Salam Literasi, Kabupaten Literasi

literasi yang membentuk warna, senyum, dan hatimu (foto; Dokumentasi pribadi)

 396 total views,  2 views today


Itok Aman|Redaksi

Di era digital ini, saat kumpul dan berdiskusi atau hanya obrol hal-hal yang remeh-temeh sekalipun, Anda bakal dicap tak keren bila tak tahu apa itu literasi. Seseorang akan merasa dirinya keren jika mampu ikut nimbrung saat bicara soal literasi, walaupun pada dasarnya dia tidak begitu paham apa itu literasi. Untuk itu, beberapa orang datang menjawab persoalan tersebut. Menggaungkan literasi ke tengah masyarakat.

Orang-orang yang bergerak atas nama literasi ini mulai menjamur di masyarakat, di tengah-tengah kita. Ada yang bergerak secara perorangan, ada yang berkelompok mengatasnamakan grup ataupun komunitas. Tentu, ini efek positif dari hadirnya media digital.

Harapan saya sebagai masyarakat yang awam akan dunia literasi, semoga kaum-kaum literat ini bukan seperti ibu-ibu yang tengah berbaris mencari kutu namun tak henti-hentinya bergosip menjelekkan orang yang lain. Akan tetapi, mereka hadir seperti sebuah senapan angin. Literasi adalah pelurunya, kerja kolaboratif ialah pompa untuk menghasilkan angin pendorongnya, penggerak literasi itu sendiri sebagai penembaknya, kemudian mencari “apa” sebagai objek atau sasaran tembakannya.

Berbicara literasi, berbicara hal yang luas. Bukan hanya tentang membaca ataupun menulis. Sebagai penembak, apa sasaran kita? Sebagai penggerak literasi, apa visi-misi kita? Tentu, setiap orang yang bergerak di bidang ini-itu punya tujuan dan sasarannya masing-masing.

Semoga, kaum literat itu bergerak di bidangnya tanpa menjatuhkan kelompok atau individu literat yang lainnya namun bersinergi untuk mencerdaskan bangsa dengan tujuannya masing-masing. Dengan sasaran tembaknya masing-masing. Sebab setiap pergerakan baik memiliki segmennya masing-masing yang tentu dengan tujuan yang baik pula. 

Dan, akan sangat berbahaya laksana bencana besar-besaran apabila penggerak literasi ini hadir dalam bentuk sebuah konsep proyek money oriented. Maka sebagai awam; bukan literasi yang saya sesalkan, tetapi kebutuhan dompet yang saya tangisi.

Mari berefleksi, apa sebenarnya tujuan kita berliterasi? Mencerdaskan bangsa? Menciptakan ladang uang? Atau sekadar pencitraan untuk semata-mata mencapai kepopularitasan diri?

Sekadar sharing, saat Kabupaten Manggarai Timur ditetapkan sebagai kabupaten literasi oleh Bupati Manggarai Timur dan Media Pendidikan Cakrawala NTT pada Senin (03/05/2021), sebuah kebanggaan besar bagi masyarakat Manggarai Timur terlebih khusus di kalangan pegiat dan pencinta literasi itu sendiri. Kebanggaan itu datang bersamaan dengan kecemasan. Bangga menjadikan Manggarai Timur sebagai kabupaten literasi di NTT, cemas apabila penggerak literasi Manggarai Timur tidak menunjukkan bahwa kabupatennya benar-benar sudah literer sesuai status yang dikukuhkan itu.

Tentu masyarakat dan penggerak literasi di Manggarai Timur sendiri berharap ada kerja sama antara setiap penggerak dengan Pemda Matim dalam upaya pembuktian bahwa Manggarai Timur benar-benar sudah layak disebut Kabupaten Literasi. Bukan malah berebutan posisi individu, komunitas, namun lupa mengedepankan visi-misi literasi di tengah masyarakat. Sebab literasi bukan proyek yang menciptakan ladang uang atau hanya mengejar popularitas tetapi literasi dalam cakupan luasnya sebagai pembangunan sumber daya manusia yang maju.

Atau bagaimana, Gengs?

Oiya, jangan resah ketika kemarin kalian (penggerak literasi Manggarai Timur) tak diundang saat acara pengukuhan Kabupaten Literasi yang berlangsung di depan kantor bupati itu, ya. Wkwk..! Tetapi tetap semangat untuk bergerak sebab tujuan utama kita memajukan Manggarai Timur dalam literasi, bukan?

Untuk giat literasimu,

Semangat tak luntur,

Loyo tak mati wafat kutu.

Selamat,

Salam Literasi, Kabupaten Literasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.