Saat Ini Kami Malas Menulis, Akankah Tabeite Bubar?

 397 total views,  1 views today



Erik Jumpar|Redaksi

Sebagai yang tertua, tapi tak terlalu bangka, yang puji Tuhan tak lagi jomlo, saya menulis ini untuk kanal Curhat. Curhat tak melulu soal cinta, pelbagai tema bisa diisi di kolom curhat. Kalian bisa menulis tentang pedekate yang sia-sia, bahkan bisa menulis tentang pendamping hidup yang kuat omong besar namun lemah di kasur. Hadeh, untuk yang kedua ini, plizz abaikan! Pasalnya di jajaran redaktur belum ada yang memiliki kompetensi untuk menjawabnya.


Sebelum saya curhat di sini, saya kerap kali curhat dengan kekasih hati. Kali ini saya enggan melakukan hal yang sama, soalnya ia lagi berjuang keras untuk lolos SKB. Saya menulis catatan ini pun, sebab kanal ini juga jarang diisi.

Mari, kita mulai curhat. Di awal perjalanan melahirkan Tabeite, saya termasuk redaktur yang permisif soal kelangsungan media kami ini. Kerisauan saya bukan semata berkutat dalam urusan membayar tagihan website, namun tentang konsistensi redaktur dalam urusan menulis.


Dalam perjalanan, kerisauan saya pun terbukti. Ada yang rajin menulis, ada yang menulis sekali dalam sebulan, ada yang sekali dalam seminggu. Deretan alasan diajukan ke dalam grup WhatsApp di dapur redaktur. Entah karena kesibukkan pribadi, atau yang paling fatal yaitu lupa diri kalau ia juga termasuk redaktur. Yang ini, saya salah satunya.


Tentu kita semua sadari, mempertahankan konsistensi itu berat. Kalau Dilan mengatakan; rindu itu berat, sejatinya bukan hanya perkara rindu semata. Ada ragam perkara di luar sana yang berat, termasuk menghalalkan kamu yang berada di dapil seberang, eh malah curhat hal lain lagi.

Menulis juga berat lho, yang tak berat-berat amat sih sebenarnya, saat dijalani sebagai suatu proses pembelajaran membesarkan media yang kita bangga-banggakan ini.


Sampai di titik ini, jumlah kata sudah mencapai 278. Syarat utama di kolom curhat minimal 500 kata, boleh kurang tapi jangan kurang-kurang amat. Kita lanjut curhatnya. Saat semua redaktur pelaksana pada malas menulis, saling mengharapkan satu sama lain, akankah media unyu-unyu ini berumur panjang?


Pertanyaan di atas terlalu ekstrem untuk ditanyakan terlalu dini, kelampau prematur dan permisif. Namun untuk kelangsungan sebuah media yang sedang merangkak maju, tak ada salahnya untuk diajukan, minimal dilemparkan sebagai bahan refleksi dari masing-masing redaktur.
Toh, soal jawabannya sudah ada dalam kepala setiap redaktur yang telah berproses bersama selama ini.

Semangat di awal saja tidak cukup sebenarnya, konsisten dalam menulis itu yang paling penting. Di luar sana, ada banyak media yang memilih untuk gulung tikar pagi-pagi. Membentuk sebuah media terlalu mudah, namun tak cukup hanya untuk melambungkan nama, membusungkan dada sembari melontarkan pujian untuk diri sendiri. Sekali lagi, tidak cukup!


Maaf, saya agak emosi, maklum sudah hampir kepala tiga. Kita semua harus menulis, hanya itu kuncinya untuk bertahan, bersaing dengan media-media lain di luar sana yang tumbuh bak jamur di musim hujan.


Jangan lelah untuk menorehkan jejak pena. Barangkali dari menulis, redaktur kita yang masih jomlo akan menemukan tambatan hati. Itok Aman lekas pulih dari patah hati, begitu jua dengan Imm Kartini lekas menemukan pendamping hidupnya. Seperti saya yang tak lagi jomlo gara-gara gadis desa di dapil seberang jatuh hati dengan catatan-catatan saya selama ini, padahal saya tak tampan-tampan amat.


Sebelum ocehan ini berakhir, saya mau bilang; mari kembali bertegur sapa di grup redaktur. Jangan hanya di-read doang. Kan sialan namanya, kalau sinarnya Tabeite lekas redup, tak berumur panjang seperti mimpi kita di awal perjalanan dulu.

Dan sebagai sesepuh di Tabeite, mengingatkan dengan cara membuat tulisan adalah cara yang baik untuk membangkitkan semangat teman-teman yang lain. Dengan secuil harapan, tentunya teman-teman aktif lagi menulis atau mungkin membalas curhatan saya ini pada tulisan di hari berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.