Permainan Nae Keto atau HAPE?

Anak-anak suka main HP daripada permainan masa kecil yang unik

Yuni Narmi|Redaksi

Masih ingatkah Anda dengan permainan zaman dulu, yang sering membuat kita lupa waktu dan dimarahi Bapak dan Ibu, karena sudah sore, namun belum kembali ke rumah? Anak zaman sekarang tentu begitu asing akan asyiknya bermain dengan teman sepulang sekolah.

Ada beragam permainan zaman dulu yang begitu populer, dan menjadi favorit anak-anak. Dari kelereng yang bisa dibeli, kuda kayu yang dibuat dari kayu biasa, serta pelepah pisang yang digunakan sebagai alas dalam permainan seluncur ala anak desa. Bahkan main di sungai beramai-ramai pun sudah senang rasanya.

Di zaman kami ada sebuah permainan yang perlu kita kenal kembali yaitu Nae Keto. Nae Keto merupakan salah satu jenis permainan yang sangat diminati pada masanya. Media utama dalam permainan ini menggunakan Kain Songke, tenunan khas Manggarai. Nae Ketp dimainkan dengan cara memasukan seluruh badan ke dalam kain tersebut. Uniknya bukan hanya satu orang yang berada dalam kain tersebut, melainkan hampir semua pemain diwajibkan masuk  ke dalam kain, hingga sesak.

Permainan ini menguji kesimbangan serta kerja sama yang baik antar pemain, sehingga para pemain tidak jatuh. Namun, nahas bisa saja menimpa pemilik sarung, jika sewaktu-waktu kain yang digunakan dalam permainan robek. Bisa saja ia akan mendapat marah dari orangtuanya. 

Uniknya, Nae Keto dilakukan dengan cara mengelilingi pohon beringin yang berada tepat di tengah kampung. Orang Mombok menyebutnya Ghaju Riton,  sehingga tidak heran jika kain yang digunakan bisa robek. Walaupun demikian, permainan Nae Keto merupakan salah satu permainan yang sangat diminati oleh anak tahun 2000-an. Selain memunculkan tawa, permainan ini juga bisa mengasah kemampuan otak anak dalam kerja tim.

Namun, hari ini, bisa dikatakan bahwa permainan Nae Keto tinggal kenangan. Semua permainan serba modern. Teknologi berkembang sangat pesat, buntutnya seluruh aspek kehidupan merangkak menuju modern.

Perkembangan teknologi memang sangat penting bagi kehidupan, seperti berkomunikasi secara mudah, memperbanyak relasi, menambah wawasan dan pengetahuan. Namun  teknologi seperti gadget sudah seharusnya untuk dipakai sesuai dengan kebutuhan. Bayangkan jika anak-anak di bawah umur 10 tahun diperbolehkan memegang hape tanpa pengawasan dari orangtua, tentu saja akan berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Selain itu, kecanggihan teknologi dapat memudahkan anak zaman sekarang untuk mengunduh permainan online. Tanpa disadari bahwa kita sudah menjerumuskan anak ke hal-hal yang tidak seharusnya mereka dapatkan pada usia dini.

Dahulu, sebelum adanya teknologi seperti sekarang ini, untuk bermain cukup dilakukan di luar rumah bersama teman-teman. Ketika hari libur tiba pasti selalu diisi dengan permainan tradisional seperti, permainan kuda kayu, jilau, kaeng ghurus (permainan yang sering dimainkan oleh anak-anak seusia penulis pada masanya di Lengko Namut, wkwkwk),  termasuk Nae Keto.

Begitu banyak makna yang  diperoleh jika anak-anak tetap melestarikan permainan tradisional, seperti melatih kerja sama, mengasah strategi untuk menang, melatih konsentrasi serta kemampuan fisik. Permainan tradisional juga mengajarkan anak-anak untuk menghargai sesama dan mengajarkan anak-anak untuk sportif.

Tetapi, kita juga tak bisa membatasi eksplorasi anak terhadap perkembangan zaman, karena kemajuan teknolohi sungguh bermanfaat bagi perkembangan mereka. Mereka bisa berkreasi lebih luas melalui media sosial, memperoleh informasi bermanfaat dari YouTube, dan bekerja sama dan belajar bersama melalui akun media sosial.

Walaupun tidak bisa dihindari bahwa, pada kenyataannya, anak zaman sekarang sering kali kena julid karena tidak mau mempermainkan permainan tradisional, apalagi mengenalnya. Eitssss, tunggu dulu, memangnya benar demikian? Atau jangan-jangan karena orang-orang di sekitar, termasuk orang tua yang sudah engan memperkenalkan permainan-permainan tradisional, kemudian memilih memberikan hape agar tidak repot dalam mengasuh anak?

Semua kritikan yang kita berikan kepada anak zaman sekarang tentu tidak semua dapat dibenarkan. Anak zaman sekarang hidup pada jaman yang jauh berbeda dengan kita, era zaman dulu (zadul). Oleh karena itu, kita tidak boleh selalu mengkambinghitamkan anak-anak yang menikmati zaman berbeda. Kita hanya perlu membimbing mereka secara baik dan benar, penuh bijak!

 “Seperti yang orang bilang setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Namun walaupun demikian, satu yang harus diingat selalu ada pesan dan kesan yang tersembunyi di balik masa yang sudah dilewati. Seperti Mantan contonya. Wkwkwkwkw 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.