Rindu Ramadhan dan Toleransi yang Menyejukkan di Elar

 740 total views,  1 views today


Krisan Roman|Redaksi

Saya selalu bercerita tentang Elar. Jelas, karena saya adalah anak manusia yang lahir dan dibesarkan di sana. Kalau saya dari Mesopotania, tentu saya menulis hal yang lain. Lagian, slogan media ini “Kami Menulis Apa yang Bisa Kami Tulis” kan? Penulis kelas tempurung kelapa macam saya hanya bisa menulis hal-hal remeh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari; hal yang dekat dengan saya, ya Elar. Mau apa lagi? Pantai Gading? Itu jauh dong, Boss. Wkwkwk.

Perkembangan politik daerah, kebijakan pemerintah sampai gonjang-ganjing keputusan pemimpin daerah juga sebenarnya dekat dengan saya. Tapi aeh ta, biar teman-teman saya yang pintar-pintar itu saja yang mengurusi itu eh. Saya cukup atur lahan yang receh ini sa.

Beberapa hari belakangan saya rindu Elar mati punya. Mungkin ini ungkapan klise yang sudah biasa dilontarkan perantau. Basi! Tapi suer, demi apapun saya rindu sekali. Kampung yang gelap dan susah sinyal itu terlalu banyak menyimpan kenangan bagi saya.

Di zaman yang sesak dengan manusia senggol bacok seperti sekarang, Elar boleh dijadikan contoh kerukunan antar umat beragama. Di sana, mayoritas penduduknya boleh saja memeluk agama Katolik, tapi sikap mereka terhadap teman-teman muslim yang notabene minoritas, sama dengan sikap kepada sesama Katolik. Begitu pun sebaliknya. Teman-teman muslim menganggap orang Katolik sebagai saudara. Tidak ada perlakuan yang beda dengan siapa saja.

Buntang misalnya, salah satu kampung kecil di Elar ini memikiki dua rumah ibadah yang berdekatan; masjid dan kapel. Saking dekatnya, jarak antara masjid dengan kapel di Buntang tidak sampai lima puluh meter. Halaman barat masjid berbatasan langsung dengan halaman timur kapel. Meski demikian, tidak pernah ada masalah antara kedua pemeluk agama di masing-masing rumah ibadah. Semua baik-baik saja dan saling mencintai sebagai saudara. Indah bukan? Semoga tidak ada yang menjawab “bukan”. Amin.

Bulan Ramadhan seperti sekarang, Elar benar-benar sejuk. —Men, ko tau sejuk yang saya maksud bukan berarti ko pu kulit tidak makin hitam kalau berjemur di bawah terik matahari e. Ini lebih ke suasananya. Jadi ko pu batin yang rasa. Batin e Men, bukan kulit!– Teman-teman muslim yang sedang berpuasa sering diberi semangat oleh teman beragama lain. Itu hal lumrah di Elar. Walau tidak semua, tapi sebagian besar teman yang non muslim rela tidak makan selama di hadapannya ada saudara muslim yang sedang berpuasa. Teman muslim yang merasa mendapat dukungan seolah tidak enak hati kalau mengecewakan dengan batal puasa. Walaupun terbilang remeh, semangat macam itu cukup membantu mereka dalam menjalankan ibadah keagamaannya.

Katolik mendominasi di Elar. Namun bukan berarti muslim adalah agama baru. Muslim di Elar sudah ada sejak lama. Sudah ada sejak tiga atau empat generasi sebelum saya. Jadi tak heran jika Ramadhan tiba, saudara beragama Katolik sering menemani teman-teman muslim ngabuburit. Ini sudah macam tradisi di sana.

Di halaman rumah, menunggu waktu buka puasa dengan bercerita, atau nyanyi sambil main gitar. Kadang juga sambil dengar lagunya Mekas Sius Magung atau Raeghembang Grup, tergantung mood sa. Teman-teman muslim juga sering mengajak saudaranya yang beragama Katolik untuk buka puasa bersama. Ya, makan kolak pisang, kolak ubi, atau pisang dan ubi rebus, mungkin bukan makanan mewah, hanya makanan kampung yang betul-betul kampungan. Tapi bukan itu letak keistimewahannya. Nilai mulianya adalah mereka bisa hidup di lingkungan yang sama, dengan agama berbeda, namun tetap saling mencintai dan punya rasa persaudaraan yang tinggi.

Saya masih ingat, ketika kecil dulu –bahkan sampai SMA– saya sering diajak Zulkifli untuk ikut berbuka di rumahnya. Lebih tepatnya mengajak saya menikmati santapan buka puasa bersama keluarganya. Tidak penting untuk mengetahui siapa Zulkifli. Dia tir terlalu tampan ju, paspas sa.

Intinya dia salah satu teman saya yang beragama Islam. Hampir tiap sore di bulan Ramadhan waktu kecil dulu, Zulkifli mengajak saya datang ke rumahnya. Kalau saya tidak datang, orang tuanya menyuruh Zulkifli untuk mencari dan menjemput saya.

Waktu itu saya merasa ajakan Zulkifli dan orang tuanya hanya sekadar ajakan biasa, tidak lebih dari tetangga yang baik. Saya hanya menghargai niat mereka mengajak saya untuk makan makanan yang enak. Sekarang saya sadar, ternyata di balik ajakan mereka ada nilai toleransi yang begitu indah. Mereka mengajak dari hati. Tulus sebagai saudara yang saling mengasihi walau dalam perbedaan. Mereka secara tidak langsung telah mengajarkan saya bahwa perbedaan bukanlah jurang pemisah untuk kita berbuat baik. Semua manusia adalah sama di mata Tuhan. Tidak peduli apa agamamu, berbuat baiklah kepada semua orang.

Suatu hari ketika kecil dulu, masih dengan Zulkifli yang tidak seberapa tampan itu, saya diajaknya untuk ikut berbuka bersama keluarganya. Kebetulan saat itu bulan Ramadhan bertepatan dengan bulan Rosario orang Katolik. Ko tau to, waktu berbuka puasa ni mepet-mepet dengan waktu untuk berdoa Rosario. Waktu berdoa Rosario, sama dengan waktu tarawih orang Muslim. Keduanya dimulai pada jam yang sama.

Ketika selesai menikmati hidangan buka puasa di rumah Zulkifli, saya harus pulang karena ada doa Rosario di rumah. Hari sudah malam. Rumah saya dan Zulkifli jaraknya lumayan jauh. Saya tidak berani jalan sendiri dong, sa mes kecil ju. Zulkifli dan keluarganya juga saat itu harus berangkat tarawih di Masjid. Saya bingung harus bagaimana.

Saya sempat berniat untuk ikut ke Masjid saja bersama mereka. Mengingat Masjid yang hanya ada di desa tetangga, Bapak Zulkifli melarang saya ikut, apalagi saya belum meminta izin pada kedua orang tua. Bapak Zulkifli juga mengizinkan Zulkifli untuk mengantar saya ke rumah dan tidak ikut tarawih walaupun beliau tahu kalau di rumah saya ada doa Rosario. Tidak ada kecurigaan sama sekali. Kita semua bersaudara. Kita saling percaya.

Walau dalam keterbelakangan dan ketertinggalan, Elar boleh dijadikan contoh kerukunan kehidupan antar umat. Di bulan Ramadhan ini, bukan hanya menyemangati teman-teman berpuasa, orang Katolik di Elar juga ikut pawai keliling kampung saat malam Takbiran. Bahkan sesekali ikut takbir juga.

Mereka yang muslim juga mengamini hal itu dengan penuh sukacita. Saat hari lebaran tiba, tidak jarang kita menemui beberapa pemuda Katolik, bermotor mengantar saudara muslimnya ke masjid untuk ikut Shalat. Ketika selesai Shalat, orang-orang Katolik di Elar berbondong-bondong, ke rumah para saudara muslim untuk sekadar menyampaikan salam di hari raya itu.

Saudara muslim juga menerima mereka dengan gembira dan penuh rasa terima kasih. Mereka berkumpul, bergembira bersama sebagai keluarga. Nilai keharmonisan antar umat beragama yang tinggi, yang bahkan sudah jarang kita temui di kehidupan dewasa ini. Kebiasaan ini juga dilakukan teman-teman muslim saat hari raya Natal atau Paskah. Di Elar, hal ini seperti aturan yang tidak tertulis, tidak melalui perundingan, namun selalu ada tiap tahunnya. Mesra sekali.

Kenangan-kenangan itu bikin saya rindu Elar. Sudah beberapa Ramadhan di beberapa tahun belakangan saya tidak berada di sana. Ada keinginan yang meluap-luap untuk kembali kampung ini. Saya rindu keakraban dan kebersamaan yang semoga masih terjaga sampai sekarang.

Rindu ngabuburit dan buka puasa bersama saudara muslim. Rindu tulusnya senyuman Zulkifli dan keluarganya ketika mengajak untuk datang ke rumahnya. Rindu keliling kampung bersama teman-teman muslim di malam Takbiran. Rindu sesekali ikut teriak takbir bersama mereka. Rindu lebaran dan cinta antar umat beragama yang menyejukkan. Saya rindu keharmonisan itu, rindu semuanya, rindu sekali. Aih, leng benot nai tu, mbore walekn e!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.