Salah Kaprah Memahami “New Normal”

 303 total views,  1 views today


Hubertus Heryanto: Kontributor

“Orang-orang kembali ke keramaian: pasar menjadi ramai, jalanan kembali macet, kafe-kafe menyalakan lampu menyambut para pengunjung, para pedagang menjajakan dagangan penuh semangat dan tempat-tempat umum lainnya kembali terisi. Anehnya, mereka yang terlibat dalam keramaian ini kebanyakan “berpenampilan” santai: tanpa masker dan tanpa menjaga jarak fisik; padahal pandemi Covid-19 belum sepenuhnya teratasi serta korban yang terinfeksi virus ini semakin bertambah. Ironisnya keramaian-keramaian yang kembali tercipta ini berbanding terbalik dengan mereka yang berada di garda terdepan memerangi bahaya Covid-19. Di sana, di rumah sakit-rumah sakit, tenaga medis masih berjuang melawan virus ini. Jumlah mereka sangat minim. Mereka menghabiskan waktu merawat pasien yang kalau tidak diperhatikan (mungkin) akan kehilangan nyawa dan kehidupannya.

            Narasi di atas kelihatannya bombastis dan mungkin dilebih-lebihkan. Akan tetapi dalam kenyataannya, fenomena ini benar-benar terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Salah satu hal yang memunculkan keramaian-keramaian yang sebetulnya belum bisa diperbolehkan begitu saja adalah lahirnya salah kaprah dalam memahami istilah New Normal dan penerapannya.  Oleh karena itu sebelum melihat lebih jauh tentang salah kaprah tersebut, pertama-tama kita membahas secara singkat tentang makna New Normal.

New Normal adalah adanya tatanan hidup baru di tengah masyarakat yang ditandai dengan upaya untuk meningkatkan gaya dan pola hidup sehat. Di tengah pandemi Covid-19 gaya hidup sehat mestinya diwujudkan dalam praksis yang sejalan dengan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah dan dinas kesehatan. Misalnya, mencuci tangan sesering mungkin, terutama sebelum dan sesudah makan atau sesaat setelah menyentuh dan memegang benda-benda tertentu, berolahraga secara rutin dan kegiatan yang dapat menjamin kesehatan tubuh lainnya. Selain itu, pemerintah juga menegaskan bahwa dalam menerapkan tatanan baru ini masyarakat hendaknya tetap memperhatikan hal-hal penting, seperti menjaga jarak fisik, memakai masker, memperhatikan etiket batuk dan menghindari kerumunan masa. Tujuan akhir dari penerapan New Normal  atau tatanan baru ini ialah supaya masyarakat kita terhindar dari serangan virus korona.

Penjelasan di atas sekiranya cukup untuk menerangkan apa itu New Normal. Dari penjelasan yang ada, dapat ditemukan bahwa New Normal merupakan sesuatu yang berdampak positif bagi masyarakat bila diterapkan dengan baik dan benar. Hal ini terjadi karena New Normal mendorong setiap orang untuk menjalankan gaya hidup sehat yang mampu menjaga daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang virus mematikan ini. Akan tetapi, segelintir orang mengabaikan protokol kesehatan yang dianjurkan dan belum memahami arti New Normal secara utuh dan benar. Mereka memahami New Normal  bukan sebagai sebuah tatanan baru yang bertujuan untuk menjauhkan mereka dari serangan virus korona, melainkan sebagai situasi normal yang baru, sehingga masyarakat boleh beraktivitas seperti semula dan bertindak seolah-olah wabah telah selesai. Jelas hal tersebut adalah pemahaman yang keliru dan keluar dari perasan otak yang tak kritis. Pemahaman yang keliru ini kemudian  membuat masyarakat yang selama ini merindukan keramaian menceburkan diri di dalamnya dan mengabaikan begitu saja protokol kesehatan serta pola hidup sehat. Singkatnya, kesalahpahaman ini membuat masyarakat hidup dalam bingkai narasi pembuka di atas.

Kesalahpahaman akan arti New Normal memperkuat pendapat penulis bahwa keramaian-keramaian yang tercipta di tengah pandemi tanpa melihat apa dampaknya, bermula dari interpretasi yang kurang tepat.  Karena itu, pemerintah atau pun masyarakat yang lebih paham tentang istilah dan penerapan New Normal berkewajiban untuk mensosialisasikan istilah ini ke khalayak umum, baik memanfaatkan sosialisasi daring (media sosial) atau blusukan dengan masuk ke setiap wilayah dan tempat tinggal masyarakat.

Tujuan sosialisasi tersebut ialah agar kita semua, masyarakat sebangsa, memahami dengan baik istilah dan penerapan New Normal, serta memahami dengan baik setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terutama dalam dan selama masa pandemi ini. Jika hal ini diabaikan, tidak dapat disangkal bahwa jumlah kasus dan penyebarannya akan semakin meningkat. Lebih dari itu, pengabaian terhadap protokol kesehatan bisa saja membuat satu dari sekian banyak masyarakat kita kehilangan hidupnya. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi akan paham New Normal secara sistematis dan mendalam akan menyelamatkan Bumi Pertiwi ini.

Tujuan sosialisasi ialah agar kita semua, masyarakat sebangsa, memahami dengan baik istilah dan penerapan New Normal

Selanjutnya, sosialisasi ini juga sangat penting karena dapat menurunkan jumlah korban jiwa di Tanah Air.  Sebab, sungguh aneh jika ada yang terjangkit virus dan meninggal hanya karena ia salah mengartikan New Normal. Selain itu menurut penulis, meskipun bukan alasan satu-satunya, kesalahpahaman ini turut berperan dalam peningkatan jumlah korban virus Korona saat ini. Mengetahui kesalahpahaman akan arti New Normal dalam praksis masyarakat Indonesia, sosialisasi terkait mesti digalakkan terus menerus, sehingga melahirkan kesadaran yang mendalam bagi segenap masyarakat, sehingga dalam praktiknya akan sejalan dengan pemahaman yang baik dan bijak. Oleh karena itu, sebelum terlambat dan sebelum salah kaprah ini melahirkan kluster baruCovid-19, sudah selayaknya hal ini diperhatikan dan bahkan dipertimbangkan baik oleh masyarakat dan pemerintah sebagai penanggung jawab utama.

Akhirnya, semoga ulasan sederhana ini mampu menyadarkan kita akan bahaya besar dibalik kesalahan kecil, termasuk salah tafsir akan suatu istilah dan kebijakan New Normal di Indonesia. Selain itu, semoga pemahaman kita yang keliru tidak membuat kita berpangku tangan dan berlaku tidak solider dengan tenaga medis yang tengah berjuang di garda terdepan melawan pandemi ini. Kita seharusnya menyuarakan arti New Normal yang  benar di media sosial dan mengulurkan tangan sebisa mungkin untuk membantu sesama. Inilah tanggungjawab moral kolektif sebagai Homo Socius, manusia sebagai makhluk sosial.

Gambar:https://id.pinterest.com/

2 thoughts on “Salah Kaprah Memahami “New Normal”

  1. Kenyataannya selama ini new normal diartikan sebagai menjalankan kehidupan normal kembali. Tempat-tempat keramaian sudah ramai dikunjungi, seperti pasar, terminal, pertokoan, obyek wisata dll yang dianggap sebagaimana sebelum pandemi. Orang seenaknya tdk pakai masker, seenaknya berkerumun dan tidak jaga jarak, belum lagi minum arak pake sistem bandar. Lebih lucu lagi mengendarai kendaraan roda dua tdk pakai helm dan tdk pakai masker. New normal sdh disalahartikan. Tulisan ini mudah-mudahan beri pemahaman baru soal arti sesunghuhnya new normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.