Pakde Korsen: Idemu Abadi, Yang Fana Itu Jala dan Seragam TNI-mu

Kita semua pernah muda, tapi tak semua jadi mantan TNI. (foto; Dokumentasi pribadi)

Loading


Apek Afres|Redaksi

Tidak semua orang bisa menjadikan pengetahuan dan pendidikannya awet sepanjang hayatnya. Usia, kesibukan, dan pekerjaan seringkali membuat orang berhenti belajar persis ketika sekolahnya tamat. Adalah sebuah pengecualian ketika saya dan beberapa teman berkemah di salah satu waduk di Yogyakarta, Waduk Sermo, kami menjumpai sosok lelaki yang luar biasa. Pengetahuannya luas. Saat senja, beliau berbicara tentang konsep ketuhanan. Barangkali saat mentari pagi beliau akan berbicara tentang modernisme dan isme-isme lainnya.

Namanya Korsen. Nama lengkapnya saya tidak tahu. Tidak ada untungnya juga kalau saya tahu. Karena akrab dipanggil Pakde (Paman), saya dan beberapa teman terus memanggilnya Pakde. Pakde saja. Tidak lebih, tidak kurang. singkat, padat, jelas, yang penting i love you.

Kami berjumpa dengan Pakde ketika Beliau hendak membuang sauh, menebar jala untuk menangkap ikan di Waduk Sermo. Kami mendekati Pakde yang sedang mengeluarkan sisa air dari perahu kecilnya. Dari jauh beliau sudah melempar senyuman kepada kami. Kami bersalaman ala Korona. Salam sehat.

Sebelum menebar jala, Pakde berbicara banyak hal. Pengetahuannya luas. Saya masih ingat sedikit, Pakde sempat berbicara soal manusia yang rasional. Meminjam pemikiran Socrates katanya. Saya semakin terpukau. Kok seorang penjala ikan bisa punya pengetahuan yang luas semacam ini? Saya semakin penasaran, siapa sebenarnya Pakde ini? Perbincangan berakhir saat matahari terbenam. Pakde terus menjala ikan, sementara kami mulai sibuk mendirikan tenda. Siap meramu kenangan-kenangan.

Malam semakin pekat. Lampu-lampu terang-benderang dari rumah sekitar Waduk Sermo. Pukul 08.20 WIB, ketika kami menghangatkan diri di depan tenda, Pakde sudah pulang menebarkan jalanya. Beliau kembali menepikan perahu kecilnya. Sebagai penduduk yang tinggal di dekat pantai, saya tahu betul bahwa besok pagi Pakde akan datang mengangkat jalanya, lalu menikmati hasil kerja kerasnya sendiri.

Di hari berikutnya, kami bangun lebih cepat. Di kos, saya boleh saja tidur sampai mengalahkan kasur. Akan tetapi, di sini malahan tubuh yang jadi empuk sedangkan kasur jadi keras. Kami bangun pukul 05.30 WIB, rindu pun masih bergelantung di langit subuh. Ketika kami sedang memasak air, menyiapkan kopi, perahu Pakde sudah memecah sepoi pagi di atas air, tepat berhadapan dengan tenda kami. Beliau melambai tangan sambil melempar senyum manisnya.

Saya dan beberapa teman sudah berencana hendak bercerita lebih lama dengan Pakde. Pukul 08.20 WIB, Pakde sudah menepi ke tepi waduk. Kami pun menghampirinya. Sebelum kami berbicara dan menanyakan sesuatu kepada Pakde, kami dicegat oleh ajakannya.

“Ayo, kita ngobrol di rumah Pakde”, ajak Pakde sembari memasukan ikan hasil tangkapannya ke dalam ember. Tanpa basa-basi sedikit pun, kami sepakat untuk meluncur ke rumahnya. Bagi kami, ini adalah kesempatan terakhir untuk mengetahui siapa Pakde ini sebenarnya. Setelah perlengkapan tenda sudah dirapikan, kami berangkat ke rumahnya. Beliau menggunakan motor bututnya sendiri.

Rumah Pakde tidak jauh dari Waduk Sermo. Cuman 500 meter saja. Beliau menyediakan kursi mini dan meja mini untuk kami di teras rumahnya. Halamannya juga luas. Saya memilih posisi duduk yang berhadapan dengan Pakde supaya sama-sama menunjukkan jenggot masing-masing. Pakde menyuguhkan kami dengan teh hangat. Perbincangan pun pasti akan menjadi hangat.

Seperti sebelumnya, Pakde berbicara banyak hal. Bahkan kali ini lebih kompleks dari perbincangan pada perjumpaan sebelumya. Menyala. Beliau menyinggung soal pluralisme dan agama-agama. Sesekali beliau kaitkan keberlangsungan agama sekarang dengan teori Max Weber, yang menyatakan bahwa agama adalah sumber perubahan sosial. Gila Bapak tua yang satu ini. Cerdas amat. Lumayan juga, kami tidak bego-bego amat.

Kami tidak berbicara banyak. Kami hanya menganggukan kepala berusaha meyakinkan Pakde bahwa kami paham apa yang Beliau bicarakan. Saya pikir Pakde berbicara banyak hal tentang alam dan profesinya sendiri. kontekstual begitu. Daripada Pakde melanjutkan pembahasannya tentang agama dan problematika keji lainnya, kan rumit, kasian kami yang otaknya sedang merangkak tidak pasti ini.

saya iseng-iseng bertanya. Berbicara yang lain sedikit to Pakde.

“Dulu, Pakde kuliah di mana?”, tanya saya mengalihkan pembicaraan.

“Saya tidak kuliah, saya hanya penjala ikan. Ikan-ikan yang saya tangkap dibuat menjadi crispi. Crispinya sudah beredar di beberapa kota. Bandung, Semarang, dan Palembang”, jawabnya santai. Saya salut bahwa sebenarnya yang kami temui sekarang adalah salah satu pengusaha sukses. “Saya juga suka berternak. Saya pelihara bebek sama kambing”, lanjutnya menyakinkan. Kami semakin terpukau.

Dari raut wajahnya saya yakin bahwa Pakde berpura-pura dan berbohong dengan kami. Saya malah lebih terpukau ketika Pakde berbicara mengenai kekuatan pikiran, pentingnya meditasi dan lain-lain. Kok pengetahuan Pakde begitu luas dan sedalam ini? Saya semakin penasaran. Saya perhatikan dinding ruang tamu rumahnya untuk melihat apakah ada foto beliau ketika masih muda. Dari luar memang susah untuk melihat ke bagian dalam rumahnya karena bentuk rumah beliau yang agak unik. Saya iseng-iseng pergi cas HP. Pakde persilakan saya masuk ke dalam.

Saya masuk ke dalam dengan tenang, sambil memperhatikan dinding ruang tamunya. Saya kaget, terkejut melihat Pakde ketika masih muda.

Beliau berseragam TNI…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *