Pacaran dan Bertemu Orangtua Bukan Jaminan Menuju Pelaminan

10,940 kali dilihat, 811 kali dilihat hari ini


Popind Davianus|Tuagolo

Pacaran itu kadang menggembirakan kadang juga bikin air mata jatuh berserakan. Ia kan? Hukum alam pacaran itu begini, bahagian di awal, masih bahagia di pertengahan dan ujung-ujungnya menyakitkan. Memang tidak berlaku untuk semua orang yang pernah berpacaran. Tetapi kebanyakan dari kita pernah merasakan hukum alam tersebut. Eh yang jomlo santuy ya, kalau artikel ini tidak berkenan, pergi jauh-jauh, sana. Atas kepentingan apa sih Anda kemari?

Lanjut,

sebagai orang yang pernah gonta-ganti pacar, saya cenderung menikmati hukum alam pacaran. Bahwa saya hanya merasa nyaman di awal, sisanya pacaran kami diisi dengan pertengkaran dan berakhir dengan sebutan mantan. Mungkin yah, awal dari hubungan yang dinamakan pacaran itu adalah awal kita belajar sifat lawan jenis kita dengan segala kemunafikan. Munafik memberikan perhatian dengan sering chat, sering berkunjung, sering bawa coklat (walau gade laptop), sering perhatikan jam makan dan tetek-bengeknya.

Ada juga yang mengawalinya dengan keikhlasan. Kaum ini yang biasanya menjunjung tinggi qoutes Sujiwo Tedjo, yang bunyinya; aku mencintaimu tanpa sebab. Jika aku mencintaimu dengan karena, maka itu kalkulasi namanya, kekasih. Asu

Yang mencintai dengan ikhlas biasanya memiliki hubungan yang panjang dan sebagian kecil sukses menuju pelaminan. Tetapi kaum yang mencintai dengan ikhlas ini memiliki peluang sakit hati yang besar. Yah bagaimana tidak, mereka sukses melewati tiga tahap pada hukum alam pacaran tadi, bahagia di awal, bahagia di pertengahan dan akhirnya menyakitkan. Sedangkan saya yang agak-agak sombong ini hanya bahagia di awal dan sudah menjadi mantan di pertengahan. Dan pacaran itu selalu berumur pendek.

Teman saya pernah mencintai dengan ikhlas, sampai kepada suatu momen paling berharga dalam hidupnya yakni bertemu orangtua dari pacarnya. Pertemuan itu sering ia lakukan, tentunya dengan membawa ole-ole ke rumah calon mertuanya. Dari yang paling mahal hingga saung daeng. Dia sama sekali tidak berniat menghitung pengeluaran membeli semua ole-ole itu, karena balik ke alasan awal, mencintai dengan ikhlas. Teman saya ini memang baik. Saking baiknya, dia sampai lupa kejelekan orang lain.

Sampailah mereka pada rencana menata hidup di masa depan. Ingin bekerja apa, tinggal di mana, sampai apakah mengikuti program KB atau tidak. Topik ini sudah sangat serius, artinya mereka mendekati usia matang pernikahan.

Sayangnya semua yang telah manusia mulai kadang tidak semunya berjalan sesuai rencana. Titik jenuh hubungan yang mereka jalin adalah ketika tidak saling memahami kemauan masing-masing. Waktu pacaran mereka memang lama, tapi pacarnya selalu memaksa apa yang menurutnya baik harus menjadi kebaikan mereka berdua.

Sementara itu komunikasi dengan orangtua pacarnya berjalan dengan lancar, bahkan sering berkelakar. Sudah seakrab itu.

Hingga pada suatu hari hubungan yang dibangun dengan lama itu pun retak. Tidak ada lagi yang merampas kebebasan teman saya, pun komunikasi dengan orangtu pacarnya hilang seketika.

Makna yang bisa kita petik adalah, kehilangan hanya akan hadir ketika ada yang pergi dan yang paling penting lagi, bertemu orangtua pacar bukan jaminan menuju pelaminan. Semuanya tergantung pada kita yang mengemban hubungan tersebut.

Eh ini apa-apaan. Kalian percaya?

Plis jangan!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *