Paulus Sopir Oto Kol

405 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Sudah sekitar 7 tahun Ia menjadi sopir oto kol. Waktu 7 tahun menjadikannya populer di kalangan masyarakat sepanjang rute dari Ruteng ke Elar PP, tempat dimana ia mencari penumpang dan mengangkut hasil komoditas para petani, seperti : kopi, kemiri, vanili dan sebagainya . Ia dikenal ramah, sopan dan bertanggungjawab kepada barang penumpangnya. Namanya Paulus.
Suatu hari Paulus memangku kaki di terminal Carep. Tiba-tiba seorang wanita menarik bahunya. ” Elar ite ko om ?” Tanya wanita itu. Paulus membalikan badan, ia tidak percaya dengan apa yang sedang dihadapinya saat itu. Seperti disambar petir siang bolong. Wanita itu adalah mantan Paulus yang tiga hari sebelum menikah pergi tanpa alasan yang jelas dan berpisah secara sepihak. “Saya harus profesional menerima penumpang. Pokoknya harus”. Tuturnya dalam hati.
“Io ite nggerawo Elar ami. Kebetulan mangakin tempat kosong be olo”. Jawab Paulus terbata-bata. Raut wajah wanita itupun kurang enak dipandang. Sepertinya ia malu atas perbuatannya pada Paulus.
“Mai enu ga, aku podo tas dite”. Mereka kemudian berjalan menuju oto kol milik Paulus tanpa sepatah kata. Paulus menaruh tas, lalu langsung pergi mencari penumpang lainnya.
Setelah sudah banyak penumpang menaiki oto kol milik Paulus, mereka pun berangkat.
Sepanjang perjalanan si wanita tak henti-hentinya memandang Paulus, seakan cinta yang sudah patah di dalam hati tumbuh kembali bersama pohon sensus di puar Rana Poja. Paulus cuek saja. Ia berusaha melupakan wanita itu dan menganggapnya sama dengan penumpang lain.
“Nana paul pisa anak dite ga ?” Tanya wanita itu sambil menatap tajam ke dua bola mata Paulus. Serentak Paulus menginjak rem mobilnya hingga beberapa penumpang harus berbenturan dengan tiang bak oto.
”Ata co’o ho’ ge Paul ?” Teriak satu penumpang agak kesal.
Tak mau menghiraukan pertanyaan itu, Paulus langsung tancap gas melanjutkan perjalanan.
”Toe di mangan ow ite. Nikah ket toe di. Asa diten ?”. Paulus balik bertanya.
Nampaknya agak sulit bagi si wanita itu untuk menjawab. Ia berpura-pura memandang ke luar sambil menyembunyikan air mata yang menetes. Berharap angin kencang sepanjang hutan kopi Colol bisa menghempas air matanya kemana saja, asal jangan ke arah paulus.
”Aku kole toe di nikah nana. Ata rona ho’o ata kudu nikah agu aku one pisa hamil ine wai banay, akhirn ami batal kut nikah du itu”
Mendengar jawaban wanita itu, Paulus sangat bahagia, lebih bahagia dari berita kenaikan gajinya bulan depan.
“Tetapi tidak. Saya tidak boleh kelihatan bahagia. Apa yang dilakukannya terhadap saya lebih sakit ketimbang kejepit dongkrak saat membuka roda belakang. Saya memang bahagia. Bahagia karena hukum karma itu berlaku. Dulu dia pergi mencari ata rona yang lebih mapan ekonominya. Icekm ga”
”Ole baeng eme nggitu ite ge enu”. Tegas paulus.
Hamparan kopi colol, rintik-rintik hujan dan pipi wanita yang dilintasi air mata, sedikit mengganggu konsentrasi Paulus. Hampir saja motor satria fu tersenggol di jembatan Wae Nunung.
” Kido ema. Molor koe ba oto dau ho ta”
Paulus melempari senyum dan berkata. “Neka rabo kae”.
Paulus tak tahu lagi harus berkata apa. Ia kecewa bercampur bahagia. Seandainya ia terlahir sebagai orang kaya, pastinya ia sudah menikah dan dikaruniai beberapa orang anak.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Mose dokong membuatnya ditinggal secara sepihak dan kini wanita itu kembali dengan deraian air mata penyesalan.
” Paul, Lete wie aku hole hotes tenang ite. Cala ngance aku kaeng kole bali mai racap dite”
Paulus terdiam. Ia hanya membunyikan klakson dan membakar rokoknya. Lagi-lagi Paulus mendadak me-rem oto kol itu. Kardus di bagasi jatuh ke tanah.

“Oe Paul coo kole ba oto dhau hoo hi gi ta ?” Teriak konjak dari bagasi sambil bergerak memungut kardus yang jatuh. “Eme beti ulu, celong ba oto ga”. Paulus mengabaikannya.
Sambil memandang indahnya pesona Lokpahar, Paulus memberanikan diri menjawab. ” Enu, nuk tedeng laku ite. Bilang leso, bilang wie. mesen de bengkes daku. Landi woko nggitu pande dite agu aku, neka keta rabo. sendo koe mose hanang koe di lite aku”. Paulus menyedot rokoknya kembali sambil melambaikan tangan pada mas bakso di Lokpahar.
Kiri ee, kiri….manga ata wau no’o. Mereka berhenti sejenak, dua orang penumpang turun di cabang Kate, kampung setelah Lokpahar.

”Paul, bae laku beti nai dite. Am cewe mese beti nai hituy agu tana lino ho’o. Lembak koe naim latang aku. Apa ata pande meseng one sua, toe ma pande kole laku diang caisua.” Wanita itu memohon.
Paulus semakin gelisah. Ia berdoa agar segera sampai di Elar. Percakapan itu hanya basa basi baginya. Penyesalan wanita itu tak sebanding dengan rasa sakitnya. Kemudian ia menepi dan minum kopi sebentar di watunggong.
**
Antara menerima atau menolak tidaklah mudah menentukannya. Paulus dilema dan ingin memaki dirinya sendiri. Cinta yang sudah lama dibangun, tinggal tiga hari menuju pelaminan harus runtuh lantaran keputusan sepihak yang tidak manusiawi bagi Paulus.
Namun pada satu sisi, Paulus tak mampu menipu dirinya sendiri. Ia masih cinta. Barangkali benar kata seorang penyanyi “kalau jodoh takan kemana”. Namun harga diri harus tetap ia jaga. Laki-laki tidak harus memungut kembali cinta yang telah tumbang. Yang patah tidak selamanya tumbuh kembali, yang hilang tak selalu berganti dan yang hancur lebur tak selalu bisa diobati. Masih ada wanita lain yang tidak akan meninggalkan tunangannya hanya karena alasan ekonomi.
Untuk mencairkan suasana itu, Paulus memutar lagu Helena. Volume tapenya dinaikan setengah. Lagu helena yang melantun itu nampaknya mengundang air mata untuk berderai di pipi wanita sebelahnya. “Nasib oh nasib, co’o tara mangan ita rangam one nipi. Helena bambas rangam ta Helena manik de one nai ge”. Wanita itu mengambil tisu mengeringkan air mata penyesalan. “Nana Paulus eme jadi Helena kaku, asa momang kin lite ko?”
Pertanyaan ini menggores hati Paulus. Ingin ia menampar mukanya sendiri. Ia hanya lelaki pecundang yang tak mampu mengobat luka lama. Ia merasa kasihan dengan wanita di sebelahnya sedang memohon cinta yang ia
sembunyi-sembunyikan.
Paulus mempercepat laju oto kol itu. Tak ia hiraukan jalan berlubang sepanjang kampung Nanga. Untuk saat ini, penumpang tak berkomentar banyak ke Paulus. Mereka protes ke pemerintah karena jalan yang baru diaspal belum lama dipakai, sudah rusak kembali.
“Mbore Paul tu lincah gay” bisik seorang penumpang di bak belakang.
“Enu eme Helena ite, mut daku pucu ita imus dite. Landing kudu jadi naca laing neka rabo ite. Aku toe nganceng, ai manga kin reu nai weri dite”.
Kiri e kiri. Salah satu penumpang turun di Nanga. Penumpang itu memberi uang ke Paulus sambil berbisik “Ndeo, wela bunga do kudu le kakel”
Paulus tersenyum sambil merenung. Dia berpikir apa yang dikatakan penumpang tadi banyak benarnya. Bunga yang indah pasti dihinggapi banyak kupu-kupu.
Perjalanan ke Elar masih jauh. Kurang lebih 30 menit lagi. Oto kol itu baru tiba di Cabang Wangkar. Cabang Wangkar memberikan nuansa alam yang damai bagi penumpang oto kol itu.

Angin yang berhembus mesra, padi yang mulai menguning, serta keramahan warganya membuat nyaman semua orang yang sedang lewat termasuk Paulus dan Wanita di sebelahnya. Setelah Helena, di playlist selanjutnya momang adong bergema. Lagu yang memasyarakat ini seakan mengajak anak anak di sepanjang jalan untuk bergoyang “kali momang adong mo enu e” begitu sedikit reff lagu dari alm. Sius Magung itu.
Setiba di tepi wae Larik Paulus menyiram bak oto karena ada yang muntah tepat di baknya. Wanita itu turun, lalu membasuh mukanya juga. Kemudian ia tertunduk dan ingin membuang penyesalannya di Wae Larik. Ia gagal. Ada bayang-bayang wajah paulus dari air yang jernih itu. Paulus tidak bisa ia lupakan begitu saja. Pengalaman pahit yang diberikannya kepada paulus harus dibalas dengan pengorbabanan berbuah manis. Maksimal hidup dan mati bersama Paulus.
“Enu mai ge” panggil Paulus.
Mereka kembali melakukan perjalanan. “Enu dod kin ntala ata ngance pande gerak ite. Toe aku kanang. Koso luu mata hitu ga” tutur Paulus. Wanita itu menangis tersedu-sedu dan berkata ” nana maram dod ntala. Ntala ata nera tedeng ite kanang”. Wanita itu berusaha meyakinkan Paulus bahwa tak ada lelaki lain yang bisa menyejukan hatinya.
Paulus masih saja bimbang. Apa kata orang jika ia menerima kembali wanita yang perlakuanya tidak bisa diterima begitu saja ?. Namun jika cinta itu pengorbanan, lalu apakah ia harus mengorbankan harga dirinya, dan menerima kembali wanita itu ? Oh tidak.
”Enu. Beti nai daku. Beti pande dite”. Tutur Paulus lagi.
Oto kol itu berjalan pelan menyusuri jalan berlubang sepanjang Mombok menuju Gorong. Jalanan sepi. Sesepi hati paulus saat ditinggal pergi. “Enu ite tei aku momang adong. Ai lengge pe aku e. Mai ite ledong aku”. kali ini dengan nada yang lebih keras.
Nampak kekesalan Paulus tergambar dari wajahnya yang mulai memerah.
Booooooommmmm. Ban oto kol tiba-tiba meledak….
Tidak ada bengkel. “Konjak kerja ee” teriak Paulus sedikit kesal.
(Beberapa menit kemudian)
Poli ge paul. Lako kali ga” teriak konjak dari bawah kolong oto kol sambil membereskan kunci roda dan dongkrak yang berserakan untuk dikembalikan ke tempatnya.
Paulus membunyikan mesin oto, kemudian memasukan persneling agar oto tersebut jalan. Kali ini pikiran Paulus sedikit melayang setelah menghabiskan satu botol sopi bersama beberapa penumpang. Ia mengoyang-goyangakan kepala sesuai hentakan bas lagu yang ia pasang. Sekalipun pikiran sedikit melayang oto kol yang dikendarainya masih berjalan normal, tidak memakan bahu jalan apalagi menambah kecepatan. Oto masih berjalan normal hanya pikiran tentang wanita disebelahnya yang tidak normal.
“Enu suci kin ko ?”.
“Rei apa hau Paulus ?” Wanita itu balik bertanya.
“Asa poli toko agu ata bana hau enu ?”. Pertanyaan Paulus sepertinya mencekik si wanita disebelahnya itu.
Oto itu kini berjalan sangat pelan. Paulus sengaja karena sudah dekat rumah si wanita disebelahnya.
Wanita itu tak mampu berkata apa-apa. ia hanya memeloti Paulus sambil meneteskan air mata.
“Wale enu, waleeee” teriak Paulus.
Nampaknya perpaduan rasa sakit dan alkohol membuat Paulus bertindak diluar batas. Ia berteriak dan meludahi wanita itu
” puiiii….poli toko agu ata bana, ba bangern cee aku. Ole enu toe acu kaku. Eme acu co’o teing hang banger lmeu lai’t laku”.
Sepanjang menurun kampung Lawi oto kol itu berjalan sangat pelan.
“Paul emak bike kole ban mbore ?” Teriak seorang penumpang yang duduk paling depan di bak oto sambil memperhatikan Paul di spion.
” Lako sante amang, asi gelang bail.” Jawab paulus tenang.
“Nana. Sumpah toe di ma toko agu ata bana aku”. Sambil menangis, wanita itu memegang bahu Paulus. “Eme toe ma imbi lite aku toe ma coon. Maram asi ket tiba kole lite aku ga”.
“Enjel……gereng ceee, Manga ket mai cee aku ” teriak Paulus. Wanita itu ternyata bernama Enjel.

Penulis : Popind Davianus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *