Perihal Jodoh Menurut Orangtua

Sumber Foto: pixbay.com

324 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Tentang jodoh, bagi kebanyakkan orang itu sudah diatur oleh yang Maha kuasa. Apalagi yang sedang patah hati pasti semuanya kembali kepada yang Maha kuasa. Saya dan tentunya teman-teman semua berharap bahwa suatu saat kita akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dan kadang-kadang, jodoh itu harus memenuhi standar yang kita targetkan. Karena ini soal selera bro. Soal rasa memang beda, eh.. Misalnya “hidung pesek, rambutnya kriting, pintar meracik kopi dan tidak suka berdandan”. Ada banyak kriteria dari seorang pria untuk pasangannya. Kriteria ini tentu wajar bagi setiap pria. Toh seorang cewek juga memiliki kriteria tersendiri. Ini tidak perlu diperdebatkan gaesss. Wajar-wajar saja to?.

Itu sebagai contoh saja dan tidak semua kita memiliki kriteria yang sama. Namun, selain kita sendiri, juga orang tua kita memiliki kriteria sendiri perihal mengenai anak mantunya. Misalnya “anak mantunya harus seorang sarjana kedokteran hewan. Alasannya sederhana, karena bapa mantunya ada memelihara ternak. Bisa saja agar ternak peliharaanya (babi, kerbau, dan kuda) terawat kesehatannya. Itulah keinginan orang tua.

Sementara tampang anaknya pas-pasa-an. Mana ada dokter yang mau dengan pemuda yang tamatan SD, kalaupun ada pasti sudah dijodohin sejak dalam kandungan. Mana mungkin selimut tetangga hangatkan tubuhku dalam kedinginan, eh..lirik lagu. Orang tua saya di kampung misalnya mendambakan seorang menantu yang pintar meracik kopi dan tidak suka berdandan saat ada tamu, pintar menempatkan diri saat di depan banyak orang dan seorang sarjana kesehatan. Bagi saya ini masuk akal. Masa berdandan saat ada tamu. Ada-ada saja. Tapi tidak bisa dipungkiri, memang orang tua saya menginginkan menantunya demikian. Yang walaupun saya sempat berdebat panjang lebar dengan kedua orang tua saya mengenai keriteria yang terakhir itu. Masa harus tamat sarjana kesehatan. Sementara saya jatuh cinta pada sarjana apa saja. Tapi balik itu semua, tentunya mereka (orang tua) memiliki alasan-alasan yang mendasar.

Selain beberapa kriteria di atas, orang tua kita juga mendambakan menantu yang idealnya bisa membuat mereka senang. Nah ini memang menjadi tugas para cewek. Jadi bagaimana agar bisa membuat bapa dan mama mantu merasa senang. Ini bukan pekerjaan yang gampang. Apa lagi kalau anak mantunya suka main hape, pasti ceramain mulu bahkan menjadi bahan gosip orang sekampung. Susah juga ya jadi cewek. Memang menjadi menantu idaman harus tahan banting. Persoalanya jika sifat asli kita tidak sesuai dengan keriteria dari bapa mantu, terpaksa di depan mereka harus munafik dan harus beradaptasi.

Bayangkan saja, jika bapa mantunya biasa bangun jam 4 atau jam 5 subuh, maka menantunya juga harus bangun pada jam yang sama. Ada banyak hal yang harus dilakukan selain rebus air untuk seduh kopi juga masak nasi untuk sarapan pagi. Sementara kebiasaaan kita waktu masih di kos ( bagi yang kuliah)  bangun jam 6  itupun kalau jadwal kuliah pagi.  Sementara kita laki-laki jam bangunnya tidak teratur bahkan di bangunkan sama istri. Jadi laki-laki itu memang enak, sombong pula.  Selain memilih lalu memilah cewek untuk menjadi pasangan juga menjadi kepala keluarga ketika sudah hidup berkeluarga, sementara cari nafkah sama-sama. Memang begitu sudah. Budaya kita masih berkutat dengan gender. Perempuan itu selalu dilihat  sebagai  golongan kedua.

 Penulis: Waldus Budiman|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *