Pak Dewan, Lihat Semangat Anak-anak Muda Kita!

294 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Usai pemilu serentak yang menguras tenaga dan ‘memakan’ banyak korban jiwa, para anggota Dewan di Manggarai Timur akhirnya dilantik hari Senin, 2 September 2019. Sudah pasti, pelantikan Dewan menjadi upacara seremonial yang ramai, bukan hanya di Lehong. Di rumah-rumah dan kampung asal para anggota Dewan, ada upacara syukur, biasanya juga ada Misa syukur yang meriah. Dewan mengundang pastor, tim yang bekerja keras selama masa kampanye, dan para pemilih untuk duduk makan bersama santapan rohani dan jasmani yang enak. Pelantikan memang layak dirayakan, apalagi bulan-bulan ini begitu banyak orang mengadakan pesta. Pesta pelantikan harus lebih ramai, karena ini pesta kemenangan rakyat.

Dalam berbagai kesempatan berpidato, anggota Dewan yang baru dilantik paling kurang mengatakan hal-hal ini; pertama, ajakan untuk bersyukur pada Tuhan. Kedua, ucapan terima kasih atas kepercayaan rakyat pemilih. Ketiga, terima kasih khusus kepada tim pemenangan. Dan keempat, janji untuk bekerja keras bersama rakyat. Dengan kosakata canggih nan ilmiah, pidato disusun secara meyakinkan, bahwa Dewan adalah benar-benar pilihan terbaik di antara banyak orang yang mencalonkan diri. Rakyat jadi pusat pembicaraan, atau ‘rakyat’ menjadi kata yang paling banyak disebut.

Akan tetapi, pelantikan, sebagaimana diketahui, adalah tanda pemberian tugas kerja yang baru. Sebagai apparatus negara yang dipilih langsung oleh rakyat, anggota dewan dituntut untuk benar-benar mewakili rakyatnya. Tritugas dewan, legislasi, anggaran, dan pengawasan, adalah tugas rakyat Manggarai Timur yang karena alasan efektivitas diberikan kepada 30 orang saja. Pidato-pidato pelantikan yang semarak diikuti tepukan tangan riang, baik saat misa maupun saat makan bersama, mesti tidak hanya menjadi sabda. Sabda itu harus menjadi daging! Sabda itu harus menjadi aktus, supaya anggota dewan luput dari cap “hanya tahu omong saja” (mese tombo kanang, toe bae pande). Lebih dari itu, jika demokrasi langsung sudah membawa mereka ke gedung parlemen, demokrasi itu juga harus menjadi panji yang memandu kerja mereka lima tahun ke depan. Demokrasi artinya menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi  dan koncoisme.

Lihat Anak-anak Muda Kita!

Ini bukan upaya menakut-nakuti Dewan, sebab tidak ada Dewan yang takut pada suara minor anak muda (anak koe), apalagi yang berteriak dari tanah rantau. Sebagai anak muda, kami betul berharap banyak dari kiprah para anggota dewan Matim lima tahun ke depan. Meskipun tidak banyak anak muda yang lolos menuju parlemen Lehong, suara anak-anak muda Matim adalah juga suara rakyat, suara pemilih yang percaya bahwa pak dewan akan mewakili kepentingan semua golongan masyarakat. Bukan hanya kontraktor, PNS, Bupati, atau keluarga pak dewan sendiri.

Hari ini, anak muda Matim tampak bangkit bersemangat dalam banyak lini kehidupan bermasyarakat. Banyak guru adalah anak muda, banyak penulis, pekerja media dan pegiat literasi adalah anak muda, banyak aktivis (meski belum terlalu memadai) adalah anak muda, banyak pengusaha adalah anak muda. Begitu juga THL, operator desa, dan operator lembaga pendidikan, banyak berasal dari golongan muda. Apalagi, siswa dan mahasiswa, hampir semuanya adalah anak muda. Ledakan pengaruh kaum muda atau generasi milenial tidak hanya terjadi di luar negeri atau di Pulau Jawa. Di depan mata pak dewan, ada banyak mata kaum muda yang melihat, membaca, dan mengkritisi proyek demokrasi yang akan dijalankan. Kaum muda kita memiliki semangat yang luar biasa, jauh lebih bersemangat ketimbang zaman dahulu.

Atas nama demokrasi, anak muda Manggarai Timur tentu saja membutuhkan pintu yang terbuka bagi perkembangan diri, golongan, generasi, dan bangsanya. Oleh karena itu, alangkah demokratisnya langit Matim jika kepentingan anak-anak muda difasilitasi dengan baik sesuai porsinya. Anak-anak sekolah harus diberikan kemudahan berekspresi demi kemajuan pendidikan. Para guru muda harus diperhatikan, sebab mereka menjadi kunci keberhasilan proyek pendidikan di sekolah-sekolah. Para THL juga membutuhkan perhatian demi kemakmurannya. Para pekerja media, penulis dan  pegiat literasi membutuhkan keterbukaan informasi secara demokratis untuk dapat merealisaikan darah idealisme mereka yang sedang membuncah.

Atas nama demokrasi, anak muda Matim ingin bekerja bersama para anggota dewan dalam membangun daerahnya menuju kemajuan di segala bidang. Yang paling dibutuhkan di atas semua itu adalah keterbukaan untuk membuka pintu bagi artikulasi kepentingan kaum muda. Para anggota dewan diharapkan memberikan peluang bagi kaum muda agar kreativitas mereka tidak mati tetapi memiliki dampak bagi kehidupan bersama. Sejarah bangsa kita tidak pernah dapat berbohong tentang peran penting kaum muda di setiap zaman. Pak dewan, lihat semangat mereka!

Penulis : Anno Susabun|Tua Panga|

1 thought on “Pak Dewan, Lihat Semangat Anak-anak Muda Kita!

  1. Hey very nice web site!! Man .. Excellent .. Amazing .. I’ll bookmark your web site and take the feeds also…I am happy to find so many useful info here in the post, we need develop more techniques in this regard, thanks for sharing. . . . . .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *