Raih Sederet Penghargaan di AMI Awards, Bukti Musisi Flobamora juga Bisa

 528 total views,  1 views today


Edisi Redaksi |Penulis: Krisan Roman|

Di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa semester banyak yang hari-hari dihabiskan dengan menunggu, kejar-kejaran lalu bertemu dan diomeli dosen, saya menyempatkan diri untuk rehat sejenak, mencari hiburan. Biar tidak gila toh gaiss. Berhubung sekarang tanggal tua, apalagi saya kan hanya perantau biasa yang melarat tiap akhir bulan, jadi satu-satunya hiburan yang baik dari sisi kesehatan dompet dan keselamatan isi kantong dengan ekonomi yang lemah lembut ini adalah menonton televisi. Itu juga nonton di kos-kosan teman yang ekonominya lebih makmur, sekalian numpang makan. Anak kos pasti paham betul trik ini; bertamu sekitar jam delapan malam supaya bisa dapat kopi sekalian makan malam dan rokok gratis, Puji Tuhan kalau sekalian dapat pinjaman uang. Kalau sudah dapat semuanya, cukup perbaiki derajat harga diri dengan menolak ajakan menginap, gampang sekali, Gaess!

Nah, kebetulan malam kemarin, (ketika saya bertamu dengan cara yang sangat-sangat memalukan diri sendiri dan keluarga besar itu) ada acara Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta (inisialnya RCTI) pokoknya stasiun TV yang dulu sempat oke itu. Dulu eh! Sekarang biasa saja. Lebih oke TV ikan terbang, yang ada serial Azab itu.

Menurut Wikipedia, AMI Awards adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Anugerah Musik Indonesia (YAMI) dengan gagasan dari Asosiasi Industri Rekaman (ASIRI), Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), serta Karya Cipta Indonesia (KCI). Konsep penghargaan ini mengacu pada National Academy of Recording Arts and Sciences (NARAS), komite yang menyelenggarakan Grammy Awards di Amerika Serikat. Mengerti? Agak berat iw? Sudah saya duga, Ferguso! Hahaha. Jadi intinya begini, AMI Awards itu penghargaan di bidang musik yang tertinggi atau ajang penghargan musik kelas satu di Indonesia sejauh ini. Semua makhluk hidup yang berkecimpung di dunia musik mulai dari yang ada di Sabang sampai yang di perbatasan dengan Timor Leste, baik produser, musisi, sampai pencipta lagu pasti punya mimpi membawa pulang piala bergengsi dari ajang ini, bahkan masuk nominasinya saja sudah sujud syukur kepada Bapa di Sorga. Pokoknya ajang yang sangat bergengsi lah. Begitu.

AMI Awards semalam adalah yang ke 22 kalinya sejak pertama kali diadakan. Menarik untuk dibahas karena punya sesuatu yang istimewa di mata saya mungkin juga anda sekalian sebagai orang Nusa Tenggara Timur. Bagaimana tidak, semalam beberapa talenta luar biasa dari NTT berhasil membawa pulang piala. Saya pikir itu pertanda bahwa musik Nusa Tenggara Timur benar-benar “naik kelas” atau semakin baik. Piala AMI Awards Men, bukan kaleng-kaleng. Kita sekalian perlu berbangga dan mengapresiasi pencapaian tersebut. Ya kita, saya yakin anda yang baca ini adalah rakat, sama seperti saya. Tidak usah paksa Elu Gue Elu Gue, malu dengan rambut. Orang-orang NTT yang hebat itu adalah Faisal Resi pemenang nominasi pencipta lagu pop terbaik, Andmesh Kamaleng pemenang nominasi artis solo pop pria terbaik, Illo Djeer dan David Kristomi (pada grup Kerontjong Toegoe) pemenang nominasi karya produksi keroncong/ keroncong kontemporer/stambul/ langgam terbaik dan Near featuring Dian Sorowea pemenang nominasi karya produksi lagu berbahasa daerah terbaik. Luar biasa, bukan?

Akhir-akhir ini NTT memang suka bikin geger scene musik Indonesia. Sejak kemunculan Mario G. Klau yang sekaligus jadi kampiun di ajang The Voice Indonesia beberapa tahun lalu, bibit-bibit dari NTT seolah tidak tahu habis. Sebut saja Marion Jola, Andmesh Kamaleng, Azizah KDI, Aldo Longa, Philiph Lagabelo sampai Betrand Peto dan Near yang pada tahun 2018 berhasil meraih penghargaan konten lokal paling dicari di Google; itu belum termasuk sederet musisi senior NTT yang sudah lama terjun ke industri musik Indonesia. Mereka membuktikan kalau provinsi kita tercinta yang tertinggal ini juga mampu melahirkan manusia-manusia berprestasi.

Bukan hanya itu, mereka juga secara tidak langsung (seharusnya) merubah mindset para orang tua di NTT yang beranggapan kalau menjadi musisi itu tidak bisa menghidupkan seseorang, atau seseorang tidak bisa hidup dari musik, atau juga jadi seniman itu tidak bisa menjamin kehidupan seseorang. Dengan kerja keras dan ketekunan, seseorang bisa sukses, dari hal apapun itu. Tidak harus jadi ASN. Dari pencapaian mereka, kita juga seharusnya sadar bawasannya NTT punya potensi yang patut diperhitungkan dalam bidang ini. Sudah banyak sekalu contoh-contohnya. Bahkan di sekitar rumah anda pasti ada seseorang yang anda pikir punya potensi serupa. Sekarang tinggal bagaimana kita memaksimalkannya. Para orang tua sudah tidak seharusnya melarang-larang anaknya menjadi musisi atau seniman, begitupun anak muda yang merasa punya potensi, tekun dan kerja keras adalah kunci. Kalau memang tertarik jadi seniman, ya harus total. Toh di status-status facebook kita sering baca “bawasannya tidak ada hasil yang mengkhianati usaha” walaupun kadang kalimat itu di bolak-balik. Tidak apa-apa. Saya yakin maksudnya sama. Hahaha

Setelah menonton AMI Awards semalam, saya jadi kepikiran kalau di tahun-tahun yang akan datang, pasti akan semakin banyak orang NTT yang bisa membawa pulang piala bergengsi tersebut. Bahkan suatu saat nanti, AMI Awards akan didominasi seniman NTT. Semoga saja. Semua tergantung pada usaha, kerja keras dan rasa percaya kita semua. Oh ya, semalam Agnez Mo tidak dapat piala. Sayang sekali, padahal dia orang Indonesia yang paling saya idolakan. Hmmmm….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.