Rindu dari Kolong Langit Mombok

829 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Kehilangan bukan hal yang paling kubenci. Sungguh, bahkan tidak sedikitpun ku menyesalinya. Tapi ketidakmampuanku untuk merelakanmu, kebodohanku yang terus menanti kepulanganmu dan harapanku akan berjumpa lagi suatu hari nanti kupikir menjadi hal paling konyol yang pernah terbersit di pikiran. Kau tak mungkin kembali sayang. Kutahu itu. Tapi aku juga tidak bisa begitu saja melepasmu, tak semudah itu bagiku untuk mencari dan benar – benar menerima seseorang yang akan menggantikan posisimu. Maafkan hati yang penuh dengan keserakahan ini.

Malam kembali datang berteman udara dingin yang menikam pori pori, hujan masih keras kepala tak mau reda. Sedangkan kopiku tak mau lama – lama dalam cangkir menemani ampas. Seperti biasa, di atas bale bale bambu di dapur, sambil menikmati malam aku menyanyikan penggalan lirik Doing Mose, lagu yang kau ajarkan padaku waktu itu. Tak ada tawamu kali ini, hanya aku, cangkir dan gitar usang warisan kakek. “Belum tidur, Nana? Sudah hampir sebulan sejak Mama pergi kau nyaris tidak pernah tidur, tanya bapak yang berdiri di pintu dapur. “Pado ite pah” jawabku singkat, “Hmm, ingat besok ke sawah, temani Om Fael angkat pematang soalnya bapak harus ke pastoran, ada pertemuan gurugama” balas bapak sambil memiringkan bibirnya, lalu pergi meninggalkanku. Kini tinggal aku sendiri di dapur, kembali kupetik gitarku, kuulangi lagu tadi lagi dan lagi, kadang liriknya dengan sengaja salah kuucap dengan harapan kau akan datang memperbaikinya sekaligus menawar rasa rinduku.

Waktu menunjukkan pukul 00:09 WITA, rasa ngantuk mulai menghampiriku. Kusandarkan gitarku di samping lebeng woja,  tempat biasa kumenyimpannya. Lalu aku bergegas meninggalkan dapur. Aku tak kuasa membendung air mata ketika sampai di ruang tamu, fotomu yang tergantung di dalam pigura mengingatkanku pada kecupanmu di hari sambut baruku. Iya, momen yang terekam jelas dalam foto itu. Kuraih bingkai yang mengurung gambarmu, sembari menahan suara tangisan lalu masuk ke dalam kamar. Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk menatap fotomu malam itu, kukenang peristiwa dalam foto itu sambil membatin, “Lena, kenapa begitu tega kautinggalkanku? Apa kabar senyuman manis di bibirmu? Akankah cerita kita terulang kembali? Adakah rindumu sama sepertiku, Lena?”. Malam semakin larut, rintik rintik hujan dan semilir angin yang berhembus seakan dengan kejamnya memporak porandakan hati yang sedang gundah ini. Setiap malam selalu seperti ini, kenangan bersamamu terus bertengger di kepala, namamu selalu kusertakan dalam doa kepada Tuhan, air mataku terus mengalir mungkin sampai menjadi genangan. Aku memang pengecut, manusia lemah yang tak bisa menyembunyikan angan dan perasaanku sendiri, bahkan ketika menyiasatinya dengan menulis hal hal menyenangkan, aku tidak berhasil. Saat ini aku benar benar berduka, hatiku tak mampu menganggap semuanya baik baik saja, sekarang hati ini dipenuhi lara.

“Nana, oe bangun, bangun” teriak bapak membangunkanku. “Hmmm, sabar le, 15 menit e” jawabku, “Haiss, sudah jam 9 ni, kau harus berangkat ke Galer, temani Om Fael angkat pematang, libur tu ada guna sedikit” kali ini dengan nada agak keras. Aku langsung bangun lalu bergegas ke kamar mandi, cuci muka, lalu berangkat ke sawah, sesuai perintah bapak. Sesampaiku di sawah, kudapati om Fael yang sedang semangat bekerja, “Hu om Rafa, rebao ga ite?” sapaku, “Een tuang, rebao gak” jawab om Fael sambil tersenyum ke arahku “Ole, soo tara mai anak kuliahn o, ta nia mekas gurugama?” sambungnya, “Bapak ada rapat di pastoran, Om” jawabku lagi. Seharian penuh aku berada di sawah, hanya itu percakapan antara aku dan Om Fael, selebihnya aku menyendiri di pondok, mengenangmu dan berharap agar tidak ketahuan bapak. Sambil menatap hamparan sawah Galer, kukenang senyummu di hari terakhir panen tahun lalu, kau tersenyum karena hasil padi kita memuaskan, kukenang engkau yang waktu itu melarangku untuk berenang di Tiwu Galer karena sudah ada yang mati tenggelam di sana, kukenang semua kisah kita di tempat itu. Lena, bisakah kau datang sekali lagi? Bisakah kau kembali dan memelukku agar senang yang kuanggap hilang itu kembali datang?

Tuang, toko see ite?” suara om Fael serentak mengakhiri lamunanku “Hehe, ai om bikin kaget saja, toe om, we’e tong aku mbore” jawabku, “kalau begitu berangkat sudah” jawab om Fael lagi. Ternyata hari sudah sore, sudah waktunya pulang ke rumah, wah bukan main seharian berada di sawah, hal yang kulakukan hanya memikirkanmu. Menjalani hari hari tanpamu benar benar tak mudah, aku telah terbiasa bersamamu melakukan apa saja, bertanya apa saja bahkan pergi kemana saja. Begitu sulit bagiku untuk menerima bahwa cerita kita telah berakhir.

Sampai di rumah, setelah mandi dan ganti pakaian, aku mengunci diriku di dalam kamar beberapa kali kudengar suara bapak memanggilku untuk makan malam tapi tak kuhiraukan, aku sedang asyik dengan kedukaanku mengenangmu, aku larut dalam kisah yang kita rajut bersama.  Sungguh, semua hari hariku tak pernah luput dari kenangan akan engkau. Beberapa kali kucoba yakinkan diri bahwa duka dan patah hati hari ini adalah jembatan indah untuk sampai pada kebahagiaan yang baru suatu saat nanti, aku coba untuk yakin bahwa setelah semua ini berlalu akan ada cinta baru yang datang mengisi ruang kosong yang kau tinggalkan namun semuanya sia sia, telingaku selalu meminta dengungan suara merdumu, matakupun ingin agar sesegera mungkin bisa kembali beradu dengan sepasang bola matamu. Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku mengharapkan kehadiran seseorang yang dengan teganya pergi tanpa pamit dari hidupku? Ini benar benar konyol, tak masuk akal. Tapi memang perihal rasa dan perasaan kadang hanya perlu masuk ke hati.

Andai kau tahu kini aku benar benar tak berdaya. Mata yang dulu bahagia menatap, kini hanya bisa meratap. Raga yang sering kau dekap kini hanya bisa berharap kau segera pulang. Sekarang hanya tinggal potret dan sisa pesanmu yang menemaniku, selalu kubaca dan kumaknai setiap kalimatnya. Aku rindu, benar-benar rindu. Bagiku tak ada anugerah Tuhan yang lebih indah darimu Lena. Kini aku hanya bisa mengikhlaskanmu pada semesta. Biar semesta yang akan menjaga dan memelukmu erat agar tak akan kau rasakan bagaimana sakitnya patah hati. Biar semesta yang menggantikan aku yang tidak sempurna ini. Biar semesta yang akan menjadi atau mencari cinta sejati untukmu. Terima kasih sudah menghadirkanku lalu pergi, terima kasih atas semua hal yang telah kau ajarkan kepadaku termasuk kehilangan dan rindu, terima kasih atas semua kasih dan sayang, semoga kau bahagia di surga, Ibuku tercinta.

Penulis: Krisan Roman|Lawa Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *