Paskah dan Ndekok Korupsi

386 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Sekarang Gereja sejagat memasuki masa Paskah. Latang ite ata Serani, Paskah dimaknai sebagai momen merayakan kebangkitan Kristus. Ia yang pada mulanya mengalami kematian, kini bangkit dan mulai memasuki babak kehidupan baru. Lebih lanjut, Paskah sesungguhnya mesti dihidupi dan menjadi bahan refleksi one mose leso-leso dite. Paskah sejatinya menginspirasi kita untuk bangkit dari segala persoalan dalam hidup, khusus menyangkut ndekokkorupsi. Semangat kebangkitan Mori Kraeng mestinya memampukan kita untuk bangkit dan menyatakan perlawanan atas korupsi.

Ndekok Korupsi

Akhir-akhir ini Indonesia sering-kali diwarnai ndekokkorupsi. Dalam beberapa kasus, hampir pasti ndekok korupsi seringkali dilakukan oleh wakil-wakil di kursi DPR, elite daerah, lembaga peradilan, dan juga lembaga keamanan. Selain itu, ndekok korupsi juga dilakukan oleh sejumlah elite politik (bupati) dalam kerja samanya dengan bos-bos lokal pemilik modal.

Gambaran terjadinya praktik ndekok korupsi di Indonesia setidaknya tercermin dalam indeks persepsi yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga survei di antaranya oleh Lembaga PERC. Dari hasil survei Lembaga PERC didapati sejak 2005 indeks persepsi korupsi Indonesia selalu mengalami peningkatan, bahkan PERC menetapkan Indonesia menjadi Negara terkorup di Asia Pasifik pada 2009 dan 2010 (M. Yusuf, 2013:1).

Persoalan korupsi juga digambarkan dengan banyaknya pejabat daerah yang terlibat dalam skandal mega-korupsi. Menurut KPK, sepanjang tahun 2018 tercatat 29 kepala daerah telah terjerat kasus korupsi (kompas.com).

Selanjutnya ndekok korupsi juga terlihat pada tingkat lokal. Di Manggarai Timur, misalnya, sepanjang September 2016 lalu sudah ada rentetan persoalan korupsi, diantaranya korupsi alat kesehatan dan terkait dugaan penyelewengan pembangunan gedung inspektorat Matim (voxntt.com, Serap DAK Tertinggi di NTT, Korupsi di Matim makin Menjamur, diakses pada Minggu, 22 April 2019).

Dari sejumlah kasus yang terjadi, kita dapat menemukan sejumlah model korupsi, yakni pertama, korupsi individual, dimana seorang pejabat memanipulasi kepercayaan publik. Ia mengunci kebutuhan publik di atas kepentingan pribadinya semata.

Kedua, ada juga korupsi yang dilakoni oleh dua pihak sekaligus: suap menyuap, gratifikasi, sogokan dan lain-lain. Dalam banyak kasus, korupsi jenis ini sering kali terjadi menjelang pemilu/pilkada. Hal ini berkenan dengan para pejabat yang membutuhkan dukungan dana, sementara para pengusaha membaca peluang yang terjadi demi merampas bisnis dana APBN/APBD. Para pengusaha menaruh investasi dengancara mendekati para calon kepala daerah. Imbalannya akan didapati nanti ketika kepala daerah terpilih, berupa hadiah proyek APBD (Bohikrasi dan Politik Uang, Kompas, 04/04/18).

Jika melihat lebih jauh, kita dapat menemukan dampak buruk dari ndekok korupsi ini. Ndekok Korupsi yang dibuat oleh para aparatus negara membuat rakyat harus memikul sebagian biaya pajak. Selain itu, ndekok korupsi menyebabkan biaya hidup mahal, keterbatasan fasilitas pelayanan dan ketidakberesan soal infrastruktur jalan, jembatan, proyek rumah sakit dan proyek bangunan lainnya. Ia menyebabkan gagalnya Negara menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga pengangguran dan kemiskinan melangit. Dalam hal ini peringatan Koffi Annan, mantan Sekjen PBB, dibenarkan bahwa korupsi adalah wabah dengan spektrum dampak sangat luas, yang menghancurkan tatanan sosial. Ia menguburkan demokrasi dan kedaulatan hukum. Ia adalah akar dari pelanggaran HAM, menghancurkan tatanan ekonomi pasar, menurunnya kualitas hidup dan menguburkan kejahatan terorganisir, terorisme, dan ancaman-ancaman kemanusiaan lainnya (Madung, 2017: 141).

Ndekok Korupsi dan Kebangkitan Paskah

Sekarang ini Gereja sejagat masih memasuki masa Paskah. Paskah dimaknai sebagai masa merayakan sukacita kebangkitan Kristus. Ia yang pada awalnya  melakoni serangkaian episode kematian tragis, kini memasuki babak kehidupan baru yakni bangkit dan mengalaukan dosa serta maut. Kebangkitan itulah yang kemudian menjadi bukti historis kemahakuasaan Kristus. Bukti biblis kebangkitan Kristus ditandai dengan kesaksian Maria Magdalena tatkala melihat batu penutup makam Yesus telah tiada (Yoh. 20:1). Selanjutnya ia bersama para murid juga melihat kubur Yesus dalam keadaan kosong, kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh sudah tergulung rapi (Yoh. 1: 7-8).

Lalu, apa makna kebangkitan Paskah ? Kebangkitan Paskah yang kita rayakan mestinya menggerakan kita untuk bangkit dari persoalan korupsi. Perayaan kebangkitan Paskah hendaknya menginspirasi kita untuk berani menyusun strategi baru dalam memerangi ndekok korupsi. Kita mesti meninggalkan cara lama dan segera bangkit untuk melawan korupsi melalui sejumlah cara baru. Adapun strategi baru yang dimaksud : pertama, negara mesti memperkuat rezim hukum dan peraturan perundang-undangan terkait pemberantasan korupsi. Dalam hal ini juga hukuman bagi para koruptor mesti diperberat.

Kedua, lebih lanjut pihak terpidana tidak hanya dijebloskan tetapi disertai upaya menyita dan merampas aset-aset beserta hak politiknya. Ketiga, selain itu negara bisa memperkuat basis hukum dengan meniadakan remisi bagi koruptor. Keempat, masyarakat juga mesti membangun ikhtiar untuk menyatakan perang terhadap korupsi. Cara praktis yang dapat dilakukan ialah dengan menjaga proses pemilu/pilkada dari setiap praktik politik uang. Sebab sudah dipastikan uang tersebut merupakan buah  kesepakatan pemodal dan kandidat bersangkutan.    

    

Gambar Ilustrasi (Google)

Penulis : Ichan Pryatno |Mahasiswa Filsfat Ledalero|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *