Pesta Sekolah dan Cikal Bakal Opreter di Timur Manggarai

292 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Saya mulai menulis artikel receh ini pukul 13 lebih 35 menit, sesaat setelah bangun tidur. Kesiangan? Tentu saja. Semalam ada pesta sekolah di kampung tetangga dan kebetulan saya dipercaya menjadi opreter. Mete sampai pukul 4:55 membuat rasa kantuk seolah memaksa saya untuk kemudian ‘tidur sampai bangun lagi’. Lelah memang, tapi karena semalaman penuh bertugas, saya penasaran bagaimana cikal bakal lahirnya opreter pesta sekolah di Elar. Berbekal niat untuk mengulik profesi semalam, ditambah lagi rasa malu karena sudah sekian bulan tidak menulis di media (keren) ini, saya mulai corat coret di hape sambil bergegas mencari refrensi.

Kalau Tuang pernah berkunjung ke Manggarai dalam rentang waktu bulan Juli hingga September, pastinya tidak asing lagi dengan pemandangan atap kemah dari terpal beraneka warna (yang biasanya terdapat) di depan rumah warga. Bulan tersebut memang sudah jadi musim pesta sekolah di Manggarai, termasuk di Elar. Pesta sekolah merupakan acara perutusan atau semacam bentuk dukungan dari keluarga dan warga sekampung untuk anak yang hendak melanjutkan atau menyelesaikan studinya di perguruan tinggi (berlaku juga untuk SMP/SMA pada tahun 70-80an) dalam bentuk doa dan atau sejumlah uang (biasanya doa dan uang, atau uang saja, tidak pernah doa saja, mbore Hihihi). Di Manggarai bagian timur, rangkaian acara pesta sekolah dibagi atas 3 tahapan yaitu doa bersama, lalu pengumpulan dana dari keluarga dan warga sekitar, kemudian dilanjutkan dengan acara bebas bagi muda mudi untuk bernyanyi dan berdansa. Bagi anak muda palsu seperti saya, saat yang paling ditunggu adalah acara bebas, dimana peran sang opreter sangat dibutuhkan.

Menurut penuturan Ema Adus, kakek saya, opreter tidak serta merta lahir bersamaan dengan acara bebas dan pesta sekolah. Pesta sekolah sudah ada sejak puluhan tahun lalu, begitu juga acara bebas. Muda mudi Manggarai sudah berjoget gale galesejak jaman Hamente (setara kecamatan di jaman Kraeng), yang jelas puluhan tahun sebelum musik Clumstyle dan Gomez LX bahkan Vengaboys yang tersohor itu diputar di kemah pesta. Jauh sebelum opreter sangat dibutuhkan saat acara bebas, di Elar sudah ada Gembira Nada sebuah grup musik bentukan Pater Degraf, misionaris SVD yang berasal dari Eropa. Degraf bersama beberapa tukang bangunan dari Maumere (yang dibawa sang misionaris untuk membangun gereja) tampil live pada pesta pesta sekolah sejak pertengahan tahun 70an. Pada tahun tahun awal ini acara bebas masih sangat bebas, belum dipungut biaya ketika mau berdansa. Gembira Nada sendiri ngeband dengan alat musik seadanya saja seperti gambus, ukulele, juk, strong bass, suling, biola, dan gendang yang dirakit sendiri oleh para personil (maklum para personil yang notabene adalah tukang bangunan ini pandai dalam pelbagai aspek kehidupan). Waktu itu belum ada listrik dan semua jenis pengeras suara, besar kecilnya volume alat musik tergantung pada sekeras dan sekancang apa mereka memainkannya, pokoknya semakin mabuk, semakin keras. Pun untuk berdansa hanya diterangi sinar bulan dan api unggun yang dibakar di pinggiran kemah. Meski demikian mereka sangat antusias dan profesional dalam memainkan perannya, tidak masalah kalau jari sampai melepuh atau saling sikut dan jatuh saat berdansa, selama tuak bakok masih tersedia, bersama sama dengan nana dan enu, Gembira Nada siap cungkil sang surya.

Akhir tahun 80an acara bebas sedikit mengalami perubahan, mulai ada pembagian kelompok (biasanya dibagi per lingkungan atau per dusun) yang mana setiap kelompok akan dipanggil bergantian untuk berjoget dan mesti membayar setiap lagu yang dimainkan. Om Theo, anak muda jaman itu menjelaskan kalau pada tahun tahun ini tape deck dengan listrik searah (DC) dan loudspeaker merk cannon sudah sampai di Elar. Profesi opreterpun lahir sekaligus menggeser posisi penting Gembira Nada dalam sejarah acara bebas. Sejak saat itu peran opreter mulai nampak, sangat penting bahkan nyaris tak tergantikan. Tidak semua orang di dalam kemah mampu mengemban tugas penting ini. Seorang opreter harus cermat membaca situasi pesta, putar pita kaset untuk menyeleksi permintaan lagu, mengerti cara sambung kabel speaker dan tape, paham bagaimana cara membungkus baterai ABC dalam gulungan kertas koran untuk menjadi daya utama tape deck, dan yang terpenting mampu begadang sampai pesta selesai. Opreter juga merangkap sebagai petugas penerangan, oleh karena itu ia harus bisa pompa dan spuer lampu gas. Sungguh tugas yang berat. Kebiasaan ini bertahan hingga era dimana lagu Boombastic milik Shaggy si mister lover lover diputar menggunakan music player three (mp3) dan daya baterai ABC dalam gulungan koran diganti tenaga akumulator (accu /aki) sekitar tahun 2005. Pesta sekolah dan tata cara acara bebas kemudian terus berkembang sampai sekarang, jaman yang serba mudah ini dengan pengeras suara yang semakin canggih dan penerangan yang memadai walau hanya genset pinjaman dari kantor camat. Meski demikian, peran opreter tetap tak tergantikan. Mereka rela bermotor ke Ruteng demi mendownload lagu Rombongan Pesta milik Kaka Lipooz dkk dari yutup. Jangan heran, jaman memang semakin mudah tapi jaringan di Elar masih susah. Hingga kini, acara bebas ajang unjuk gigi para opreter itu masih (dan akan terus) menjadi bagian paling dinanti muda mudi di Elar bahkan seantero Manggarai. Tak sedikit yang menemukan cinta dan patah hati di dalam kemah pesta ketika bung opreter memainkan perannya, begitupun pemandangan kurang sedap namun berkesan yang ditampilkan orang mabuk. Pertunjukan tinju antar geng kampung juga mustahil terjadi tanpa peran penting opreter. Pokoknya opreter ni memang paling mantap su. Meski jarang diperhitungkan, jasamu akan selalu kami kenang.

Penulis: Krisan Roman|Lawa Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *