Perempuan Bukan Objek Kehendak Laki-laki

Sumber Foto: harnas.co

146 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Persepsi yang kurang tepat mengenai kesetaraan gender telah menghalangi peran perempuan dalam kehidupan sosial. Kebanyakan dari kita masih menganggap perempuan memiliki keterbatasan kesempatan berdasarkan ciri biologis primer. Banyak perempuan yang mengharapkan kesetaraan gender demi mendapatkan hak yang sama. Kesetaraan gender di sini bukan berarti menyamakan fungsi perempuan dengan laki-laki, tetapi perempuan ingin memiliki kesempatan dan akses yang sama sesuai dengan kemampuannya. Tujuan dari kesetaraan gender adalah agar setiap orang memperoleh perlakuan yang sama dan adil di tengah masyarakat, tidak hanya dalam bidang politik, tempat kerja atau bidang yang terkait dengan kebijakan tertentu. Dalam tulisan tidak berbobot ini, saya hanya akan mengulas tentang kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Jenis kelamin. Selain itu tidak akan diulas disini.

Dulu ketika liburan sekolah, saya memanfaatkan waktu berlibur ke kampung  untuk memetik kopi. Dari pusat Kota Ruteng hanya diantar sampai ke terminal Carep, selanjutnya naik bemo untuk mengurangi ongkos. Pesan Mama sebelum berangkat, “cari bemonya Om Kanis biar gratis sampe ke Lamba”. Sungguh-sungguh menghemat biaya, Gaesss. Tidak pikir sopir bemonya rugi kalo semua penumpang seperti saya. *hahaha. Begitulah hidup dan perjalanannya, kita butuh ‘orang dalam’ untuk dapatkan kemudahan. Termasuk dalam hal cari kerja. *Uhukkk…

 Di Lamba, Manggarai Timur, kopi menjadi salah satu sektor pertanian yang cukup menghidupi masyarakat. Pertengahan tahun menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu karena ratusan terpal akan dibentangkan di tengah natas beo (baca: dataran kampung) Lamba. Hasil kopi yang didapatkan cukup untuk membeli seikat ikan tembang ta’a dan sekarung beras. Itu pun kalau tidak ada bantang laki Ase Ka’e, sida (ini soal adat yang berlaku dan tidak bisa diabaikan lagi) atau hal lainnya yang menguras hasil panen. Saya bersyukur pernah diberikan kesempatan untuk merasakan bangun pagi, pakai baju robek yang dipenuhi nunu nggeluk (getah nangka), cu’ung roka (pikul keranjang) dan berjalan ke kebun untuk memetik kopi. Sampai di kebun, sama dengan yang lainnya, saya memetik kopi loke wara (kopi yang kulitnya sudah merah artinya sudah layak dipanen). Setiap hari kopi yang berhasil saya bawa pulang kurang lebih setengah karung 50Kg. Yang saya petik hanya setengah roka, sisanya hasil mencuri tuang dari roka pekerja harian lain. *Ckckck…

Orang-orang yang duat (pergi kerja di kebun) harian di kebun Nenek saya, ada yang perempuan, ada laki-laki, juga anak-anak usia remaja yang putus sekolah karena kekurangan biaya dan untuk membantu orangtua mencari uang agar bisa sedikit menunjang kebutuhan keluarga. Dan kebanyakan dari mereka adalah perempuan. Tugas mereka di kebun bukan untuk memetik kopi. Tugas mereka teneng (memasak), teku wae (menimba air), dan cake daeng (menggali ubi) untuk dihidangkan ke pekerja yang lain, dan untuk anak laki-laki pergi mencari haju dango (kayu kering/kayu bakar) untuk dipakai memasak di kebun dan dibawa pulang ke rumah.

Suatu kesempatan, saya duduk dengan Enu yang putus sekolah di samping tungku api di sekang (pondok) sambil menunggu masakan siap disaji untuk semua pekerja. Saya bertanya perihal alasan putus sekolah karena usianya bahkan belum pas disuruh mencari uang. Dia memiliki dua saudara laki-laki. Saudara sulungnya sudah berkeluarga dan pergi merantau sejak lulus SMA, sedangkan saudara satunya lagi sedang menempuh pendidikan di bangku SMP. Jawabannya ketika itu adalah karena kedua orang tuanya tidak mampu membiayai dia dengan saudaranya yang paling kecil. Dia disuruh untuk berhenti sekolah dengan alasan; “Eme sekolah, tetap kaeng kin musi dapur kudu teneng. Toema ngance lonto olo muka. Emo naram kat ata sekolah, neka inewai kole–kalaupun sekolah tetap saja duduk di dapur untuk masak, tidak bisa duduk di ruang tamu. Cukup saudara lelakimu saja yang sekolah, perempuan jangan.” Dan bahkan dia disuruh untuk menikah di usianya yang baru 15 tahun ketika itu untuk mengurangi tanggungan kedua orangtuanya.

Pemikiran masyarakat kita yang taat adat belum bisa terlepas dari pemikiran-pemikiran zaman dulu, di mana hanya anak laki-laki yang bisa bersekolah dan berbicara di depan umum. Pemikiran seperti ini hanya akan membuat perempuan menjadi ‘pelayan kehendak’ kaum laki-laki. Konstruksi gender yang lahir dari budaya patriarki telah menempatkan perempuan pada tempat yang berbeda dengan laki-laki. Misalnya saja, perempuan yang merokok akan lebih sering dianggap sebagai perempuan ‘nakal’. Sementara laki-laki yang merokok akan dianggap biasa saja. Padahal kalau dilihat dari segi kesehatan, perempuan maupun laki-laki yang merokok sama-sama akan merugikan kesehatan tubuh mereka masing-masing dan juga orang-orang sekitar yang terkena dampak asap rokok. Contoh lain, ketika dua orang perempuan dan laki-laki yang masing-masing sudah berkeluarga dan selingkuh, yang akan dilabrak pasti perempuannya. Sementara laki-lakinya yang ternyata lebih nafsu, akan didiamkan saja. Apalagi kalau ditambah suara tetangga-tetangga yang suka urus hidup orang lain. Hiksssss. Ahhhh sudahlah.

Pertanyaannya, apa alasan yang membuat kita belum bisa terlepas dari pemikiran-pemikiran tersebut ? Jawabannya mungkin saja karena kita lebih mau mengurus hidup orang lain dibanding diri sendiri, atau karena alasan feminimisme yang membuat perempuan selalu dianggap lemah gemulai. Dan, mungkin karena alasan adat dan istiadat yang disalahartikan oleh masyarakat kita? Ya. Mungkin saja, ‘belis’ salah satunya.

Belis bisa menjadi salah satu konstruksi gender. Cerita tentang belis muncul hampir di setiap kebudayaan. Hakikatnya amat mulia, bahwa melalui belis terjalin ikatan kekerabatan antara mempelai laki-laki dan perempuan beserta segenap anggota keluarga masing-masing. Belis juga menjadi simbol penghargaan terhadap nilai hidup manusia perempuan dan laki-laki. Di dalam belis terdapat nilai tersirat di mana ada yang memberi dan menerima. Tetapi pemahaman yang keliru tentang belis membuat perempuan terkungkung dalam dekapan ‘kekuasaan’ laki-laki. Belis yang disalahtafsirkan sebatas menunjukkan harta kekayaan, menjadikan perempuan hanya sebagai objek dari laki-laki. “Saya sudah bayar belis lunas. Terserah saya mau buat apa saja pada istri saya.” Pemahaman yang keliru ini membuat perempuan juga hanya menerima dirinya sebagai objek yang berlaku umum bagi laki-laki. Masih banyak perempuan yang ‘tidak berdaya’ untuk melawan indoktrinasi yang keliru ini.

Pada intinya, apapun yang menjadi alasannya, kita harus bisa terlepas dari pemikiran-pemikiran yang membuat diri sendiri menjadi susah. Perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Perempuan yang merokok atau suka pulang larut malam (seperti saya) yang menghabiskan waktunya untuk bekerja atau sekadar berkumpul bersama teman-teman, bukan berarti tidak bertanggungjawab terhadap tugas dan kewajibannya. Begitu pula dengan alasan adat istiadat. Sebelum kita melakukan tindakan yang salah dan merugikan orang lain, alangkah baiknya kita untuk belajar memahami tentang arti dan maksud dari setiap rangkaian adat yang dijalankan. Bukan hanya berguna bagi kepentingan diri kita masing-masing, tetapi akan menjadi bekal kelak untuk generasi penerus. Sehingga adat dan istiadat dan pemahaman mengenai itu tidak akan hilang dan/atau disalahartikan.

Dan pada akhirnya, jangan takut untuk melawan ketidakadilan. Kita perlu mengambil sikap dan tindakan untuk menghargai dan menghormati sesama.  Perempuan perlu kreatif menyiasati ketidakadilan gender yang diterima selama ini dengan sikap terbuka terhadap alternatif baru bagi diri. Demikian halnya kaum laki-laki perlu memerlakukan perempuan sebagai rekan semartabat dan sederajat dalam segala aktivitas.

Penulis: Rena Theresa|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *