Ruteng Tidak Melulu Soal Kompiang; Ada Pade Doang Warung Legend di Tengah Kota

Mau tahu warung Pade Doang yang asli, silahkan kunjung sendiri. (Gambar: Pixabay.com)

 556 total views,  2 views today


Popind Davianus

Berbicara tentang Ruteng seharusnya jangan melulu soal hujan, rindu dan kompiang, toh masih ada Pade Doang warung legend yang belum juga gulung tikar itu. Wkwkwkw

Sewaktu saya masih kecil Ruteng menjadi tempat idaman untuk dikunjungi. Sebagai pusat kota Kabupaten Manggarai tentu Ruteng lebih maju dan lebih ramai dari tempat lainnya. Datang ke Ruteng menyaksikan banyak kendaraan, membeli mainan dan merasakan masakan di Pade Doang adalah kebahagian yang susah digeser oleh kebahagian manapun.

Kala itu saya muak sekali. Setiap orang di kampung saya pulang dari Ruteng mereka selalu menyebut Pade Doang. Barulah ketika kelas 3 SD, saya masuk Pade Doang dan untuk pertama kalinya saya mencicipi makanan yang disebut bakso. Berjasa sekali warung yang satu ini dalam cerita norak masa lalu saya.

Di Ruteng kala belum seramai sekarang, warung sebetulnya bukan hanya Pade Doang, ada warung lain juga. Ada satu warung pada masa itu yang trik bisnisnya menarik, di mana warung itu memberi makanan gratis pada semua sopir yang membawa penumpang dari kampung makan di sana. Trik ini memang ampuh dan mampu menarik pelanggan tetapi belum mampu mengalahkan nama besar Pade Doang. Kenapa kira-kira?

Menurut pikiran nakal saya, Pade Doang sukses terkenal dari dulu hingga sekarang dikarenakan letaknya yang strategis. Dulu sebelum dipindah, Pade Doang berada tepat di depan penjara lama dan pos polisi, di ruko tengah kota tempat orang berbelanja serta dekat dengan kantor bupati. Orang yang baru saja keluar dari penjara, yang berurusan dengan polisi, yang tengah atau habis berbelanja, yang bekerja di kantor bupati atau menjenguk bupati, kalau lapar pasti ke Pade Doang. Orang lapar cenderung mencari tempat makan paling dekat. Belum lagi Pade Doang ramah saku semua kalangan, masakannya juga lumayan enak. Maka berbondong-bondong orang ke Pade Doang. 

Semakin banyak pelanggan, semakin banyak pula cerita tentang Pade Doang, semakin banyak pula keuntungan yang diraup pemiliknya. Pade Doang memang sudah tidak di tempat lama, sudah lama berpindah lokasi. Tapi Pade Doang sudah memiliki cabang, tidak hanya satu tetapi sudah ada dua. Pade Doang 1 dan Pade Doang 2. Sama-sama di Kota Ruteng. Menunya tentu makin bervariasi, pun rasanya makin lezat.

Belakangan, Pade Doang sudah memiliki segmentasi pasar yang jelas. Dari harga makanannya, Pade Doang tidak lagi ramah saku semua kalangan. Pade Doang sudah menyasar pasar kelas menengah dan ke atas. Di depan Pade Doang, kini lebih banyak pengunjung yang bermobil.

Pade Doang boleh berubah, itu hak prerogatif bosnya. Tetapi dalam pikiran saya, Pade Doang adalah bagian dari memori masa lalu saya. Pun kalau ada rezeki saya akan ke Pade Doang lagi, merasakan bakso yang sekarang apakah masih sama dengan bakso yang saya cicipi pertama kali dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.