Pengin Jadi Penulis Hebat, tetapi Mentok di Benerin “di”

dipeluk dan dicium (Sumber foto: Google)

 589 total views,  3 views today


Frumens Arwan | Redaksi

Yang bisa nulis hebat banyak. Yang jago memainkan diksi dan memikat hati banyak wanita juga banyak. Pun yang isi tulisannya merambah ke sagala macam topik, mulai dari soal harga kacang hijau sampai soal sengketa di meja hijau, jauh lebih banyak. Akan tetapi, hal yang buat gue tersinggung dan sedih banget sampai ke tulang-tulang adalah bahwa banyak penulis kita saat ini yang suka zalim terhadap “di”. Lah kok gitu? Kata aja dizalimi, apalagi gue yang bertahun-tahun jadi beban keluarga yah? Yaelah.

Perhatikan paragraf berikut ini. “Pegawai pos asal Kediri mati di Jakarta kemarin. Di hari itu ia sempat telat masuk kerja lantaran menghadiri pemakaman temannya yang dimakamkan di pemakaman Jeruk Purut. Di balik itu semua, istri almarhum tak terlihat sedih sedikit pun. Barangkali ia sementara memikirkan telur goreng yang lupa dibalik.”

Menurut lo, ada yang salah nggak dari penggunaan kata “di” pada paragraf di atas? Kalau lo masih bingung, mari lanjut membaca!

Belakangan gue baru sadar kalau ternyata gue menemukan ini tidak hanya di buku-buku akademis, fiksi, non-fiksi dan sebagainya, tetapi juga di tempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan, kantor pemerintahan, rumah ibadat bahkan di papan nama sekolah. Kemarin, misalnya, gue nemu ini di papan himbauan sebuah pasar swalayan kecil alias minimarket. “Dilarang Menarik Retribusi Parkir Di Halaman Indomaret ini.” Sezalim itukah Anda pada “di”? Yang besar itu perut Anda dan “A” pada “Anda” doang. “Di” pada kalimatmu itu nggak usah dibuat besar juga kalee.

Bahkan gue sempat nemu di postingan salah seorang kawan di Fesbuk, yang mana kata “disanggah” ditulis “di sanggah”. Dan lo tahu, itu ditulis oleh instansi sebesar Bank Mandiri. Masya Allah.

Ada juga kawan yang pernah tanya ke gue, “di” pada kata “dicium” dan “dicuekin” itu ditulis secara terpisah atau ditulis serangkai? Yah gue bilang aja ke dia bahwasannya kalau loe dicuekin sama doi lantaran dianya menolak untuk dicium yah nggak usah zalim ke “di” lah. Kan kasihan “di”, Bambang! “Di” salah apa, coba?

Nah, yang paling sering gue lihat dan baca adalah yang ini. “Tanah ini di jual.” Atau “Rumah ini di kontrak.” “Dijual” dan “dikontrak” itu predikat sehingga harus ditulis serangkai. Sudah salah dan goblok, dipajang lagi pakai baliho yang besarnya kayak lapangan golf. Gobloknya jadi kelihatan. Astaga, gue kok kasar banget yah.

Daripada gue makin sakit hati dan geram, gue coba jelasin deh. Bukanya mau sombong yah, tetapi mau gimana lagi. Mendingan gue sombong aja. Yekan? 

Apa sih “di” itu? Apakah dia sama seperti kita? “Di” itu siapa? Gue siapa? Kita di mana? Kamus Besar Bahasa Indonesia daring versi Kemendikbud menjelaskan begini. Pertama, “di” merupakan kata depan untuk menandai tempat. Contoh, semalam ia tidur di kos mantannya. Eh. Kedua, “di” merupakan kata depan untuk menandai waktu. Contoh, kami putus di hari jadian kami. Nyesek. Ketiga, kata “di” bermakna “akan”; “kepada”. Contoh, ia tidak tahu di jerih orang. Keempat, kata “di” bermakna “dari”. Contoh, jauh di mata dekat di hati. Asik.

Penjelasannya leksikalnya kurang lebih demikian. Lebih dan kurangnya bisa dipelajari lebih lanjut. Ini penting karena seorang penulis harus punya pegangan. Kalau tidak ia akan jadi bulan-bulanan pembaca atau penulis lain yang lebih mahir dalam soal diksi atau pemilihan kata.

Berdasarkan penjelasan singkat tersebut, mari kita bedah lagi paragraf yang gue berikan di atas tadi. Paragraf pertama di atas (“Pegawai pos asal Kediri…dst….) sudah tepat. “Di Jakarta”, “di pemakaman”, “di balik” menunjuk tempat; “di hari itu” menandai hari;  “yang dimakamkan” ditulis serangkai karena merupakan kata sifat predikatif; sementara “dibalik” merupakan sebuah predikat pasif.

Juga berdasarkan apa yang gue lihat kebanyakan orang salah kaprah menggunakan “di” karena keliru membedakan “di” sebagai kata depan, sebagaimana dalam contoh frasa “di sungai”, “di rumah” dan “di” sebagai imbuhan untuk kalimat pasif, sebagaimana dalam contoh kata “dimakan”, “dicuri”, dan “dimadu”. Kalau masalah ini beres, gue jamin minimal lima puluh persen kasus penzaliman terhadap “di” akan hilang. Gue jamin.

Akhirnya, gue pengin bilang kalau gue juga bukan penulis yang hebat. Gue hanya penulis yang sakit hati. Palingan gue juga zalim terhadap kata-kata lain selain “di”. Semoga saja tidak. Cek aja di tulisan-tulisan gue. Tapi dari gue, kalau mau jadi penulis hebat mending baca dahulu Komposisi karya Gorys Keraf. Baru deh mulai terjun di dunia tulis-menulis. Persis karena saat ini, sembilan dari sepuluh penulis bertekad menjadi penulis hebat, tetapi lupa benerin “di”. Jangan sampai kejadian pengin jadi penulis hebat, tetapi mentok di benerin “di”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.