Pada Saat Tertentu, Pukimai Bukan Kata Makian!

Sumber Gambar : Gorilasport.com

373 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Mendengar kata makian kadang membikin bulu kuduk merinding, terlebih jika kata makian tersebut dilontarkan oleh anak kecil kepada orang yang lebih tua. Atau ketika orang lain meneriaki Pukimai, Lasu, Lae, Tolo, Jancuk, Uti, Sundala pada kita tanpa sebab, tentu menyulutkan emosi bukan? Kalau saya dihadapkan dengan manusia yang hobi melemparkan kata-kata makian tanpa sebab, dengan lapang dada saya tidak akan membalas makian mereka secara langsung tetapi membalasnya dalam hati dan mendoakan mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Setelah doa selesai, saya balas lagi makian mereka dalam hati. Biar kapok!

Tetapi pada konteks tertentu, kata yang sering dianggap sebagai “makian” bisa ditolerir sebagai kata “bukan makian”. Bingung kan? Sama, saya juga bingung.

Mari, kita bongkar kebingungan berjemaah ini.

Ketika mendengar kata Pukimai, sepertinya tidak etis di telinga. Seolah kata Pukimai ini adalah kata terburuk dari sekian juta kata yang pernah kita dengar seumur hidup. Kasihan juga ya terlahir dan menjadi kata Pukimai, Lae, Tolo, Uti, Jancuk, Sundala dan kata sejenis yang penggunaanya hanya untuk mengata-ngatain alias menghina orang lain. Padahal dulu, semua kata yang kita gunakan dalam berkomunikasi sehari-hari adalah kesepakatan bersama para pendahulu atau ahli bahasa.

Kata Pukimai semestinya jangan selalu dikaitkan dengan hal-hal yang bertendensi negatif. Jika digunakan dengan baik sesuai konteks, kata ini bisa bertransformasi menjadi kata pujian, humor, syukur dan banyak lagi. 

Semisal, saat bapak dari teman saya menikah lagi, teman saya bilang seperti ini kepada saya “Pukimai sa pu mama kecil cantik sekali. Semoga sa pu bapak bisa bahagia dan lebih betah di rumah.” Nah, dalam konteks ini, teman saya tidak sedang mencaci-maki bapaknya yang menikah lagi tetapi sedang memuji kecantikan dari ibu barunya.

Lalu ketika bapak dan ibu dari teman saya mengalami kecelakaan sepeda motor, teman saya yang suka sekali mengucapkan kata Pukimai ini berkata begini “Pukimai, sap bapa tadi kecelakaan hanya patah tangan sa o, untung tidak sampai meninggal dunia.” Penggunaan kata Pukimai dalam konteks kedua ini adalah bentuk syukur dari teman saya kepada Tuhan karena bapaknya tidak sampai meninggal dunia, hanya patah tangan saja dan detik ini bapak teman saya sudah bisa bekerja kembali, karena kecelakaan yang dialaminya sudah terjadi 2 tahun silam.

Jadi, jangan pernah menganggap enteng keberadaan kata Pukimai, jangan selalu beranggapan kata Pukimai adalah kata makian.

Kata Pukimai ini juga mampu mengidentifikasi kedekatan antara manusia. Saat dua teman lama bertemu di sebuah pesta, sering kita mendengar mereka mengeluarkan kata Pukimai. “Pukimai, malam ini kau keren sekali. Itu celana jeans kau curi di mana?”

Percakapan di atas sangat lazim di sebuah pesta jika dua orang yang bercakap adalah dua orang sahabat dekat. Namun akan berakhir dengan perkelahian dan tawuran antara kampung jika Anda membuka percakapan seperti di atas kepada orang yang belum Anda kenal.

Tetapi jika belum pernah mengalami darah keluar dari lubang hidung, besok kalau ada pesta, cari pemuda dari salah satu kampung yang berbadan kekar dan lemparkan pertanyaan tadi “Pukimai malam ini kau keren sekali. Itu celana jeans kau curi di mana kah?”

Saya akan hubungi tuan pesta untuk siapkan Ambulance mengantar Anda ke puskesmas terdekat.

Penggunaan kata Pukimai ini seperti aku dan kamu-selalu bersatu. Meski pada satu sisi dianggap kasar, tetapi pada sisinya yang lain, kata ini sangat ampuh untuk mengembangkan kedekatan antara si penutur dengan lawan bicara.

Kalau Anda sedang dalam proses mengembang kedekatan dengan teman baru, coba sesekali bilang pukimai ke dia, kalau dia menerimanya dengan baik atau dengan umpan balik kata pukimai juga, percaya deh hubungan persahabatan kalian pasti akan bertahan lama bahkan hingga kalian punya anak pun hubungan persahabatan itu akan tetap terjaga.

Dan apabila ulasan tentang Pukimai ini mampu membuat pembaca tertawa terkekeh-kekeh, berarti kata Pukimai yang biasa dianggap kata makian itu sukses bertransformasi menjadi kata humor.    

Salam Pukimai!!

Penulis : Popind Davianus|Tuagolo|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *