Romantisnya Surat Cinta Kawula Muda Era 90-an

Sumber Foto: zasachi.blogspot.com

477 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Ilmu pengetahuan yang terus berkembang pesat membidani lahirnya beragam inovasi hampir pada setiap lini kehidupan manusia, salah satunya adalah teknologi informasi. Saat ini, saya dan tentu Anda bisa rasakan segala kemewahan, buah dari kemajuan itu. Sampai di sini, saya tidak berharap ada yang jidatnya mengkerut, karena awal tulisan ini agak kaku dan jauh dari kekhasan Tabeite.

Baik sudah, mungkin ada yang tanya, kenapa saya gegara libatkan teknologi informasi dalam tulisan kali ini? Alasannya simple, “sesimple cintaku padamu, Ani”, kata bang Roma. Jadi begini, saat ini rasanya media komunikasi itu terlalu banyak. Semuanya mewah. Urusan percintaan pun bisa jadi secepat kilat dan langsung jadi.

Engkau jatuh cinta dengan seseorang? Engkau tinggal minta dia pu nomor hape, alamat medsos, alamat RT/RW, engkau pedekate, engkau beruntung pasti diterima, engkau ditolak maka dukun bertindak, eh ini tidak boleh. Tinggal cari yang lain lalu ikuti tahapan-tahapannya, sederhana bukan?

Sejenak kita kembali ke pelukan mantan belakang, menengok perjuangan kawula muda zaman old. Maaf, saya batasi era 90-an sesuai usia saya dan saya masih muda, kurang lebih dari 20 tahun (banyak lebihnya). Perjuangan cinta kawula muda era 90-an terbilang susah, meski tidak susah-susah amat seperti gulingkan Pak Tarno, eh Pak Harto dari jabatannya. Pada masa itu, untuk urusan percintaan, surat bisa jadi satu-satunya alat komunikasi yang berperan penting menyampaikan isi hati pada si dia.

Tapi begini, karena surat itu hanya media, maka ada satu makhluk yang berperan penting dan tak bisa dilupakan pada masa itu. Namanya “jembatan”. Sesuai namanya, makhluk Tuhan yang paling seksi mulia hatinya ini menjadi perantara semacam kurir surat-menyurat dari kedua insan yang sedang menikmati indahnya dunia percintaan. Tapi, tak jarang ada pula jembatan yang berlaku curang. Alih-alih jadi perantara, eh malah sasaran tembak alias si dia diembat olehnya. Tentu ini mirip jembatan hasil kerja kontraktor yang tak bertanggung jawab. Tenggelamkan!

Surat Cinta Kawula Muda Era 90-an

Kita kembali ke zaman old dan mungkin to the point ke soal surat. Surat cinta ya, bukan surat-surat motor apalagi surat tanah. Hadeh. Surat cinta pada masa itu dihasilkan dengan proses panjang. Pilihan diksi dalam surat pun sangat selektif. Sebisa mungkin si dia yang membaca langsung klepek-klepek sampai terguling-guling, lalu jatuh dalam romantisnya isi surat, ah lebay lu tong.

Prinsipnya begini, sebisa mungkin potensi semantik dari kata yang ditulis dalam surat itu menyeruak dan jadilah kalimat-kalimat yang indah. Supaya kalian tidak pusing tujuh keliling, berikut saya akan menulis kembali surat cinta yang pernah saya tulis yang tentunya masih segar dalam ingatan saya.

Di awal surat ada kalimat begini; “ bola basket masuk keranjang, jangan kaget suratku datang”, sedap kan Bro?

Lanjutannya begini, “jumpakan yang tersayang (yts) nona Bunga (bukan nama sebenarnya) di ranjang penantian”, atau “jumpakan yang tercinta nona Bunga di ajang balap otak”.

Alamat unik yang tertera dalam tujuan surat ini bukan tanpa alasan, Coy. “Ranjang penantian” pada surat di atas merupakan hasil imajinasi bahwa ketika telah sampai pada si dia, maka si dia membaca surat itu sambil tiduran lalu melahap isi suratnya. Sementara “arena balap otak” ini, saya dapat dari seorang teman SMP. Menurutnya, kalau pacar lagi sekolah sama halnya dia berada di arena balapan untuk meraih masa depan dan prestasi. Hmmm…, ini pacaran apa balapan motor ya?

Lanjut ke bagian pembuka surat, bunyinya kurang lebih begini.”Sebelum pena ini ku goyangkan di atas kertas putih tak berharga ini, ijinkan aku menanyakan kabarmu. Apa kabar sayang? Aku merindukanmu. Semoga kamu punya perasaan yang sama”.

Salam pembuka ini tentu beda dengan pesan instan kalian di zaman ini, iya kan? Dari salam pembuka lanjut ke isi surat? Apa isi suratnya? Sampai di sini bukan urusan saya. Tanyakan ke kawula muda zaman old yang lain. Yang pasti isinya bukan urusan saya bro dan sis sekalian.

Penutup Surat Selalu dengan Salam

Pada bagian penutup surat, ada tradisi unik , bisa jadi warisan dari generasi sebelumnya yang jauh lebih “old”. Penutup surat cinta pada zaman itu selalu dengan salam yang dikemas dengan singkatan atau akronim yang unik dan laku pada zamannya. Akronim itu pula tergantung dari isi hati si pengirim surat dan penerima surat.  

Penutup suratnya kurang lebih begini. “Sayang, sebelum kamu membalas surat ini, terimalah salamku terlebih dahulu. Bentuk salam pada penutup surat misalnya, SISIR akronim dari Simpan Surat Ingat Rahasia, KAMIS akronim dari Kalau Makan Ingat Saya, KAMBOJA akronim dari Kalau Mau Boleh Jadi, MICIS akronim dari Minta Cium Sedikit, JALUS akronim dari Jangan Lupa Saya, dan seterusnya…dan seterusnya.

Ada satu akronim yang biasanya berlaku bagi mereka yang hubungannya sudah jauh berjalan. Salam ARDATH namanya. Salam ini diambil dari salah satu merk rokok yang terkenal pada zamannya. Salam ini biasanya dari perempuan untuk laki-laki. Jika dipanjangkan ARDATH adalah singkatan dari “Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil”. Upss…..

Di bagian paling bawah surat tertulis begini; “empat kali empat sama dengan enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas”.

Salam dan doaku…

Demikianlah surat cinta kawula muda era 90-an. Biasanya kertas yang digunakan terlebih dahulu disemprot dengan parfum Pucelle, entah apa maksud dan tujuannya. Smile…  

Penulis: Elvis Y. Ontas|Meka Tabeite|

1 thought on “Romantisnya Surat Cinta Kawula Muda Era 90-an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *