanan yang berlubang sumber segala kekacuaan saat menumpang oto kol. Kalau mau protes, sila protes ke Lehong sana.

Jalanan rusak nan berlubang seperti kali mati memang membuat anak muda Manggarai Timur terlihat berkelakuaan curang saat menumpang oto kol. Perilaku curang ini lazimnya ditunjukkan saat musim liburan sekolah esema dari kota Ruteng. Sampai-sampai salah satu musisi tanah Flores dalam lirik lagunya menulis demikian, ”terima kasih jalan berlubang karena kamu kami saling berkenalan”. Bahkan lagu tersebut inspirasi sepenuhnya bersumber dari jalanan berlubang yang membuat sepasang anak manusia berkenalan hingga menjadi sepasang kekasih. Hadeh.

Kini dengan perkembangan moda transportasi yang perlahan-lahan mulai beralih, oto kol masih saja bertahan. Setidaknya oto kol tetap jadi andalan untuk melayani wilayah-wilayah tertentu di pedalaman Manggarai Timur, seperti Elar Selatan atau di desa-desa sebelah kali Sungai Wae Musur di kecamatan Rana Mese yang akses masuknya masih sulit pakai matipunya.

Hingga tiba pada suatu masa, oto kol tetap bertahan dalam percaturan mode transportasi di Manggarai Timur. Asalkan saat susuri jalanan yang belum diaspal, tabeite.com sarankan untuk tetap menyiapkan bekal istimewa bagi sopir dan konjak. Dedak namanya. Jika sopir dan konjak tidak siapkan dedak, maka kemungkinan besar akan gagal menjemput rezeki seperti Vanesa Anggel yang menjemput rezeki sebesar Rp. 80 juta itu, sebab om sopir dan konjak bakalan tersendat di jalan berlubang dan berlumpur.

Penulis : Erik Jumpar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *